Rabu, 26 Jul 2017
radarbanyuwangi
Kolom
Spirit Jumat

Haters

Oleh: KH Toha Muntoha

Sabtu, 15 Jul 2017 18:12 | editor : Ali Sodiqin

MEMBIARKAN imajinasi menemukan bentuk idealnya adalah laku bijak yang mendorong masa kecil "cah ndeso”. Dari Kediri, Khairil Anwar mengidolakan tokoh Son Goku dalam serial film kartun Dragon Ball yang juga pemilik sah pusaka bola energi Genkidama.
Selepas dari Teknik Elektro ITB, Anwar berkesempatan menempuh studi lanjutan di Naro Institute of Science and Technology NAIST dengan desertasi tentang transmitter yang terinspirasi dari kemampuan imajiner pusaka Genkidama milik Goku menyedot energi alam untuk mengalahkan musuh bebuyutannya Bezita hingga lahir teknologi internet 4G.
Dahulu kala, saat janin internet masih berupa sel telur APARNET, kedigdayaan imajinasi terdeteksi. Jejaknya pada karya fiksi ilmiah John Brunner bertitel “The Shockwave Rider” yang mendahului zamannya dengan melemparkan istilah hacker yang diimajinasikan sebagai pencuri ulung bersama virus serta worm sebagai  bagian perangkat perang.
Berikutnya disusul oleh imajinasi William Gibson yang mengeksplorasi efek teknologi, sibermatika, dan jaringan komputer pada manusia yang tertuang dalam cerpen “Burning Chrome” hingga lahir istilah yang amat mendunia “cyberspace”.
Ketika memasuki atmosfir nusantara, istilah “cyberspace” dialihbahasakan menjadi “Dunia Maya”, yang segenap ahli bahasa sepakat menafsirkan sebagai suatu kondisi yang  menggambarkan sesuatu yang seolah olah “ada”. Namun, seiring dengan perkembangan teknologi internet dan kemampuan manusia memanfaatkannya sebagai pabrik opini  batas antara yang seolah olah “ada” dengan yang benar benar  “ada”  makin menipis.
Dinamikanya bisa dilihat pada semangat yang melatarbelakangi lahirnya UU ITE  untuk memagari media sosial yang belakangan ini sering menimbulkan “kerepotan” nasional seperti maraknya ulah jahil “HATERS” yang memicu seorang Deddy Corbuzer membentuk tim IT untuk meringkus seorang HATERS karena komentarnya yang “miring” terhadap Chika.
Domain HATERS yang memunculkan ekspresi kebencian dalam Islam menemukan bentuknya yang pas pada sabda Nabi Saw  "Penyakit umat umat sebelum kamu tengah merayap menjangkitimu, yaitu penyakit benci dan dengki (hasad). Dua penyakit ini menggunduli agamamu, bukan rambutmu. Demi Allah yang mana diriku dalam genggaman-Nya, kamu tidak beriman dengan sempurna hingga kamu saling mencintai, Maukah kuberitahukan satu hal yang bila kamu lakukan  kamu akan saling mencintai. Tebarkanlah salam di antaramu”
Disamping Hasad, terdapat tiga  istilah yang pantas mendampingi Haters, Pertama adalah  Ghibah yang para Ulama sepakat mendefinisikan sebagai kesukaan seseorang untuk menceritakan perihal tertentu dari orang lain baik yang masih hidup atau yang sudah wafat di hadapan seseorang sementara ia tidak menyukai cerita tersebut jika ia mendengarnya
Kedua adalah Fakhsyah yang Nabi Saw memperingatkan “Surga haram dimasuki oleh mereka kaum Fakhsyah, yaitu orang yang suka bicara dan berperilaku buruk. Mereka tidak akan masuk surga bersama rombongan pertama. Mereka tidak akan masuk surga sebelum disiksa dan disucikan oleh api neraka kecuali orang orang yang di maafkan oleh Allah “.
Ketiga adalah al Qoththot yang Nabi Saw juga memperingatkan “Tidak masuk surga mereka al Qoththot”. Imam Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan al Qoththot adalah mereka yang mencuri pembicaraan orang lain lalu tanpa izin dan sepengetahuannya ia sebarluaskan dengan maksud adu domba.
Walhasil, sekalipun ujaran “ndeso” yang disampaikan lewat medsos, bisa masuk kategori HATERS jika kemudian ada yang merasa tersinggung. Sungguh amat elok jika yang bersangkutan lapang dada "memohon maaf” lewat media yang sama seperti yang dilakukan oleh PM Jepang Shinzo Abe yang "memohonkan maaf" atas ucapan menterinya Masahiro Imamura yang menyinggung perasaan masyarakat Tohoku. Gitu aja kok repot. (*)
 

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia