Kamis, 17 Aug 2017
radarbromo
Features

Begini Kondisi Dua Sub Terminal Angkutan Umum di Kota Pasuruan

Senin, 24 Jul 2017 10:30 | editor : Muhammad Fahmi

SEPI: Suasana di Subterminal Pasar Karangketug yang terlihat lengang, Minggu (23/7). (Mokhamad Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Kota Pasuruan memiliki dua terminal untuk tempat pemberhentian angkutan kota (angkot), yakni di Kelurahan Kebonagung, Kecamatan Purworejo serta Kelurahan Karangketug, Kecamatan Gadingrejo. Kondisinya saat ini sering sepi.

SEPINYA terminal itu sudah terlihat sejak pagi hari, Minggu (23/7). Semakin siang, hanya ada segelintir orang yang melintas. Pun demikian dengan angkot. Tak tampak adanya aktivitas sopir menunggu penumpang atau sebaliknya.

Sejumlah sopir memilih untuk rehat sejenak di sebuah warung kopi tidak jauh dari tempat ia ngetem. Dari raut wajah mereka, para sopir tersebut terlihat pasrah. Tak seperti aktivitas di terminal umumnya, seperti rebutan penumpang. Atau suara teriakan kernet yang memanggil penumpang.

“Beginilah kondisi terminal angkot. Angkot kian sepi peminat. Makanya, tak mengherankan kalau tidak ada aktivitas sopir menunggu penumpang di sini,” kata salah satu sopir, Muzakki.

Pria yang kesehariannya mengemudikan angkot line F ini menyebut jika angkot semakin ditinggalkan di Kota Pasuruan. Hal ini bukannya tanpa alasan. Sebab, banyak warga yang memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi seperti motor.

“Apalagi, saat ini banyak becak bermotor (betor) yang masuk kota. Banyak yang memilih naik betor dengan alasan lebih cepat karena tidak perlu ngetem. Jadinya, angkot semakin terjepit,” terangnya.

Kondisi serupa juga terjadi di Terminal Karangketug. Saat Jawa Pos Radar Bromo mengunjungi terminal ini, kondisi terminal tampak lengang. Bahkan, tidak ditemukan satu pun angkot yang ngetem untuk menunggu penumpang.

“Kalau siang, banyak angkot yang langsung putar balik. Jadinya, kondisi terminal ya sepi. Kayak sekarang ini,” terang salah satu pedagang di Pasar Karangketug, Aminah.

Sementara itu, Wakil Ketua Primer Koperasi Angkutan Darat (Primkopanda) Kota Pasuruan Abdur Rozak menjelaskan jumlah angkot di Kota Pasuruan 132 unit. Dari jumlah tersebut, yang masih aktif beroperasi 98 unit. Sisanya, tidak beroperasi karena sepi dan untuk menutupi retribusi dan bahan bakar minyak (BBM) saja tidak mencukupi.

Ada banyak alasan yang menyebabkan angkot kian sepi. Selain banyak warga yang memilih naik motor, juga ada pelanggaran dari mobil penumpang umum (MPU) dengan masuk kota dari arah Kecamatan Pohjentrek dan Kecamatan Grati, menjadi penyebabnya. Ketika jam berangkat dan pulang siswa, banyak yang diambil oleh MPU.

Ia juga mengungkapkan faktor betor yang masuk dari arah Kecamatan Kraton dan ngetem di Terminal Blandongan juga menjadi penyebab. Sehingga, tidak jarang penumpang yang baru turun dari bus, langsung diambil betor.

Lantaran hal inilah, angkot kerap tidak masuk terminal. Sopir angkot biasanya langsung memutar balik saat di simpang empat Kebonagung atau di simpang tiga arah Jalan Gatot Subroto, Karangketug. Bahkan, sejak dua tahun terakhir ini, 3 angkot yakni angkot line H, I, dan B1 tidak lagi beroperasi.

“Angkot kian sepi, sehingga jumlah angkot kian sepi. Hal ini pula yang menyebabkan jarang angkot yang masuk terminal, kecuali saat pagi hari,” terang Rozak.

Ia berharap agar ada perhatian dari pemkot terkait masalah ini. Seperti, pelarangan MPU dan Betor untuk masuk kota sejak pukul 07.00 sampai pukul 19.00. Sebab, jika tidak ada tindakan, dikhawatirkan angkot di Kota Pasuruan hanya tinggal sejarah.

“Dahulu ada janji  pemerintah akan bersikap tegas terhadap kendaraan lain. MPU dan betor tidak boleh masuk kota pada jam-jam tertentu. Inilah yang kami tagih sekarang,” tuturnya.

Sementara itu, Kabid Angkutan Jalan Dishub Kota Pasuruan Samsul Arifin mengakui jika angkot kian kehilangan peminat. Karena itu, Dishub rutin melakukan operasi setiap dua bulan sekali untuk MPU dan Betor yang masuk kota, namun karena keterbatasan jumlah personel, Dishub kerap kecolongan.

“Untuk menyelesaikan persoalan ini, kami memerlukan kerja sama dari pihak terkait seperti Satlantas. Sebab, wewenang untuk melakukan pelarangan adalah milik mereka,” terang Samsul. (riz)

(br/riz/mie/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia