Jumat, 28 Jul 2017
radarbanyuwangi
Features
Budi, Pembuat Patung Asal Wonorejo, Banyuputih

Batu yang Diukir Dikirim dari Mojokerto

Kamis, 13 Jul 2017 10:05 | editor : Ali Sodiqin

BERNILAI SENI: Budi menyelesaikan pembauatn patung Dewi Tara. Patung tersebut hendak dijual ke Bali

BERNILAI SENI: Budi menyelesaikan pembauatn patung Dewi Tara. Patung tersebut hendak dijual ke Bali (HABIBUL ADNAN/JPRS)

Budi memiliki keahlian dalam membuat patung. Dari tangannya, bongkahan batu bisa bernilai karya seni. Karya-karyanya kebanyakan di jual ke Pulau Bali

HABIBUL ADNAN, Banyuputih

Patung Dewi Tara hampir saja rampung pengerjaannya. Ukiran dari batu cadas itu tinggal dipoles di beberapa bagian saja. Setelah itu, langsung dikirim ke pembeli. Patung memang sudah di pesan salah satu warga Bali.
Budi memiliki keahlian karya seni rupa patung. Dari tangan pria asal Dusun Jelun, Desa Wonorejo, Kecamatan Banyuputih itu telah menghasilkan puluhan patung. Dia mengaku, kebanyakan pesanan dari Pulau Bali. Budi bisa membuat aneka ukiran patung. Sebut saja patung batu, patung cor semen, relieif patung dan ukir. Dia juga menerima pesanan lukisan.
Saat ditemui di rumahnya, keahlian tersebut didapatnya sejak merantau ke Trowulan, Mojokerto pada tahun 1998 lalu. Disanalah dia belajar banyak tentang tata cara memahat batu menjadi patung yang bernilai jual tinggi.
Hanya saja, selama menjalankan usaha di Situbondo, Budi mengaku mendapatkan sejumlah kendala. Misalnya, kesulitan mendapatkan bahan batu yang berkualitas. Batu-batu yang ada terlalu keras. Ini membuat dirinya kesulitan karena alatnya berpotensi mengalami kerusakan.
“Kalau menggunakan batu terlalu keras, hasilnya memang bagus, tapi untuk detail ukirannya nggak begitu bagus. Yang lebih parah, alatnya mudah patah, sedangkan disini tidak ada tempat servis,” katanya.
Sedangkan jika menggunakan batu cadas, ada yang lunak dan keras. Ini juga membuat Budi kesulitan dalam mengukir. “Kalau diukir ada yang lepas. Jadinya jelek, hasilnya tidak rata,” tambahnya.
Karena itulah, semua batu yang hendak dibuatkan patung harus didatangkan dari  Kabupaten Mojokerto. Dia mengaku, batu Mojokerto tidak terlalu keras dan tidak terlalu lunak. “Yang ideal memang batu Mojokerto,” papar Budi.
Masalahnya, biaya kirim dari Mojokerto sangat mahal. Untuk dua bongkahan batu berkuruan besar, Budi harus membayar biaya kirim sebesar Rp. 15 juta.
Menurutnya, itu tidak sebanding dengan penghasilan yang didapat. Sebab, di daerah Situbondo-Banyuwangi, jarang sekali ada yang pesan. “Beruntung banyak pesanan dari Bali,” katanya.
Untuk harga setiap patung yang dijual, tergantung dari ukuran. Kalau yang besar, seukuran anak sapi misalnya, bisa dijual dengan harga Rp.30 Juta. Sedangkan yang kecil seperti patung Dewi Tara yang dibuatnya hanya Rp.1,5 juta.
Sedangkan lama pembuatan patung rata-rata satu bulan lebih. Tetapi tergantung kualitas batu yang dipahat. Jika terlalu keras, bisa sampai dua bulan. “Kalau patung kecil hanya kurang dari satu meter dan batunya tidak terlalu keras, 1-2 minggu selesai,” katanya.
Kemampuan Budi dalam seni rupa terlihat sejak masih kecil. Dia mengaku, sejak masih SD dulu, sering membuat
patung dari tanah dan kayu. “Bahkan, biaya sekolah saya dapat dari mematung,” katanya.

(bw/bib/als/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia