Senin, 21 Aug 2017
radarbali
Metro Denpasar

Jatuh dari Pohon Cengkih Setinggi 10 Meter, Begini Kondisi Budiarta…

Minggu, 13 Aug 2017 07:45 | editor : ali mustofa

SETIA : Ni Luh Gede Sarni ketika menemani suaminya saat mendapat perawatan medis di IGD RS Sanglah kemarin.

SETIA : Ni Luh Gede Sarni ketika menemani suaminya saat mendapat perawatan medis di IGD RS Sanglah kemarin. (Juliadi/Radar Bali)

RadarBali.com -  Malang nian nasib yang menimpa petani cengkeh asal Banjar Dinas Pupuan, Desa Pupuan, Tabanan.

I Wayan Budiarta, 40 mengalami patah tulang leher dan kedua kaki setelah terjatuh dari pohon cengkeh kebun miliknya.

Pria yang bekerja sebagai petani cengkeh harus mendapat penanganan medis di IGD RS Sanglah, Sabtu (12/8) kemarin.

Dia dipastikan mengalami kelumpuhan pada kedua kaki yang mengalami patah tulang lantaran jatuh dari pohon cengkih.

Istri korban Ni Luh Gede Sarni, 37, yang setia menemani suaminya ketika mendapat perawatan medis di IGD RS Sanglah mengatakan, kejadian yang menimpa suaminya terjadi Kamis, (9/8) sore.

Saat itu suaminya bersama adik memetik cengkih di kebun miliknya. Berangkat dari rumah sekitar pukul 13.00 siang. 

Suami sempat berpamitan kepadanya. Sekitar pukul 15.30 tiba-tiba adik dari suaminya pulang ke rumah memberitahukan bahwa suami terjatuh dari pohon.

"Saya yang mendengar kejadian tersebut shock. Pasalnya baru saja berangkat usai makan siang. Saya pun langsung meminta bantuan kepada keluarga lainnya di rumah," ujar perempuan yang menggunakan baju kaos berwarna merah muda ini. 

Diungkapkan Sarni, suami terjatuh karena terpeleset dari tangga bambu yang dinaikinya. Kemudian terjatuh ke bawah, adik dari suaminya saat itu bersamanya dan berada di bawah pohon.

Ketinggian pohon cengkih yang akan dipetik suaminya sekitar 10 meter.  Pekerjaan sebagai petani cengkeh sudah lama digelutinya.

Apalagi soal menaiki dan memetik cengkeh setiap panen dalam satu tahun sekali pasti dilakukan. Suaminya sudah mendapat penanganan medis pertama di RSUD Buleleng.

Namun, tak ada perubahan. Pihak medis RSUD Buleleng menyarankan untuk dirujuk kembali ke RS Sanglah Denpasar.

Alasan pihak medis disana, karena tidak adanya alat medis bedah tulang dan dokter spesialis tulang. 

"Kejadian ini menjadi pelajaran bagi keluarga kami yang sebagai besar bekerja sebagai petani cengkeh. Walaupun sudah biasa pekerjaan menaiki pohon dilakukan. Tetapi tetap harus berhati-hati," tuturnya. 

(rb/jul/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia