Sabtu, 22 Jul 2017
radarbojonegoro
Features
Lebih Dekat Dengan Komunitas Drone Bojonegoro

Ingin Kontribusi di Bidang Pariwisata dan Mitigasi Bencana

Rabu, 12 Jul 2017 17:31 | editor : M. Abdul Hafid

KESAMAAN HOBI: Para pegiat atau pehobi drone ketika berkumpul di lapangan alun-alun Bojonegoro.

KESAMAAN HOBI: Para pegiat atau pehobi drone ketika berkumpul di lapangan alun-alun Bojonegoro. (Dokumen Pribadi)

UDARA cukup sejuk sore itu. Suasan Alun-Alun Bojonegoro seperti biasanya, begitu ramai oleh warga yang sedang menghabiskan sore hari dengan jalan-jalan, bermain basket, atau bahkan sekadar duduk-duduk. Tepat di kawasan air mancur Alun-Alun Bojonegoro, terdapat beberapa orang mengenakan kaus wana hitam sedang asyik mengendarai dron. Mereka sedang mencari spot yang bagus di Alun-Alun Bojonegoro kala senja. Tulisan di kaus mereka berupa tagline “Drone Pilot: Flysafe”. Mereka merupakan Komunitas Drone Bojonegoro (KDB).

Salah satu penggawa komunitas tersebut, Zainul Abidin, menghampiri. Dengan ramah, dia menyapa sekaligus memperkenalkan kawan-kawannya yang ada di lokasi tersebut. Zainul, begitu dia akrab disapa, menjelaskan, KDB mulai berdiri pada 4 September 2016. Mereka awalnya hanya beranggotakan tiga orang. Lalu, perlahan-lahan, dengan menggunakan media sosial, anggota mereka terus bertambah hingga 44 orang. 

’’Dulu saya hanya bertiga. Tetapi karena memang drone merupakan teknologi baru yang keren, jadi anggota pun terus bertambah ketika ternyata ada komunitasnya,” ungkapnya.

Zainul mengatakan, KDB tidak sekadar kumpul-kumpul pamer drone. Namun, setiap anggota baru akan dilatih bagaimana mengendarai drone yang baik dan benar. Sebab, secara internasional ada peraturan khusus menerbangkan drone. ’’Menerbangkan drone maksimal ketinggian 250 meter, karena kalau di atas ketinggian tersebut dapat mengganggu dan membahayakan jalur pesawat,” terangnya. Adapun materi tentang trik pengambilan gambar yang proporsional menggunakan drone. ’’Jadi, seperti layaknya fotografi, drone juga perlu mempelajari angle mana yang tepat untuk mengambil gambar,” tutur pria asal Desa Kabalan, Kecamatan Kanor, itu.

KDB juga akan mengajarkan pengeditan videografi untuk kebutuhan produksi film atau video klip. Jadi, di dalam KDB, selain menekuni hobi, Zainul bersama kawan-kawannya ingin sekaligus belajar banyak hal. Sehingga, mereka mampu menghasilkan pendapatan dari drone. Saat ini, KDB sedang berencana untuk berkontribusi unuk Bojonegoro di bidang pariwisata dan mitigasi bencana, khususnya banjir yang kerap terjadi setiap tahun. ’’Kami ingin membuatkan dokumentasi terkait seluruh destinasi wisata di Bojonegoro. Sehingga, mampu dikenal luas oleh banyak orang di luar sana, sekaligus ingin membantu mitigasi bencana ketika banjir melanda Bojonegoro,” katanya.

Sementara itu, Zainul menegaskan bahwa untuk ikut KDB tidak harus memiliki drone. Karena, hingga saat ini, hanya 80 persen saja yang memiliki drone di KDB. ’’Banyak orang di luar sana yang enggan bergabung dengan kami, karena merasa drone itu barang mewah dan sangat mahal,” tuturnya. Padahal, pada dasarnya KDB sejak awal berdiri ingin mengenalkan drone untuk berbagai hal yang bisa bermanfaat untuk banyak orang. Nanti setelah lihai mengendarai drone, mungkin akan tertarik membeli drone. ’’Drone sendiri harganya beragam, mulai Rp 1,5 juta hingga Rp 70 juta, tergantung kebutuhan dan bujet,” ujarnya. Menurut Zainul, semahal-mahalnya drone, kalau pilotnya tidak paham teknik mengambil gambar yang baik, tentu tidak akan maksimal hasil karyanya.

Selama ini, KDB rutin adakan gathering pada Minggu pagi atau sore di Alun-Alun Bojonegoro, tergantung situasi dan kondisi. Zainul berharap akan lebih banyak lagi anggota yang bergabung. Sebab, tidak dapat dipungkiri, anggota KDB saat ini sudah ramai job mendokumentasikan banyak hal menggunakan drone. ’’Jadi, kadang ada anggota yang tidak bisa kumpul karena ada job seperti mendokumentasikan acara, pernikahan, dan sebagainya,” ujarnya. 

Rencana terdekat, KDB akan merayakan ulang tahun pertamanya di salah satu tempat wisata Bojonegoro sambil mengendarai drone bersama pada September. Jadi, nanti hasil dokumentasinya bisa dijadikan arsip sekaligus promosi kepada masyarakat luas bahwa Bojonegoro memiliki KDB. ’’Kemungkinan bisa ngecamp di Atas Angin, tapi nanti kita akan bicarakan lagi,” pungkasnya. (*/nas)

(bj/gas/*/haf/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia