Jumat, 18 Aug 2017
radarbromo
Features

Cerita Keluarga Pesinden asal Kota Pasuruan

Belajar Otodidak, Kemampuan Diturunkan ke Anak

Sabtu, 05 Aug 2017 12:32 | editor : Muhammad Fahmi

TRIO: Dari kiri ke kanan, Endah, Lina, dan Rusimin, satu keluarga yang sama-sama mahir melantunkan langgam Jawa.

TRIO: Dari kiri ke kanan, Endah, Lina, dan Rusimin, satu keluarga yang sama-sama mahir melantunkan langgam Jawa. (Muhamad Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

Menjadi pesinden bukan hal mudah. Butuh kemampun mengolah suara sekaligus memahami maknanya. Di era modern saat ini, sangat jarang seseorang menekuninya. Apalagi ketika kemampuan itu diturunkan pada anak-anaknya.

Di pelataran Gedung P3GI Kota Pasuruan pagi itu, sayup terdengar suara merdu yang menyanyikan lagu berbahasa Jawa. Bukan sekadar lagu biasa yang dilantunkan. Akan tetapi, sebuah langgam Jawa untuk prosesi pernikahan. Semakin merdu karena nyanyian itu diiringi gamelan.

Begitu memasuki salah satu gedung di ujung selatan, tampak tiga orang tengah menggenggam mikrofon. Harmonisasi suara ketiganya enak didengar. Siapa sangka, ketiganya merupakan satu keluarga, yakni suami, istri, dan anak. Yakni, pasangan Rusimin dan Endah Tyas Ratnawati, serta anak ketiganya, Afasilina Retno Widyaningrum.

Terlahir dari keluarga Jawa, Endah memang telah menjadi sinden sejak 1985. Di usianya yang masih terbilang muda itu, Endah mempelajari seluk beluk tentang dunia sinden. Menariknya, ia berlatih secara otodidak.

Ia memulai latihan dengan sejumlah koleksi kaset album kumpulan langgam Jawa miliknya. Hampir setiap hari, Endah selalu meluangkan waktunya untuk berlatih. Ia harus pintar-pintar membagi waktu. Pasalnya, selain sebagai ibu rumah tangga, Endah juga aktif sebagai guru di SD Negeri 1 Mandaran.

“Awalnya, saya ikuti macam-macam langgam dari kaset. Ya, cukup sulit memang, karena langgam Jawa memiliki khasnya sendiri,” ungkap Endah. Seiring waktu, ia pun perlahan dapat melantunkan langgam Jawa layaknya sinden. Selanjutnya, Endah mempelajari makna dari langgam-langgam Jawa itu.

Sebagai seorang siden, Endah memang tak hanya dituntut bisa bernyanyi. Akan tetapi, penghayatan makna juga harus dikuasai. Sebab, setiap langgam Jawa yang dilantunkan, memiliki makna tersendiri. Seperti lagu Laras Mulyo, yang dinyanyikan saat ketiganya mengisi acara pernikahan.

Nah, aktivitas Endah tersebut, lama kelamaan juga menarik minat Rusimin, suaminya. Saat mengandung anak ketiganya, Afasalina, Rusimin tiba-tiba tertarik untuk belajar nyinden. “Tahun 2001, saya mengandung Lina. Ternyata, suami tertarik dan ingin belajar,” imbuh Endah.

Sejak itu, Rusimin ikut latihan bersama Endah. Tak membutuhkan waktu lama, perwira polisi berpangkat Iptu itu telah mahir melantunkan sejumlah langgam Jawa. Sementara itu, ketertarikan Rusimin terhadap dunia sinden itu, juga nurun ke Afasalina, putri ketiganya.

Lina –sapaan akrab Afasalina – sedikit berbeda dengan ketiga saudaranya yang memiliki kecenderungan hobi dengan alat musik seperti piano. Gadis yang kini berusia 15 tahun itu, memang tumbuh saat ibunya menekuni hobi sebagai sinden. Lina kecil memang kerapkali menemani ibunya berlatih.

Hal itu, membuat Lina juga punya hobi yang sama dengan kedua orang tuanya. Tanpa paksaan, Lina pun mengikuti latihan. “Anak saya yang memang tertarik, akhirnya sering mengikuti latihan,” ujar Endah.

Saat masih duduk di kelas II SD, Lina mulai tampil sebagai sinden cilik. Ia telah dipercaya untuk menjadi salah satu peserta dalam kemeriahan HUT Kota Pasuruan. Bagi Lina, itulah pengalaman pertama yang paling berharga. Kini, Lina pun telah menguasai beberapa tembang.

“Untuk belajar langgam Yen Ing Tawang itu lebih mudah,” akunya. Kendati demikian, Lina mengungkapkan masih ada beberapa langgam yang sulit dipelajari. Salah satunya yaitu Laras Mulyo, langgam Jawa untuk prosesi perkawinan. Itu, memang cukup sulit, kata Lina. Sebab, dibutuhkan nada tinggi.

“Sampai sekarang saya masih belajar,” ujarnya. Ia pun mengungkapkan, apa yang dilakukan ibunya, ia ikuti. Termasuk memahami arti dari langgam-langgam Jawa itu. “Karena bisa menyanyikan saja tidak cukup, harus mengerti makna yang terkandung,” tuturnya.

Sejauh ini, Lina yang duduk di bangku kelas X SMA itu kerap menjadi pusat perhatian kawan-kawannya. Tak jarang, Lina dimintai untuk mengajari kawan sekelasnya untuk nyinden. Tak pelak, sesekali kesempatan saat jam istirahat pun dimanfaatkan Lina untuk mengajari kawannya. “Awalnya mereka tak percaya saya bisa nyinden. Akhirnya, saya disuruh menyanyikan lagunya. Mereka pun tertarik,” jelasnya.

Menjadi sinden, menurut Lina, sebagai wujud kebanggaannya sebagai orang Jawa. Oleh sebab itu, sebagai keluarga sinden, mereka pun cukup bangga bisa melestarikan budaya leluhur itu. Terlebih, menularkannya.

(br/tom/mie/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia