Senin, 21 Aug 2017
radarbromo
Hukum & Kriminal

Iming-imingi CPNS, Pasutri Ini Tipu Guru TK

Jumat, 11 Aug 2017 06:10 | editor : Muhammad Fahmi

DIPERIKSA: Reza dan Umila saat diminta keterangan penyidik Polres Probolinggo, Kamis (10/8). (Arif Mashudi/Jawa Pos Radar Bromo)

KRAKSAAN - Pasangan suami-istri (pasutri) Reza, 47 dan Umila, 41, warga Jalan Suyoso, Kota Probolinggo, harus berurusan dengan penyidik Polres Probolinggo. Kamis (10/8), pasutri ini diamankan setelah disangka melakukan penipuan bermodus pengangkatan menjadi calon pagawai negeri sipil (CPNS).

Pasutri itu diamankan di sebuah SPBU di Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, sekitar pukul 10.00 WIB. Yang jadi korbannya adalah Sujito, 63, warga Desa Sukokerto, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo. Kepada polisi, korban mengaku mengalami kerugian sekitar Rp 31 juta.

Kasat Reskrim Polres Probolinggo, AKP Hariyanto Rantesalu mengatakan, kedua tersangka diamankan karena diduga sebagai pelaku penipuan dengan bermodus CPNS. Kejadian itu bermula saat beberapa waktu lalu kedua tersangka datang ke Pasar Pajarakan. Di sana, mereka mencari temannya bernama Kholili.

Namun, kedua tersangka tidak menemukannya. Saat itu, kedua tersangka bertemu dengan korban dan terlibat perbincangan. Sampai akhirnya korban bercerita tentang anaknya Novi yang sudah sekitar 15 tahun menjadi guru sukwan di sebuah taman kanak-kanak (TK). Tapi, belum juga diangkat menjadi CPNS.

“Saat awal bertemu itu, kedua tersangka menawarkan dan mengiming-imingi bisa membantu proses pengangkatan CPNS,” ujar perwira polisi dengan tiga setrip di pundaknya itu.

Hariyanto mengatakan, saat itu juga kedua tersangka mengajak Novi ke Kota Probolinggo, mengambil berkas. Kedua tersangka juga meminta uang Rp 250 ribu untuk transportasi dan blangko. Ditambah Rp 200 ribu untuk mengurus petugas penjaga Pendapa Kabupaten Probolinggo.

“Setelah dari Kota Probolinggo, tersangka mengantarkan korban ke Pajarakan. Sepulang dari Kota Probolinggo, tersangka meminta uang Rp 4,5 juta pada korban. Ditambah Rp 1 juta untuk baju Korpri. Uang Rp 4,5 juta itu diminta supaya SK segera turun,” jelasnya.

Beberapa hari kemudian, kata Hariyanto, tersangka Reza bersama istrinya kembali meminta uang Rp 25 juta. Alasannya, untuk pengurusan langsung CPNS. Ternyata, korban juga memenuhinya. “Setelah tersangka menerima uang Rp 25 juta itu, kedua tersangka ini menghilang dan tidak pernah bisa dihubungi,” ujarnya.

Nah, Rabu (9/8) lalu, kata Hariyanto, kedua tersangka kembali menghubungi korban. Mereka minta maaf karena ada kendala dan meminta uang lagi Rp 6 juta. Saat itulah, korban lapor polisi dan menjebak pelaku.

Sementara, tersangka Umila mengaku tidak tahu menahu soal penipuan dan uangnya. Katanya, selama ini yang melakukan suaminya. “Saya tidak tahu,” ujarnya. Sedangkan, Reza membantah menipu korban. Bahkan, tersangka mengaku sama sekali tak pernah menerima uang dari korban. “Tidak ada uang yang saya terima,” ujarnya.

(br/mas/mie/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia