Sabtu, 22 Jul 2017
radarbojonegoro
Entertainment

5 Wanita Menarik di Bojonegoro

Rabu, 12 Jul 2017 18:09 | editor : M. Abdul Hafid

AGUSTIN PURWITASARI (Dokumen Pribadi)

Agustin Purwitasari tidak pernah merasa minder sama sekali menjadi penjual bakso dan pentol bakar. Sebab, dia merasa pekerjaan yang dijalaninya itu halal dan hasilnya mampu membiayai kuliahnya dan sekolah adik-adiknya. Awal dia memutuskan berjualan karena dia merasa kasihan kepada ibunya yang kerap sakit karena terlalu letih. Sari, panggilan akrabnya, juga mengatakan dia berasal dari keluarga broken home.

 ’’Jadi, saya harus mampu membantu ibu berjualan bakso dan pentol bakar, karena ibu harus mencarikan nafkah untuk saya dan kedua adik saya,” tuturnya.

Mahasiswi jurusan manajemen informatika di R-AKN Bojonegoro tersebut menceritakan pengalamannya selama menjadi penjual bakso dan pentol bakar. Dia setiap pagi pukul 05.00 usai salat Subuh langsung berangkat membeli bahan-bahan untuk membuat bakso. Lalu, membawa bahan-bahan tersebut ke penggilingan dan akhirnya pulang menyiapkan bakso dan pentol bakar tersebut. Bahkan, orang serumahnya, hanya Sari yang bisa bikin pentol.

 ’’Hidup mandiri dan harus terus berusaha untuk masa depan saya dan adik-adik saya kelak,” ungkap perempuan kelahiran 14 Agustus 1997 itu. Sebab, imbuh dia, ibunya hanyalah seorang tukang pijat, jadi pemasukan tambahan sangat diperlukan. 

Sari menjual bakso dan pentol bakar di depan rumah dan memanfaatkan media sosial, sehingga dia siap antar apabila ada pesanan. Sari pun mengatakan, pentol bakarnya yang paling laris tiap harinya, Sebab, anak-anak kecil di sekitarnya cukup banyak dan kerap menjadi langganannya. Lalu, pukul 14.00 dia mulai berkuliah dan dia pun aktif berorganisasi di kampus. ’’Saat kuliah, warung dijaga sama adik saya, namun pemesanan online baru bisa saya layani usai kuliah,” jelasnya.

Dengan penuh keoptimisan, Sari selalu ingin terus mengembangkan usaha baksonya tersebut. Sebab, dia merasa sebagai tulung punggung keluarga. ’’Mengembangkan usaha bakso itu pasti dan saya kelak juga ingin berwirausaha yang berbau fashion,” pungkasnya.

FATIMATUS ZAHRO’ (Dokumen Pribadi)

Bagi Fatimatus Zahro, belajar agama Islam sangatlah penting sebagai fondasi dalam hidup. Dia sosok yang haus mendalami ilmu agama. Bagaimana mungkin bisa mengimani dengan sepenuh hati kalau tidak terus belajar. ’’Bukannya sok suci, belajar memang kan sudah seharusnya tidak ada putusnya. Oleh karena itu, saya pun yakin bisa jadi bekal ke akhirat kelak,” ujarnya. Perempuan asal Desa Bangilan, Kecamatan Kapas, tersebut sejak MTs hingga MA nyaman menuntut ilmu di pondok pesantren.

Keinginan sekolah di pondok pesantren merupakan inisiatif Fatima sendiri, karena sejak lulus SD dia sangat menyukai mempelajari ilmu agama Islam. ’’Saya meminta sendiri bersekolah di pondok pesantren, orang tua saya pun menyetujui,” tuturnya. 

Dia menganggap ilmu agama jangan sampai dangkal. Jadi, bisa sekaligus menjaga kehormatan diri sendiri dan orang tua. ’’Saya memilih untuk fokus belajar agama dengan sepenuh hati, demi ilmu yang kelak bisa saya bagikan kepada banyak orang,” tambahnya. Tak heran, dia juga gemar membaca buku-buku tentang kajian agama Islam.

Sambil berkuliah di R-AKN Bojonegoro, Fatima memiliki bisnis kecil-kecilan, yakni menjual kue-kue basah. Dia hanya ingin hasil penjualannya mampu meringankan biaya operasional dia sehari-hari. ’’Paling tidak saat saya bikin tugas atau fotokopi, dan lain sebagainya tanpa meminta uang kepada orang tua saya,” jelas anak pertama dari dua bersaudara pasangan As’ali dan Siti Rukhoiyah itu.

MIFTA DWI NURAINI (Dokumen Pribadi)

Membaca sudah menjadi rutinitasnya sejak kuliah. Mifta Dwi Nuraini sangat hobi membaca novel berbau romantis. Bahkan, dia pun me-install aplikasi yang bernama Wattpad untuk memuaskan hasratnya membaca novel. Sebab, di aplikasi tersebut ada banyak cerita yang ditulis oleh banyak penulis amatir hingga profesional. ’’Jadi, pengalaman membaca novel lebih seru ketika ada aplikasi Wattpad, walaupun saya sendiri masih belum berani untuk menulis novel,” tuturnya.

Kata Mifta, sapaan akrabnya, novel romantis tak melulu berisi cerita sedih, namun ada juga cerita yang bisa dia petik sebagai tuntunan. Di dalam novel romantis pun tak hanya tentang sepasang remaja saja, namun juga orang tua dengan anak atau guru dengan murid. ’’Jadi, sebenarnya pemahaman romantis itu tidak dangkal. Oleh karena itu, saya sangat kepincut novel-novel romantis,” ungkap perempuan asal Desa Pacul, Bojonegoro itu. 

Selain pembaca, Mifta juga termasuk perempuan yang aktif. Kini, dia sedang menempuh studi di R-AKN Bojonegoro jurusan komputerisasi akuntansi sambil bekerja sebagai pramuniaga jasa fotokopi dan pengajar di salah satu bimbel di Bojonegoro. Dia merasa nyaman dengan keseharian yang cukup sibuk dari pagi hingga malam. Menurutnya, dia lebih bisa bermanfaat untuk orang banyak di sekitarnya. ’’Karena penyesalan selalu datang terakhir, jadi saya tidak ingin menyesal di kemudian ketika saya menyia-nyiakan masa muda,” jelas perempuan kelahiran 26 Juli 1995 itu. Mifta juga sangat berprinsip lebih baik menjadi diri sendiri sebaik mungkin daripada berubah jadi orang lain demi dikenal dan dipuja orang lain.

REGITA AJENG PRISCHA TRIANIMURTI (Dokumen Pribadi)

Regita Ajeng Prischa Trianimurti merupakan sosok ramah dan bersuara merdu. Dia sering mengudara di salah satu radio swasta di Bojonegoro. Awal dia terjun di dunia broadcasting karena hobi berbicara di depan umum. Jadi, perempuan kelahiran 2 Oktober 1997 itu mulai mengasah hobinya saat memasuki awal perkuliahan. ’’Sekitar tahun lalu, saat saya jadi mahasiswa baru, saya memberanikan diri terjun ke dunia broadcasting untuk mengasah hobi saya,” ujar Regita, sapaan akrabnya.

Dia mulai mengasah hobinya dengan menjadi MC di berbagai acara. Setelah dirasa mumpuni, Regita pun memutuskan untuk menjadi penyiar radio. Dia merasa hobinya harus tersalurkan dengan baik, agar mampu menghasilkan penghasilan tersendiri buat dia. ’’Karena, dengan mengasah hobi, sedikit demi sedikit saya bisa mengumpulkan uang untuk keperluan kuliah. Sehingga, saya pun belajar mandiri,” ungkap alumnus SMAN 2 Bojonegoro itu. 

Namun, sebelumnya, Regita sebenarnya pernah terpuruk usai lulus SMA. Ingin berkuliah di luar kota, tetapi orang tuanya tidak mengizinkan. Regita seharusnya sudah lolos masuk salah satu universitas di Yogyakarta, jurusan bahasa Jerman. ’’Saya awalnya iri melihat kawan-kawan saya bisa bahagia kuliah di luar kota. Tetapi apa boleh buat, saya harus menuruti perintah orang tua saya,” ujar mahasiswi R-AKN Bojonegoro itu. Lalu, tambah dia, tidak ada masa lalu yang perlu disesali. Sebab, bagi Regita, masa lalu yang terpuruk bisa dijadikan motivasi untuk melangkah lebih jauh ke depannya. 

Saat ini, Regita merasa sangat percaya diri dan banyak belajar dari pengalaman yang sedang ia jalani. Awalnya dia merasa kelak hanya menjadi mahasiswa, lalu lulus dan bekerja. Ternyata, dia setiap hari disibukkan oleh banyak kegiatan sejak pagi hingga petang. ’’Saya sejak pukul 10.00 sudah jadi penyiar, pukul 12.00 jadi mahasiswa, pukul 18.00 saya sibuk dengan himpunan mahasiswa di kampus,” ujarnya. Selain itu, Regita juga punya bisnis online berjualan kosmetik. ’’Semakin sibuk, semakin otak saya terus berpikir hal-hal yang positif. Jadi, tidak sempat melakukan hal-hal yang menjurus negatif,” pungkasnya.

GALUH OKTANIA DANAYANTI (Dokumen Pribadi)

Pengalaman tidak menyenangkan sekaligus memalukan bagi Galuh Oktania Danayanti sangat membuatnya introspeksi diri setiap saat. Perempuan asal Kecamatan Sugihwaras ini pernah dimarahi habis-habisan oleh bidan saat ada persalinan. Karena dia seorang mahasiswa Akbid Pemkab Bojonegoro, jadi harus magang pada bidan saat ada proses persalinan. Dia saat itu sangat menyesal dan perlu belajar untuk disiplin. ”Saya terus belajar disiplin dan tidak ingin malas-malasan lagi, karena tidak ada manfaatnya,” ungkapnya.

Sebab, kelak dia tentu akan menjadi bidan. Jadi, harus mampu disiplin dan tidak boleh bermalas-malasan. Karena, pasien yang akan melakukan proses persalinan tak kenal waktu, bisa kapan saja. ”Tidak ruginya belajar disiplin, karena hal tersebut untuk kebaikan saya juga,” tuturnya. Namun, di sisi lain, perempuan kelahiran 14 Oktober 1997 itu merupakan sosok yang tidak terlalu ambil pusing omongan orang lain. Karena, dia percaya, apa yang dilakukannya benar dan tidak menyalahi aturan norma apa pun. ”Jadi, hidup itu memang harus dinikmati se-enjoy mungkin, namun perlu tanggung jawab juga,” jelas penggemar Raisa itu.

Galuh juga merupakan sosok periang. Dia kerap dianggap sebagai pencair suasana di tengah kawan-kawannya. Oleh karena itu, dia juga sangat hobi berkuliner dan traveling bersama kawan-kawannya. Galuh merasa Bojonegoro sangat berpotensi menjadi kota yang besar dan pesat, karena kulinernya enak dan destinasi wisatanya banyak yang indah. ”Banyak keseruan ketika berkuliner dan jalan-jalan, melepas penat, karena jadwal kuliah dan praktik sangat padat,” pungkasnya.

(bj/gas/haf/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia