Jumat, 28 Jul 2017
radarjember
Features
Ferry Selangkah Jelang Final Pilmapres

Masuk 16 Besar dari 146 Mahasiswa, Yakin Bisa Bersaing

Senin, 10 Jul 2017 11:10 | editor : HARI SETIAWAN

POTENSIAL: Ferry Fitriya Ayu Andika (paling kiri) ketika dinobatkan sebagai mahasiswa berprestasi dari Fakultas Kedokteran Universitas Jember.

POTENSIAL: Ferry Fitriya Ayu Andika (paling kiri) ketika dinobatkan sebagai mahasiswa berprestasi dari Fakultas Kedokteran Universitas Jember. (Ferry for Radar Jember)

Nama Ferry Fitriya Ayu Andika memang sudah tidak asing lagi di telinga kalangan civitas akademika Universitas Jember. Gadis kelahiran 17 Februari 1996 ini sudah beberapa kali membawa nama Unej dalam berbagai kompetisi di beragam jenjang, mulai dari provinsi, nasional, hingga internasional. Beberapa karyanya, antara lain, aplikasi permainan edukatif bertajuk Monitoring of Sexual Tutelage and Education of Reproduction atau MONSTER, yang beberapa waktu lalu dirilis ke publik.

Prestasinya tak terhenti sampai di sana saja. Perempuan yang akrab disapa Ayu ini saat ini juga tengah berjuang membawa nama Universitas Jember untuk bersaing dengan perguruan tinggi ternama nasional, dalam Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) 2017. “Alhamdulillah saat ini sudah lolos 16 besar dari 146 perguruan tinggi yang mengirimkan wakilnya,” tuturnya.

Prestasi Ayu juga tak terhitung lagi jumlahnya. Baik di tingkat daerah, nasional, hingga internasional. Terakhir dirinya mengikuti kompetisi esai di Thailand, namun masih belum berhasil menyabet gelar jawara.

Mahasiswi semester tujuh Fakultas Kedokteran ini didapuk sebagai wakil Unej setelah melewati serangkaian proses seleksi. Berawal dari seleksi fakultas, yang diikuti oleh lima mahasiswa FK. “Tes awalnya seleksi administrasi dan presentasi karya tulis ilmiah (KTI). KTI saya mengangkat tentang upaya preventif pencegahan rokok,” terang Ayu.

Tak dinyana, melalui karya tulisnya ini Ayu berhasil lolos sebagai juara pertama, dan menjadi wakil FK dalam Pilmapres Unej. Dirinya mengaku pada tahap ini seleksinya menjadi semakit berat. “Soalnya ditambah dengan psikotes, wawancara prestasi, dan debat bahasa Inggris lawan mahasiswa fakultas lain,” lanjutnya.

Namun, berkat ketekunan dan keseriusannya, bungsu dari tiga bersaudara ini berhasil lolos sebagai mahasiswa terbaik dan berhak mewakili Unej dalam seleksi lanjutan. Tercatat 146 perguruan tinggi terdaftar dalam seleksi lanjutan yang diadakan bulan lalu. Ayu juga berhasil masuk ke grand final, lolos ke babak seleksi tahap akhir yang menyisakan 16 mahasiswa.

Di seleksi tahap akhir inilah kompetensi Ayu diuji. Dirinya bahkan sempat gugup dan khawatir, sebab lawan-lawannya tak bisa dipandang sebelah mata. “Ada yang dari Universitas Indonesia Jakarta, Institut Pertanian Bogor, Universitas Airlangga Surabaya, Universitas Udayana Bali, Universitas Hasanuddin Makasar, dan banyak perguruan tinggi negeri lain yang sudah punya nama,” akunya.

Menjadi wakil dari Jember, secercah keraguan akan eksistensi sempat muncul dalam benak mahasiswi asal Lamongan ini. “Kali ini jauh lebih nervous dari kejuaraan-kejuaraan sebelumnya. Soalnya peserta yang lain sepertinya lebih baik dari saya, dan saya merasa kecil sekali. Semuanya menjadi lawan yang sangat berat,” ujarnya.

Namun, Ayu berupaya memotivasi dirinya agar tak merasa rendah. Baginya, apa pun bisa terjadi selama perlombaan. “Kita sama-sama mahasiswa, sama-sama punya niat dan tujuan untuk berjuang. Yang membedakan itu doa dan usaha semaksimal mungkin agar bisa mengimbangi mereka,” tegas gadis berhijab ini.

Jelang seleksi akhir di Surabaya pekan depan, tak ada persiapan khusus yang dilakukan oleh Ayu. Selain mental, dirinya juga mematangkan konsep KTI serta kemampuan bahasa Inggrisnya.

Pencapaiannya di titik ini bukan berawal dari waktu yang sebentar. Sejak duduk di bangku sekolah, Ayu kerap menyabet trofi juara. Bahkan keputusannya untuk kuliah di Universitas Jember pun juga datang dari kompetisi yang dia ikuti waktu masih berseragam putih abu-abu.

“Dulu saya pernah ikut kompetisi esai di Unej. Terus, kok seneng sama lingkungan dan suasananya di sini. Akhirnya saya bertekad untuk kuliah di sini, meskipun harus jauh dari keluarga. Saya pikir, kalau sudah dapat ‘tiket’ juara satu kompetisi ini, mungkin bisa lebih mudah diterima. Alhamdulillah bisa lolos SNMPTN tahun 2014 lalu,” kenangnya.

Tak ada intensi khusus dalam sepak terjangnya mengikuti berbagai kompetisi. Impiannya sederhana: hanya ingin menjadi motivator bagi rekan-rekan mahasiswa lainnya. “Saya ingin menjadi salah satu mahasiswa yang dapat menginspirasi mahasiswa lainnya. Selain itu juga bisa menambah ilmu dai saling sharing dengan delegasi kampus lainnya,” pungkasnya.

(jr/lin/har/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia