Sabtu, 29 Jul 2017
radarjember
Features
Ini Si Ahli Bahasa Isyarat

Sempat Keteteran Terjemahkan Bahasa Bidang TI

Selasa, 11 Jul 2017 21:04 | editor : HARI SETIAWAN

TUGAS SPESIAL: Randi Dwi Anggriawan (kanan/baju hitam) sering jadi penerjemah dari sang pembawa acara (kiri) pada acara halal bihalal dan diskusi publik yang digelar Perpenca Jember, kemarin.

TUGAS SPESIAL: Randi Dwi Anggriawan (kanan/baju hitam) sering jadi penerjemah dari sang pembawa acara (kiri) pada acara halal bihalal dan diskusi publik yang digelar Perpenca Jember, kemarin. (Adi Faizin/Radar Jember)

Pemuda berkacamata itu tampak sibuk berdiri sembari menggerakkan jemari tangannya di salah satu acara pertemuan disabilitas yang digelar di aula PC NU Jember kemarin. Tak tampak kelelahan, meski dia harus berdiri dan menggerakkan tangannya dengan atraktif sepanjang acara.

Padahal, pertemuan bertajuk halal bihalal dan diskusi publik bertema pembahasan rancangan Perbup Disabilitas itu, berlangsung sejak pukul 08.00 dan baru selesai sekitar pukul 13.00 WIB.

          “Ini masih mending mas, karena bahasa yang digunakan tidak terlalu berat. Jadi saya menerjemahkannya tidak terlalu susah,” tutur Randi Dwi Anggriawan, pemuda berkacamata itu, mengawali perbincangan dengan Jawa Pos Radar Jember, seusai menjadi penerjemah bahasa isyarat pada acara yang digelar oleh Perpenca (Persatuan Penyandang Cacat) Jember tersebut.

          Sejak beberapa tahun terakhir, Randy memang kerap terlibat dalam berbagai acara komunitas disabilitas di Jember. Hal ini tidak terlepas dari satu keterampilan yang dimiliki Randi, yakni menjadi penerjemah bahasa isyarat untuk disabilitas khususnya tuli.

Sebagai pemerhati dan aktivis disabilitas, Randi mengaku lebih sreg dengan istilah tuli ketimbang tuna rungu. “Teman-teman tuli lebih nyaman dengan sebutan tuli ketimbang tuna rungu. Karena tuna rungu, maknanya lebih pada kondisi sakit yang harus disembuhkan. Padahal, tuli adalah kondisi fisik yang tidak bisa disembuhkan,” jelas Randi memberikan alasan.

          Karena itulah, Randi kerap menyangsikan klaim-klaim penyembuhan tuli yang ditayangkan di beberapa media. Dalam perspektif yang lebih baru, disabilitas menurutnya tidak lagi diperspektifkan sebagai sebuah kecacatan dan ketidakmampuan, melainkan kondisi yang berbeda yang tetap perlu diperlakukan setara, namun sesuai dengan kebutuhan tertentu.

“Kalau misalkan tuli benar bisa disembuhkan, tentu banyak yang berobat. Tapi faktanya, sepanjang yang saya tahu, belum pernah ada yang sembuh dari tuli. Dan itu juga bukan penyakit,” tegas pemuda asal Desa/Kecamatan Mayang, Jember ini.

          Awal tertarik untuk belajar bahasa isyarat -cerita Randi- bermula sejak masih duduk di kelas 5 sekolah dasar. Saat itu, Randi yang bersekolah di SDN Mayang 02 itu melihat teman sekelasnya mahir menggunakan bahasa isyarat, yakni melalui gerakan tangan. Dari situ, mulai tumbuh rasa penasaran terhadap bahasa isyarat. “Saya tanya, kamu kok bisa bahasa seperti itu? Dia jawab, diajarin oleh kakaknya yang jadi guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) Bintoro, Patrang,” kenang Randi.

          Namun, karena ketiadaan fasilitas pengajar membuat keinginan Randi kecil untuk belajar bahasa isyarat itu harus ia pendam selama sekian tahun. Momentum itu tiba saat ia berkuliah di Fakultas Perikanan, Universitas Brawijaya, Malang.

Kala itu, tahun 2013, Randi yang menginjak semester V mengikuti kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diadakan Dirjen Dikti. Salah satu rekannya yang sama-sama mengikuti PKM mempresentasikan sebuah kegiatan sosial dengan menggunakan bahasa isyarat, meski dia bukan termasuk tuli.

“Saya tanya dia, kamu belajar bahasa isyarat itu dari mana? Lantas saya ditunjukkan ke sebuah lembaga di Malang yang punya program pengajaran bahasa isyarat untuk disabilitas, khususnya tuli,” cerita Randi.

          Secara hampir, di kampusnya diadakan pendaftaran mahasiswa untuk menjadi pendamping bagi mahasiswa peserta PSLD (Pusat Studi dan Layanan Disabilitas). Randi menjadi salah satu dari 20 mahasiswa angkatan pertama pendamping PSLD. Program tersebut dibuka oleh Universitas Brawijaya, dengan memberikan kesempatan bagi disabilitas untuk menjadi mahasiswa Universitas Brawijaya, melalui seleksi. Tidak ada kelas khusus bagi mahasiswa disabilitas tersebut, karena mereka berbaur dengan mahasiswa lainnya.

“Nah pendamping tersebut membantu komunikasi mahasiswa disabilitas di kelas. Jumlah pendamping dibuat sama dengan jumlah mahasiswa disabilitas,” tutur lajang kelahiran 1 Agustus 1991 itu.

          Randi cukup “beruntung” karena sebelum mengikuti pendampingan tersebut, ia sempat mengikuti pelatihan bahasa isyarat. Sayangnya, pelatihan tersebut hanya berlangsung dua hari. “Itupun tidak murni belajar bahasa isyarat. Karena saya juga dibekali dengan etika berkomunikasi dengan disabilitas. Jadi bahasa isyarat yang saya pelajari selama dua hari itu masih sangat dasar,” kenang Randi.

          Jadilah, dengan bekal bahasa isyarat yang masih minim itu, Randi langsung diterjunkan untuk mendampingi seorang mahasiswi tuli yang kala itu mulai berkuliah di Jurusan Teknik Informatika Unibraw. Sebenarnya, PSLD mensyaratkan pendamping harus satu fakultas dengan mahasiswa disabilitas yang didampingi.

Tapi berhubung tidak ada relawan di Fakultas Teknik, jadilah dia harus mendampingi mahasiswi tersebut. Selama tiga tahun menjadi relawan di Unibraw, Randi telah beberapa kali berpindah menjadi pendamping di beberapa fakultas.

“Hanya ada tiga fakultas yang belum saya masuki (sebagai pendamping mahasiswa disabilitas, red). Yakni Kedokteran, Peternakan dan Perikanan. Karena kebetulan tidak ada mahasiswa disabilitas di sana,” tutur putra pasangan Sudjono dan Ririn Pristiyani yang bekerja sebagai buruh bangunan dan ibu rumah tangga di Desa Mayang tersebut..

          Saat hari pertama menjadi pendamping mahasiswi disabilitas di jurusan TI, Randi cukup keteteran. Dengan bekal bahasa isyarat yang masih minim, ia harus mampu menerjemahkan penjelasan dosen yang menggunakan istilah-istilah di bidang TI ke dalam bahasa isyarat lewat gerakan tangan.

Semula, Randi menggunakan tulisan di keras untuk menjelaskan materi sang dosen ke mahasiswi tersebut. Namun lama-kelamaan, ia tidak bisa mengimbangi kecepatan sang dosen, yang meskipun sudah menurunkan kecepatan bicaranya.

“Akhirnya hari keempat saya maju ke depan untuk menjelaskan dengan bahasa isyarat semampu saya. Agak susah memang, tetapi seiring berjalannya waktu, akhirnya saya bisa menyesuaikan. Karena materinya saya terus pelajari,” ujar anak kedua dari empat bersaudara itu.

          Kunci keberhasilan menguasai bahasa isyarat menurut Randi adalah dengan banyak berkomunikasi dengan komunitas disabilitas, khususnya tuli. Sebab, bahasa isyarat itu diciptakan oleh komunitas tuli itu sendiri. Berkat keuletan dan ketekunannya berinteraksi dengan komunitas tuli, Randi akhirnya mendapatkan pengakuan dari beberapa komunitas disabilitas sebagai penerjemah bahasa isyarat dengan kualitas yang baik.

“Belajar bahasa isyarat itu seperti belajar bahasa asing, harus sering dipraktekkan biar paham. Komunikasi bahasa isyarat yang baik adalah ketika kita bisa ekspresif menerjemahkan bahasa isyarat kepada mereka teman-teman tuli. Saya ekspresifnya juga dengan mimik wajah, sehingga mereka sesekali juga ikut ketawa kalau bahasannya ada nuansa humornya,” jelas pria yang lulus dari SMAN Kalisat tahun 2010 itu.

          Berdasarkan keterangan dari PSLD Universitas Brawijaya, jumlah penerjemah bahasa isyarat yang diakui oleh komunitas, masih terbilang langka. Di Indonesia baru ada 30 orang. “Itu pun tidak semuanya aktif menjadi penerjemah, karena antusiasmenya berbeda. Di kota besar seperti Surabaya saja tidak ada,” tutur Randi.

          Karena itu, Randi sangat berharap agar pemerintah juga menggiatkan pelatihan penerjemah bahasa isyarat agar semakin banyak penerjemah bahasa isyarat berkualitas di Indonesia. “Saya pikir pelatihan keterampilan untuk disabilitas itu baik, untuk memandirikan mereka. Tetapi itu saja tidak cukup. Harus juga digalakkan pendidikan dan perluasan akses informasi bagi mereka,” harap Randi.

          Selain itu, Randi juga berharap masyarakat memiliki perspektif baru, terkait disabilitas. Perspektif itu seiring dengan konsep inklusi atau penyetaraan dari disabilitas ke masyarakat umum.

“Jadi mereka tidak perlu dikasihani. Tapi memberikan mereka ruang untuk berkarya dan mengembangkan diri agar mereka menjadi setara. Karena itu, syarat menjadi volunteer seperti saya, salah satunya adalah harus menghilangkan rasa iba atau charity ,” tutur alumnus jurusan Sosial Ekonomi Perikanan Unibraw tersebut.

          Setelah lulus kuliah tahun 2015 lalu, Randi langsung banyak diajak bergabung dengan banyak komunitas disabilitas di Jember. Hal ini tidak lepas dari keahlian langka yang dimilikinya. “Seperti ada dorongan dalam jiwa saya untuk terus bersama mereka. Karena mereka menyatakan membutuhkan saya. Padahal, saya belum banyak tahu, dan tidak banyak berbuat untuk mereka, cuma menerjemahkan saja,” papar Randi.

          Salah satu pengalaman menerjemahkan yang paling dirasa sulit bagi Randi adalah ketika diminta mendampingi komunitas disibilitas untuk mengikuti hearing (dengar pendapat) di DPRD Jember, tahun lalu. Saat itu, mereka diundang legislator guna memberikan masukan terkait janji bupati Faida yang baru akan dilantik, untuk memenuhi hak-hak disabilitas di Jember.

“Sulitnya karena bahasa yang digunakan saat itu cukup tinggi, banyak istilah-istilah hukum dan politik. Itu jadi tantangan tersendiri bagi penerjemah untuk menerjemahkannya dalam gerakan tangan,” cerita pria yang terlibat dalam beberapa gerakan sosial tersebut.

          Karena itu, Randi berpesan kepada masyarakat yang mengadakan komunikasi dengan disabilitas, agar bisa lebih menurunkan tingkat bahasanya. “Akan lebih bagus lagi kalau sebelumnya disiapkan semacam makalah atau tulisannya. Karena itu mempermudah komunikasi dan penerjemahan,” pungkas Randi.  (hdi)

(jr/ad/har/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia