Jumat, 28 Jul 2017
radarjogja
Pendidikan

Bertato dan Bertindik Tetap Berhak Sekolah

Kamis, 06 Jul 2017 15:24 | editor : Jihad Rokhadi

JOGJA– Keberadaan calon siswa SMA/SMK yang memiliki tubuh bertato atau tindik di telinga memicu polemik. Itu setelah Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIJ menetapkan setiap sekolah harus mau menerima siswa dengan tato atau lubang anting telinga. Hal itu tertuang dalam petunjuk teknis (juknis) penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ajaran 2017/2018.

Aturan tersebut terutama ditujukan bagi sekolah yang selama ini menolak siswa bertato dan bertindik. Kepala Sekolah SMKN 1 Jogja Sentot Hargiargi mengungkapkan, juknis PPDB 2017 sebenarnya hanya soal tes khusus buta warna bagi calon siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) jurusan tertentu. Namun, kepala Disdikpora memberikan kebijakan di luar juknis mengenai calon siswa bertato dan bertindik tersebut.

Menurutnya, sekolah yang menerapkan larangan siswa bertato atau bertindik diminta membuat dispensasi. Misalnya, letak gambar tato di bagian tubuh tertentu yang tertutup baju seragam. “Seandainya ada tato tetap diawasi dan dibina agar tidak menambahnya di bagian tubuh lain,” ujar Sentot yang juga wakil ketua Forum Kepala Sekolah se-DIJ kemarin (3/7).
Kebijakan tersebut ternyata menuai kritik sebagian penyelenggara SMK bidang teknik industri.

Kepala Sekolah SMKN 3 Jogja Bujang Sabri mengaku, pihaknya tak menutup kemungkinan menerima siswa bertato atau bertindik. Namun, dia khawatir tato dan tindik itu justru yang akan menghambat siswa di dunia kerja. “Karena siswa-siswi SMK disiapkan menjadi lulusan siap kerja. Perusahaan industri selalu mewajibkan calon karyawan tidak bertato dan bertindik,” ingatnya.

Bujang membenarkan adanya perundingan dengan kepala Disdikpora DIJ terkait kebijakan itu. Hasilnya, siswa-siswi bertato dan bertindik diharapkan bisa berwirausaha setelah lulus. Karena itu, mereka butuh pendidikan keterampilan di SMK. Hanya, berdasarkan data yang diketahui Bujang, hanya 30 persen lulusan SMK yang memilih berwirausaha. Sisanya bekerja di industri.

Menurut Bujang, kebijakan baru tersebut tidak begitu menjadi masalah jika diterapan di SMA. Alasannya, sebagian lulusan SMA punya peluang lebih terbuka untuk melanjutkan kuliah.

Dari pantauan Radar Jogja, dari total 640 kuota, sebanyak 399 pendaftar SMKN 3 Jogja telah menjalani tes wawancara dan fisik. “Sejauh ini kami belum temukan siswa bertato atau bertindik,” ungkap Faiz Mudhokhi, panitia PPDB bagian informasi.
Faiz menyatakan, kriteria penerimaan siswa di antaranya tidak buta warna dan memenuhi syarat nilai akademis yang ditentukan.

(rj/ong/ong/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia