Sabtu, 29 Jul 2017
radarbojonegoro
Features
Semua Atlet Harus Terukur

Susetya Kukuh Kurniawan, Perintis Cabor Bola Tangan di Bojonegoro

Bhagas Dani Purwoko

Senin, 17 Jul 2017 06:00 | editor : Ebiet A. Mubarok

KONTRIBUSI NYATA: Susetya Kukuh Kurniawan merintis cabor bola tangan di Bojonegoro

KONTRIBUSI NYATA: Susetya Kukuh Kurniawan merintis cabor bola tangan di Bojonegoro (Bhagas Dani Purwoko/Radar Bojonegoro)

SUASANA pagi yang sejuk dan terik matahari yang hangat menyentuh kulit. Jalanan pun sudah cukup lengang sekitar pukul 09.00, karena masih musim liburan. Namun, di salah satu sekolah di Jalan Panglima Polim  terlihat lumayan ramai, keluar masuk para calon siswa yang daftar PPDB. Saat memasuki sekolah tersebut terkesan rindang dan luas. Di sana sudah ditunggu oleh guru olahraga muda yang saat itu mengenakan baju batik dan celana warna hitam. Dia adalah Susetya Kukuh Kurniawan, pria tinggi semampai dan ramah ketika mengobrol dengannya.

Kukuh, sapaan akrabnya, merupakan sosok pemuda yang memiliki visi misi serta tanggung jawab untuk kota kelahirannya, yakni Bojonegoro. Dia bukan seorang akademis yang lupa asalnya. Sehingga, sebelum lulus kuliah saja dia sudah memiliki pikiran untuk segera berkontribusi di Bojonegoro. ”Hidup di kota besar lalu mengikuti arus, tentu tidak ada greget-nya, sehingga dengan ilmu yang saya dapat, saya ingin berkontribusi di bidang keolahragaan,” ujar alumnus Unesa jurusan pendidikan kepelatihan dan olahraga 2015 itu.

Usai menuntaskan studi S1, pria kelahiran 13 April 1994 itu langsung berinisiatif mengenalkan cabor bola tangan di Bojonegoro pada 2015. Sebab, saat masih kuliah, dia merupakan salah satu atlet bola tangan yang kerap ikut kejurnas. Sehingga, awal mengenalkan cabor bola tangan penuh dengan kerja keras. 

Dia dibantu oleh beberapa temannya menyebarkan brosur ke sekolah-sekolah di Bojonegoro secara sporadis. Promosi lewat media sosial juga sangat digencarkan olehnya. ”Tantangannnya memang banyak, tetapi seru. Karena tugas saya mengubah anak dari tidak tahu menjadi tahu. Kalau sudah tahu jadi suka, kalau sudah suka jadi kegemaran, dan kalau sudah jadi kegemaran akan menjadi kebutuhan,” ujarnya. 

Jadi, selama proses sosialisasi, Kukuh berusaha menerangkan dengan kalimat yang mudah dipahami oleh seluruh anak-anak sekolah. Sehingga, pada April 2016, Kukuh mampu mengumpulkan masing-masing tim putra putri. Latihan pertama kali di lapangan Polres Bojonegoro. ”Alhamdulillah, tim bola tangan mampu terbentuk dan sejak awal saya terus menekankan pada attitude. Karena, perkembangan yang terus bertahap merupakan poin penting menjadi seorang atlet,” tuturnya.

Klub yang dibentuk oleh Kukuh bernama Bojonegoro Hand Ball Club. Kukuh mengaku, cabor bola tangan terus eksis di Bojonegoro setahun belakangan ini. Mereka kerap membuat pertandingan skala kabupaten. Sehingga, keberadaan cabor bola tangan pun dilirik oleh KONI Bojonegoro. ”KONI Bojonegoro sangat mengapresiasi cabor bola tangan sebagai cabor potensial di Bojonegoro. Sehingga, dalam waktu dekat kami akan bentuk pengcabnya, semoga lekas turun SK-nya,” jelasnya.

Olahraga asal Jerman tersebut memang masih awam di telinga warga Bojonegoro. Namun, Kukuh menjelaskan bahwa teknis permainannya seperti futsal, namun jumlah pemain bola tangan ada tujuh. ”Tujuh pemain itu terdiri dari satu kiper dan enam pemain,” ujarnya. Menggiringnya pun mirip olahraga bola basket, jadi tidak boleh dibawa bolanya, harus di-dribble. Lalu, ukuran lapangannya 40x20 meter. ”Intinya, bola tangan itu nggak kalah seru dengan olahraga lainnya,” tuturnya. Dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, klub putri bola tangan Bojonegoro sudah juara 3 di tingkat kejurprov pada 2016.

Lalu, cabor bola tangan di Bojonegoro juga telah menggelar kejuaraan tingkat kabupaten sebanyak dua kali. Januari lalu bekerja sama dengan Disdik Jatim, kompetisi diadakan di EZ Futsal dan Piala KONI. ”Kami ingin tunjukkan kepada KONI Bojonegoro bahwa memang cabor bola tangan mampu berprestasi hingga ke jenjang nasional,” ujarnya. Dia mengatakan, jadwal latihannya Senin dan Sabtu di lapangan Polres Bojonegoro, lalu Kamis di EZ Futsal.

Sementara itu, Kukuh bersama kawan-kawannya akan membentuk tim untuk sport science. Karena, hingga saat ini dia melatih bola tangan menerapkan banyak metode, salah satunya VO2MAX. VO2MAX adalah volume maksimal oksigen yang diproses oleh tubuh manusia pada saat melakukan kegiatan yang intensif. ”Sehingga, semuanya bisa terukur. Seberapa kuat atlet ini melakukan loncatan, lari, otot lengan, dan sebagainya ada metodenya untuk mengukur. Sehingga, dalam waktu dekat akan bikin rapot untuk atlet-atlet saya,” tuturnya.

Sedangkan bersama kawan-kawannya, Kukuh sekitar dua minggu lalu melakukan tes VO2MAX pada seluruh pemain Persibo Bojonegoro. ”Tes tersebut juga diikuti oleh I Putu Gede dan Jordi Kartiko dan nilai tertinggi diperoleh Ahmad Nuri Fasya dengan skor 56,2,” tutur pria asal Desa Prayungan, Kecamatan Sumberrejo, itu. Dikatakan, I Putu Gede ingin diadakan tes-tes semacam itu lagi kepada seluruh pemain Persibo agar lebih terukur kemampuannya. Sehingga, Kukuh bersama kawan-kawannya masih menggodok sport science tersebut agar mampu memaksimalkan tes-tes yang akan diterapkan. ”Harapan saya sangat besar bagi seluruh atlet di Bojonegoro, karena memang kemampuan atlet harus terukur,” pungkasnya. (*/nas)

(bj/gas/nas/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia