Kamis, 17 Aug 2017
radarbromo
Hukum & Kriminal

Korban Penipuan Pasutri dengan Modus CPNS Bertambah

Sabtu, 12 Aug 2017 08:00 | editor : Muhammad Fahmi

LAPORAN: Para korban penipuan modus dijanjikan CPNS saat melapor ke Polres Probolinggo, Jumat (11/8). (Arif Mashudi/Jawa Pos Radar Bromo)

KRAKSAAN - Daftar korban penipuan modus rekrutmen CPNS yang dilakukan Reza, 47 dan Umila, 41 bertambah. Tak tanggung-tanggung, Jumat (11/8), ada enam korban yang melapor ke Mapolres Probolinggo.

Dengan begitu, total ada 7 korban yang melaporkan pasutri asal Jalan Suyoso, Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo itu. Total kerugian mencapai Rp 294.100.000.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo menyebutkan, para korban melaporkan kasus penipuan CNPS setelah muncul laporan dengan pelaku yang sama. Seluruh korban merupakan warga Kabupaten Probolinggo.

Yakni Titi Murni, warga Dusun Banjar, Desa Randupitu, Kecamatan Gending, kerugian Rp 45 juta; Fathur Rosida, warga Dusun Krajan, Desa Pegalangan Kidul, Kecamatan Maron, kerugian Rp 32 juta; Anis Sundari, warga Dusun Banjar, Desa Randupitu, Kecamatan Gending, kerugian Rp 44,5 juta.

Selanjutnya, Salin Sulastro, warga Dusun Krajan, Desa Tamansari, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, kerugian Rp 86 juta; Arik Safitri, warga Desa Sebaung, Kecamatan Gending, kerugian Rp 20 juta; serta Aliman, warga Desa Tamansari, Kecamatan Dringu, kerugian Rp 35.650.000.

Sebelumnya, Sujito, 63, warga Desa Sukokerto, Kecamatan Pajarakan melapor lebih dulu. Ia mengaku, merugi Rp 30.950.000.

Titi, warga Desa Randupitu, Kecamatan Gending mengatakan, ia mengenal tersangka pada September 2016 lalu. Saat mendengar informasi jika pelaku bisa meloloskan seseorang menjadi CPNS, Titi kemudian mendatangi rumahnya.

Kebetulan, anaknya berhenti dari pekerjaan sebelumnya. Karenanya, ia berharap anaknya bisa dinas di Pemkab Probolinggo. “Diminta awalnya Rp 1 juta untuk formulir. Setelah beberapa hari, minta lagi Rp 5 juta dan disusul Rp 15 juta. Semua uang itu diserahkan di rumahnya,” katanya.

Selang beberapa pekan kemudian, pelaku kembali meminta uang Rp 20 juta. Duit itu sebagai jaminan agar anak korban diangkat sebagai CPNS di bulan Desember 2016.

“Minta lagi Rp 20 juta, saya sanggupi kasih di SPBU Curahsawo Rp 10 juta dan tambah di bakso SPBU Rp 10 juta,” terangnya. Korban percaya karena pelaku mengaku orang dekat pendapa.

Namun, janji tinggallah janji. Hingga 2016 lewat, janji itu tidak kunjung terbukti. Januari lalu, tersangka kembali meminta uang Rp 4 juta untuk pengambilan SK. Permintaan ini lagi-lagi disanggupi korban.

“Jelang Lebaran saya mulai curiga dan dengar kabar ada penipuan CPNS itu. Akhirnya, saat minta uang lagi saya tidak berikan. Terus dapat kabar kalau pelaku ini sudah ditangkap,” terangnya.

Hal serupa juga dialami Anis Sundari. Ia mengaku tertarik untuk bisa menjadikan kedua keponakannya menjadi anggota Satpol PP. Duit Rp 44,5 juta miliknya pun amblas. “Kami sudah sempat meminta uang itu kembali. Tapi, pelaku tetap menjanjikan dan menyanggupi untuk bisa diangkat. Bahkan, ditunjukkan SK pengangkatan yang ternyata palsu,” terangnya.

(br/mas/mie/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia