Sabtu, 22 Jul 2017
radarbojonegoro
Features
Mohammad Sobirin, Seniman Lukis di Desa/Kecam

Ingin Angkat Kreativitas Orang Desa, Pesanan hingga Papua

Rabu, 12 Jul 2017 16:50 | editor : M. Abdul Hafid

PENUH OPTIMISTIS: Muhammad Sobirin ingin mengangkat desa menjadi kreatif, terutama menumbuhkan seniman lukis. 

PENUH OPTIMISTIS: Muhammad Sobirin ingin mengangkat desa menjadi kreatif, terutama menumbuhkan seniman lukis.  (Bhagas Dani Purwoko/Radar Bojonegoro)

PERJALANAN ke arah barat Bojonegoro tentu akan menemui banyak sekali mobil-mobil berukuran besar yang selalu tampak arogan di jalanan. Menembus asap jalanan yang begitu mengepul sudah menjadi konsekuensi ketika melewati jalur Bojonegoro-Cepu tersebut. Suara klakson bersahut-sahutan, saling salip, dan terik matahari pun tak mampu terelakkan. Ketika sudah memasuki Kecamatan Gayam, jalan tidak terlalu ramai.

Selanjutnya, wartawan koran ini dijemput di depan Mapolsek Gayam oleh seorang seniman muda asal Desa/Kecamatan Gayam. Dia mengantarkan ke rumahnya, tak jauh dari situ, hanya sekitar 700 meter. Saat sampai di rumahnya, kesan pertama adalah kesederhanaan. Rumah khas pedesaan yang masih belum terpasang keramik dan suasananya yang sejuk. Seniman muda itu lalu mempersilakan duduk dan tak pernah terlewatkan sunggingan bibirnya yang semringah. Seniman muda itu bernama Mohammad Sobirin. 

Sobirin merupakan sosok yang ramah dan terkesan lugu, dia bercerita dengan penuh antusias. Dia menyukai dunia menggambar sejak kecil. Sebab, dia merasa memiliki keturunan jiwa seni dari bapaknya yang sesekali menggambar dan membuat wayang. 

Pria kelahiran 9 Februari 1991 itu memulai mengasah ilmunya ketika bertemu dengan Arifin atau kerap dipanggil Pak Pin, pendiri sanggar Line Art Bojonegoro (LAB). Sobirin termasuk perintis sanggar LAB tersebut. Jadi, dia selalu menganggap Pak Pin sebagai gurunya. ’’Bisa dibilang dulu saya murid pertama Pak Pin, saya bertemunya sekitar tahun 2013,” katanya.

Ketika bertemu dengan Pak Pin, Sobirin gunakan untuk pemantapan. Sebab, pada dasarnya dia sudah memiliki bakat menggambar dan melukis. Dia pun pertama kali memperoleh pesanan hanya dibayar Rp 20 ribu. Saat itu, dia melukis sketsa wajah anak temannya. Lalu, dari situlah dia mulai dikenal orang-orang di sekitarnya kalau memiliki bakat menggambar atau melukis. 

Dia pun memanfaatkan media sosial untuk memamerkan hasil karyanya. ’’Media sosial sangat efektif menjaring konsumen dari luar kota,” ungkap bapak anak satu tersebut. Jadi, imbuh dia, perlahan-lahan tiap bulan selalu memeperoleh pesanan dari luar kota. 

Sehingga, Sobirin sudah mantap dengan pilihannya konsisten berkarya di jalur seni lukis. ’’Menjadi pekerja seni memang kuncinya konsisten. Jadi, kalau mau dapat pesanan ya harus rajin promosi,” ungkapnya. Konsumennya rata-rata memesan gambar-gambar potret diri. Sobirin pernah menerima pesanan dari Sorong, Papua. 

Sebenarnya, Sobirin pernah memperoleh pesanan dari orang Indonesia yang tinggal di Jepang. Karena keterbatasan informasi, Sobirin tidak paham cara kirim barang ke luar negeri. ’’Dulu itu pas banget pesanan lagi numpuk dan saya baru tahu belakangan ini kalau Kantor Pos bisa kirim paket ke luar negeri,” ujarnya sambil tersenyum polos.

Sobirin mengaku ingin terus belajar lukisan-lukisan realis, tepatnya gambar hitam putih. Sebab dia merasa belum bisa dibilang hebat. ’’Penjiwaan saya realis, jadi terus mendalaminya hingga waktu yang tak bisa saya tentukan,” imbuhnya. Sobirin pun pernah menggelar pameran lukisan di Gayam pada Agustus 2016 bersama seniman-seniman lain di sekitarnya. ’’Saya ingin sekali mengangkat nama Gayam bahwa di desa ini ada beberapa anak-anak muda yang kreatif,” katanya.

Meski dia sangat menjiwai sebagai seniman realis, Sobirin juga merupakan sosok ayah yang sangat realistis. Sebelum sibuk menerima pesanan lukisan, dia pernah menjadi penjual pentol keliling dan security. Lalu, saat ini dia juga menerima jasa membuat mahar, potong rambut, sol sepatu, ukir/bubut kaki meja kursi, dan membuat frame foto. ’’Selama saya bisa lakukan, saya akan tekuni. Karena saya harus realistis, tidak mungkin hanya bertumpu pada pesanan lukisan saja. Saya harus terus putar otak untuk anak istri saya,” pungkasnya. (*/nas)

(bj/gas/*/haf/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia