Jumat, 21 Jul 2017
radarbojonegoro
Kolom
Anas Abdul Ghofur

Sekolah Kehidupan

Sabtu, 15 Jul 2017 20:34 | editor : Ebiet A. Mubarok

Anas Abdul Ghofur

Anas Abdul Ghofur

APAKAH sekolah negeri menjamin pendidikan lebih baik? Saya tak sepenuhnya sepakat pendapat tersebut. Fasilitas di sekolah negeri lebih baik. Saya sedikit sepakat. Namun di sekolah negeri belum tentu menjamin pendidikan lebih baik.

Hari-hari ini kita disuguhi antrean calon siswa baru, para orang tua yang mengantar anaknya ke mendaftar ke sekolah baru. Ada kelegaan. Tapi juga sesak dada orangtua yang anaknya belum memperoleh sekolah. Apalagi sekolah negeri. 

Sedangkan di sekolah swasta yang yang favorit. Selain SPP mahal juga pendaftaran sudah ditutup. Eh, tapi adakah sekolah swasta favorit di Bojonegoro? Mungkin ada tapi tak banyak. 

Saya sebenarnya produk sekolah formal swasta. Baru sekolah negeri ketika menginjak bangku kuliah. Sejak sekolah dasar,  saya di madrasah, SMP swasta di Babat, SMA swasta di Solo, dan baru kuliah di UGM.

Apalagi sekolah di pesantren. Saya kira juga pilihan bijak. Ketika masuk SMA, saya langsung memilih ingin masuk pesantren. Bukan sekolah negeri. Bagi saya yang suka traveling, keluar dari rumah itu asyik. 

Maka izinlah ke orangtua agar bisa masuk ke pesantren. Disetujui. Di pesantren saya belajar banyak. Kemandirian. Kebudayaan. Kesenian. 

Bahkan, saya mengenal aksi demo pertama ketika di pesantren. Sungguh. Pada tahun 1996, siapa yang berani aksi demo? Jarang. Tapi saat itu, saya dan kawan-kawan memulainya. Meski hanya aksi demo menentang kebijakan sekolah hehehe.

Usai mimpin aksi demo, digundul bareng-bareng. Wah asyik’kan? Seperti iklan, asyiknya rame-rame. 

Eh salah sendiri, pesantren mengajarkan muhadharah. Semacam latihan orasi. Atau latihan jadi mubaligh. Tampil di atas panggung. Bisa orasi. Bisa ceramah agama. Yang jiwa aktivitis, pelajaran ini jadi ajang orasi. Sebaliknya yang miliki jiwa mubaligh ya jadi ceramah agama.  

Jadi pesantren sebenarnya adalah gejolak awal menyemai pemberontakan. Saya mengenal baik buku, juga dari pesantren. 

Ada pelajaran yang paling saya juga. Yakni, Mahfudhot. Pelajaran nasihat-nasihat dalam bahasa Arab. Khoiru jalisiin fi zamani kitab. Sebaik-baik teman duduk adalah buku. Karena di pesantren, saya tak punya pacar maka saya pun membeli buku untuk teman duduk di taman hehehe. 

Di pesantren, saya membaca karya-karya Rendra, Putu Wijaya, Kahlil Gibran, Nurcholish Majid, Emha Ainuh Najib, Gus Dur, Syafii Maarif. Saya mengenal Kar Marx, Descartes, Nietzhe, Soekarno, Tan Malaka, dan Sjahrir.  

Apakah di pesantren bisa pacaran? Siapa bilang tak bisa. Malah lebih filmis kalau diangkat di layar lebar. Dulu ketika di pesantren, teman-teman yang punya pacar itu punya cara jika mengirim pesan ke santriwati yang jadi pacarnya. 

Sebelum punya masjid, pesantren tempat saya, salat jamaah di gelora olahraga. Nah, santriwan dan santriwati hanya dibatasi tabir kain ketika salat. 

Jika ingin ketemuan, ditulislah pesan dalam secarik kertas, lalu diselipkan di bawah tabir. Si santriwati biasanya sudah punya kebiasaan duduk dimana. Santriwannya pun hapal.

Di pesantren pun saya terjerat film. Tiap ada kesempatan keluar pesantren. Tujuan saya hanya dua tempat. Toko buku dan bioskop. Ke toko buku dulu, baru nonton film. Cari toko buku yang dekat bioskop agar tak ketinggalan nonton film.

Anda pernah nonton artis Inneke Koesherawati saat jadi bom seks film Indonesia? Saya termasuk saksi sejarahnya hehehe.   Di Solo ada biskop UP di Jalan Slamet Riyadi. Hanya di UP film Indonesia diputar. Pada 1990-an adalah era film Indonesia lagi mati suri. Yang masih eksis hanya film-film berbumbu seks. Nah, Inneke inilah pernah menjadi bagian dari sejarah film Indonesia kala itu. 

Jadi, pesantren itu seperti kawah candradimuka. Jangan khawatir dengan tingkah laku anak pesantren. Sejauh apa pun masih ada pengeremnya.           

Saya tak menafikan peran sekolah dan guru, tapi saya menyakini keberhasilan seseorang meraih sukses adalah 100 persen di tangannya sendiri. Bukan orang lain. 

Saya menyakini ini. Mengapa? Karena saya ada sedikit pengalaman. Ketika usai SMA, tujuan saya memang kuliah di UGM. Saya tak mendaftar ke kampus lain. 

Untuk masuk ke UGM, saya harus fokus.  Ikut tes dan menyisihkan ribuan calon mahasiswa lainnya. Lalu, apa yang harus saya lakukan? Fokus belajar. Tiap hari, di kos. Saya belajar naskah soal tes masuk kampus negeri. Saya tentukan belajar. Pagi dan sore. Tiap belajar harus tiga jam. Tak boleh diganggu gugat.   

Saya tak ikut bimbingan tes. Sederhana alasannya. Orang tua tak kuat biayai. Akhirnya saya habiskan waktu di kos hanya fokus belajar. Termasuk belajar cara menjawab naskah soal.

Penting mengetahui jebakan soal. Sehingga, soal tak perlu dijawab atau dikosongi. Nah, ini perlu strategi sendiri. Saya pelajari sendiri. Saya menemukan jawabanya sendiri.   

Hasilnya juga lolos masuk ke UGM. Saat itu, UGM masih sangat sangat murah. Kuliah hanya Rp 225 ribu per semester. Tak ada bayar gedung. Tak ada bayar apa pun. Ya cuma bayar Rp 225 ribu itu saja. 

Tapi sekarang, uang kuliah? Duh makin sulit terjangkau. Kuliah di negeri dan swasta sama saja sekarang. Tak ada beda. Kuliah di negeri hanya menang gengsi saja. Di swasta banyak yang lebih baik. Itu menurut saya lho.

Jadi, sekali lagi, tak perlu down jika tak diterima di sekolah negeri. Masih ada pesantren yang lebih baik. Masih ada sekolah yang jauh lebih baik dari negeri. 

Sekolah hanya ruang saja. Pendidikan yang sesungguhnya adalah belajar dari sekolah kehidupan. (*)      

(bj/nas/bet/JPR)

Rekomendasi Untuk Anda

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia