Rabu, 26 Jul 2017
radarbojonegoro
Features
Mengenal Komunitas Briker RAPI Bojonegoro

Puluhan Tahun Berbagi Informasi dengan Radio 2 Meter Ben

Rabu, 12 Jul 2017 18:10 | editor : M. Abdul Hafid

MEJENG DULU: Para anggota komunitas Briker RAPI Bojonegoro.

MEJENG DULU: Para anggota komunitas Briker RAPI Bojonegoro. (M.Nurcholis/Radar Bojonegoro)

KEBERADAAN Komunitas Briker RAPI Bojonegoro sudah lama. Terhitung sejak 1992. Komunitas tersebut memberikan informasi-informasi yang berkembang di masyarakat, seperti informasi tentang arus lalu lintas, kebakaran, kecelakaan, dan bencana. ”Sehingga, adanya komunitas Briker RAPI ini dapat membantu memberikan informasi kepada masyarakat,” kata Wakil Ketua I RAPI Bojonegoro Sukisman kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Kerja sosial adalah cara pandang komunitas RAPI Bojonegoro. Artinya, lanjut dia, komunitas RAPI ini bergerak di wilayah sosial masyarakat. ”Jadi, tidak hanya membantu komunikasi. Melainkan ada tindakan nyata,” ujarnya. Misalnya, saat menangani banjir luapan Bengawan Solo 2008 lalu. Selain memberikan bantuan komunikasi, komunitas RAPI juga terjun membantu evakuasi korban banjir.

Sementara, kata dia, beberapa kegiatan yang sudah diakukan adalah membantu korban bencana banjir, kebakaran, dan bedah rumah. Tidak ada tujuan lain selain membantu meringankan beban korban bencana. Atas dasar kemanusiaanlah, komunitas RAPI Bojonegoro membantu korban bencana dengan biaya swadaya pengurus. ”Iuran semampunya dan seikhlasnya,” kata pria berkacamata itu.

Selain itu, reboisasi 1000 pohon jati di kawasan hutan Kecamatan Temayang pada 2015 dan 2016 juga telah dilakukan. Hal itu untuk mengurangi risiko bencana. Penanaman ribuan pohon jati tersebut bekerja sama dengan Perhutani setempat. ”Intinya menjaga kelestarian hutan,” ujarnya.   

Saat ini, komunitas Briker RAPI Bojonegoro beranggotakan sekitar 200 orang. Semua anggota tersebut dari berbagai golongan atau komunitas. Mulai dari petani hingga pejabat bisa menjadi anggota RAPI. ”Yang penting memiliki radio 2 meter ben tersebut,” ucapnya semabari tersenyum.

Komunitas RAPI memiliki etika dalam mengudara (sebutan komunikasi melalui radio 2 meter ben). Di antaranya, saat mengudara tidak boleh menyinggung ras, agama, suku, golongan, dan politik. Pasalnya, jika menyinggung lima hal tersebut dapat menimbulkan kekacauan dalam komunikasi antar pengurus atau anggota. ”Selain itu, kata-kata tidak pantas atau jorok juga tidak bolah,” kata pria berkumis itu.

Seandainya ada anggota yang melanggar, bakal dikenai sanksi teguran hingga pemecatan anggota. ”Alhamdulillah, sampai sekarang tidak ada yang melanggar lima hal tersebut,” katanya. 

Saat H-7 hingga H+7 Lebaran, komunitas Briker Bojonegoro memberikan bantuan komunikasi (bankom) di wilayah Bojonegoro. Ada enam pos yang tersebar di beberapa kecamatan. Yakni, pos Baureno, Banjarsari, Balen, Margomulyo, Padangan, dan Bojonegoro. ”Pos Bojonegoro merupakan pos induk,” katanya. Mereka membantu komunikasi dan memberi informasi seputar arus lalu lintas dan peristiwa yang terjadi selama 24 jam.

Alat komunikasi komunitas Briker RAPI Bojonegoro hanya radio 2 meter ben. Selain itu, dilengkapi dengan baju seragam sehari-hari.

Dia menegaskan, peran RAPI di Bojonegoro tidak hanya membantu komunikasi. Melainkan melakukan tindakan nyata sosial kemasyarakatan. Sehingga, keberadaan Briker RAPI dapat dirasakan oleh masyarakat Bojonegoro. 

Pihaknya berharap, seluruh anggota RAPI Bojonegoro semakin kompak dan solid. Mampu berkomunikasi dengan santun, sopan, dan jujur. Sehingga, informasi-informasi yang disampaikan ke masyarakat oleh komunitas RAPI, sesuai fakta yang ada. ”Untuk masyarakat Bojonegoro yang memiliki radio 2 meter ben dapat bergabung dengan RAPI. Frekuensinya 142.600, input 141.020, dengan duplex min 141.580,” tutupnya.   (*/nas)      

        

(bj/*/haf/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia