Rabu, 26 Jul 2017
radarbanyuwangi
Genteng

Gara-gara Permintaan Tinggi, Persaingan Pedagang Janur Ketat

Sabtu, 15 Jul 2017 13:05 | editor : Ali Sodiqin

CEPAT: Ibu-ibu bekerja membersihkan dan mengikat janur di rumah Yuyun Hartatik di Dusun Sukolilo, Desa Sukomaju, Srono.

CEPAT: Ibu-ibu bekerja membersihkan dan mengikat janur di rumah Yuyun Hartatik di Dusun Sukolilo, Desa Sukomaju, Srono. (NUR HARIRI/RaBa)

SRONO – Kabupaten Banyuwangi menjadi satu-satunya pemasok janur dalam skala besar ke Provinsi Bali. Saking banyaknya, ada pedagang yang mengirim janur ke bali itu hamper setiap hari.
Salah satu pedagang janur yang melakukan pengiriman secara rutin itu keluarga Agus Santoso, 36, dan Yuyun Hartatik, 34, warga Dusun Sukolilo, Desa Sukomaju, Kecamatan Srono. Hampir setiap hari, di rumahnya tidak pernah sepi dari janur. “Setiap hari mengikat janur, ada delapan warga yang membantu, liburnya bergantian,” terang Yuyun Hartati.
Menurut Yuyun, harga janur sejak Ramadan hingga selesai Lebaran masih tetap, yakni sebesar Rp 6.500 untuk janur yang diikat ukuran kecil, dan Rp 15.000 untuk janur yang diikat ukuran besar. “Harga janur stabil,” katanya.
Menurut Yuyun, menjadi pedagang janur itu harus bisa cepat dan tepat dalam melakukan pengiriman. Agar stok tidak kehabisan, maka selain delapan pekerja yang bekerja mengikat, untuk yang mencari janur ada sendiri. “Yang mengirim ke Bali juga ada sendiri, semua harus cepat karena kebutuhan di Bali itu tunggi dan terus-menerus,” ujarnya.
Apabila pengiriman janur ke Bali terlambat, jelas dia, maka pelanggan akan mudah pindah ke pedagang lainnya. “Saya sekarang bisa mengirim dua hari sekali, itu ada yang ke Denpasar, Kintamani, dan tempat-tempat lain,” terangnya.
Yuyun mengaku kalau selama ini belum pernah terlambat dalam pengiriman janur dan pelanggannya bisa terjaga. Padahal, jumlah pedagang janur itu sangat banyak. “Di desa ini saja ada dua pedagang janur, belum lagi di daerah lain,” ungkapnya.
Pedagang janur lain, Mahali, 38, asal Dusun Sumbersari, Desa/Kecamatan Songgon, mengatakan hanya bisa mengirim janur ke Bali seminggu sekali. Padahal, dulunya hamper setiap hari. “Sekarang di rumah banyak kerjaan,” dalihnya.
Mahli menyebut setiap mengirim janur ke Bali, hanya satu pikap yang berisi dua ribu sampai tiga ribu ikat janur ukuran kecil. “Kita mengirim harus cepat, kalau sampai telah pelanggan bisa pindah ke pedagang lain, karena kebutuhan janur di Bali itu mendesak,” jelasnya.(rri/abi)

(bw/rri/als/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia