Sabtu, 22 Jul 2017
radarbanyuwangi
Kolom
Man Nahnu

Pesantren

Oleh: Samsudin Adlawi

Selasa, 11 Jul 2017 11:00 | editor : Ali Sodiqin

ZAMAN terus berkembang. Bahkan satu dekade ini begitu cepat speed-nya perkembangan. Meliputi semua aspek kehidupan. Siapa yang tertinggal dari kereta perkembangan itu dipastikan akan ngos-ngosan untuk mengejarnya. Malah bisa-bisa tergilas. Dan hanya bisa plonga plongo menyaksikan situasi di sekitarnya. Yang benar-benar berubah total. Sebaliknya, siapa yang bisa adaptasi dengan perkembangan ia akan bertahan. Bahkan, malah makin eksis.
***
Ada yang berbeda di pondok pesantren Walisongo Situbondo Ahad kemarin (9/7). Sebuah tenda besar terpasang di lapangan dalam lingkungan pesantren setempat. Padahal, sedang tidak ada acara khaul atau acara lain terkait dengan program pesantren. Tenda besar itu dipenuhi gantangan. Di gantangan itulah tergantung banyak sekali sangkar burung. Ya, Ahad kemarin memang sedang ada lomba burung kicau di dalam pesantren yang berada di Kelurahan Mimbaan, Kecamatan Panji, itu.
Semua orang kaget. Termasuk saya. Selama ini pesantren di kenal eksklusif. Tidak biasa mengundang orang banyak. Kecuali untuk acara keagamaan. Terutama kegiatan terkait pesantren. Jarang sekali ada pesantren yang membuka diri. Melibatkan khalayak untuk beracara di tempatnya. Salah satu dari yang sedikit itu adalah pesantren Walisongo. Asuhan KHR Kholil As’ad Syamsul Arifin.
Kegiatannya pun tergolong unik. Bahkan, mungkin itu yang pertama dilakukan dalam pesantren. Yakni lomba burung berkicau. Seperti diberitakan Jawa Pos Radar Situbondo, total peserta dan penonton yang hadir mencapai seribuan orang. Perputaran ekonomi di lokasi lomba pun cukup lumayan. Para penjual makanan dari luar pesantren yang membuka lapak di sekitar arena lomba laris manis jualannya. Peserta lomba senang. Penonton ikut senang. Penjualan makanan lebih senang lagi.
Yang membuat mereka lebih senang: Kiai Kholil terlibat aktif dalam lomba itu. Kiai yang sangat disegani itu berbaur dengan masyarakat. Penonton dan peserta. Berpakaian ala penonton. Tidak bersorban. Hanya mengenakan kaus lengan panjang warna hijau dan songkok putih.
Kehadiran Kiai Kholil sebagai penonton membuat lomba burung berkicau di pesantren Walisongo berbeda dengan lomba sejenis kebanyakan. Tidak ada peserta yang sampai ‘kalap’. Berteriak-teriak menyoraki dan memandu burung jagoannya. Mereka berdiri teratur. Matanya saja yang sibuk mengamati aksi burungnya. Di dalam sangkar. Walhasil penonton bisa khusuk. menikmati kicauan burung-burung yang dilombakan.
Memang begitu target lomba burung dalam pesantren. Sekaligus menjadi media syiar Islam. Dalam bentuk yang berbeda. Sebelum lomba dimulai, peserta dan penonton lebih dulu mendapat ular-ular dari Kiai Kholil. Juga membaca sonar (salawat Nariyah) secara berjamaah. Suasana lomba pun menjadi adem. Penuh berkah dari sonar.
Pendekatan dakwah lewat lomba burung itu patut diapresiasi. Kiai dan pengasuh pesantren kini dituntut untuk mencari untuk lebih dekat dengan umat. Tentu saja cara-cara konvensioal seperti mengajar di pesantren atau lewat acara-acara pengajian jangan sampai ditinggalkan. Hanya cara dan kemasannya yang perlu diperbaharui. Sebelumnya, kita juga mengetahui model dakwah baru yang dilakukan oleh KH Ahmad Azaim Ibrahimy. Pengasuhk-IV ponpes Sukorejo Situbondo itu menemui umat dengan berjalan kaki dan menunggang kuda. Keliling Situbondo. Sepanjang perjalanan umat menyambutnya dengan suka cita. Siapa yang tidak senang disambangi kiai.
Apa yang dilakukan oleh dua pengasuh pesantren terbesar di Kota Santri itu sangat inspiratif. Bisa menginspirasi pengasuh pesantren lainnya. Untuk melakukan hal yang sama tapi beda kemasan dan modelnya. Menyesuaikan kecenderungan umat yang akan didekatinya. Dengan begitu umat akan merasa diperhatikan. Terutama diperhatikannya kehausan mereka terhadap ilmu-ilmu agama. Sebagai bekal menjalani kehidupan. Menghadapi hidup yang makin terjal dan penuh tantangan tidaklah mudah. Butuh bekal yang kuat. Butuh iman yang kokoh sebagai pegangan. Jika tidak ingin terjerembab ke dalam jurang berlumpur dan penuh dengan kenistaan.
Sebaliknya, kalau kiai sudah mau mendekati umat seyogyanya pemerintah juga mulai memperhatikan pesantren. Kita semua tahu, pengasuh pesantren hanya bisa membekali santrinya dengan ilmu-ilmu agama. Sedangkan setelah lulus para santri itu harus kembali ke tengah masyarakat. Untuk berbaur dengan masyarakat tidak hanya bisa mengandalkan ilmu agama yang sudah ditimba selama mondok. Tapi membutuhkan ilmu dunia. Kecuali bagi santri yang bercita-cita jadi kiai. Tapi kan tidak mungkin semua santri yang lulus dari pesantren menjadi kiai semua. Kalau semua jadi kiai terus siapa yang akan jadi umatnya.
Bagi yang tidak bercita-cita menjadi kiai, ketika menuntut ilmu di pesantren perlu mendapat pelatihan-pelatihan. Pelatihan apapun. Sesuai minat para santri. Yang penting ilmu dari pelatihan itu bisa langsung diaplikasikan setelah selesai mondok kelak. Misal, ketrampilan mendesain baju sekaligus menjahit bagi santriwati. Atau pelatihan membuat makanan olahan untuk oleh-oleh. Atau pelatihan montir bagi santri laki-laki. Dlsb. Dst. Tentu saja jadwal pelatihannya disesuaikan dengan jam nyantrinya. Agar tidak mengganggu program pesantren.
Pelatihan santri itu sangat bermanfaat. Bermanfaat bagi santri. Juga bermanfaat bagi pemerintah. Bagi santri ilmu dari pelatihan bisa dijadikan bekal untuk memulai kehidupan baru di tengah masyarakat. Apalagi kalau ilmu yang didapat tidak berhenti pada pelatihan. Melainkan dilanjut ke pemberian modal usaha dan modal alat. Bagi pemerintah pelatihan-pelatihan kerja di pesantren akan meminimalisasi peluang bertambahnya angka kemiskinan baru. Yang kita ketahui selama ini, lulusan sekolah dan perguruan tinggi yang tida kunjung bekerja berpotensi menambah angka pengangguran. Pengangguran menyebabkan angka kemiskinan meningkat. Rumusnya seperti itu. Kalau ditambah alumni pesantren yang tidak kunjung bekerja dan mapan hidupnya kecenderungan angka kemiskinan makin meningkat tidak akan terelakkan.
Saya bersyukur. Pemkab Banyuwangi sudah berpikir ke arah sana. Mulai memikirkan santri. Pak Ketut Kencana NS mengatakannya kepada saya. Belum lama ini. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Banyuwangi mengatakan, dirinya sudah menyiapkan program pelatihan untuk santri. Untuk tahap pertama segera dilakukan di empat pesantren di Banyuwangi. ‘’Pelatihannya disesuaikan dengan potensi para santri. Ada menjahit dan lain-lainnya,’’ kata Ketut.
Alhamdulillah... (@AdlawiSamsudin, [email protected])

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia