Jumat, 28 Jul 2017
radarbali
Features
Melongok Budidaya Cacing Tanah di Petang

Potensi Menggiurkan, Cacing Diolah untuk Pakan Ternak

Senin, 17 Jul 2017 18:00 | editor : ali mustofa

POTENSI: Made Wartana pembudidaya cacing tanah menunjukkan cacing hasil budidaya kepada para pengunjung

POTENSI: Made Wartana pembudidaya cacing tanah menunjukkan cacing hasil budidaya kepada para pengunjung (Made Dwija Putra/Radar Bali)

Cacing tanah (lumbricus rubellus) sangat berpotensi untuk dibudidayakan. Selain bisa dimanfaatkan untuk bahan komestik dan obat, cacing juga bisa diolah sebagai pakan ternak. Seperti apa?

 

MADE DWIJA PUTRA, Mangupura

MADE Wartana cukup lama membudidayakan cacing. Warga Banjar Dinas Sekarmukti, Petang, Badung, ini tergolong tekun membudiyakan cacing.

Pasalnya, potensi cacing tanah sangat menggiurkan. Tak hanya bisa dimanfaatkan untuk bahan komestik dan obat, cacing juga bisa diolah sebagai pakan ternak.

Festval Budaya Pertanian yang digelar sejak 15 Juli hingga 18 Juli 2017 di Jembatan Tukad Bangkung, Desa Plaga, Kecamantan Petang, menjadi bukti cacing tanah bisa dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat manusia.

Untuk diketahui, beragam produk pertanian disuguhkan dalam hajatan tersebut. Dan, di antara puluhan stand pertanian, ada yang menarik dari  stand Made Wartana, 52.

Ia menghadirkan cacing tanah. Stand tersebut menjadi daya tarik pengunjung. Sebab, cacing dipamerkan tersebut cacing yang masih hidup.

Made Wartana mengakui, ketertarikan untuk membudiya cacing tanah karena cacing tanah kaya manfaat dan juga mudah untuk memeliharanya. 

Selain bisa sebagai bahan baku kosmetik dan obat,  cacing juga bisa diolah menjadi pupuk organik, dan pakan ternak.

“Saya sementara konsen ke pakan ternak. Bisa untuk pakan bebek, sapi, babi, ikan lele, belut, itu semua bisa. Namun, sebelum dijadikan pakan ternak, diproses dulu menjadi bentuk pelet,” jelas Wartana Minggu (16/7).

Cara pemeliharaannya juga cukup mudah. Sebab cacing sangat cepat berkembang. Ia sendiri menggunakan media berbahan serbuk gergaji kayu, pohon pisang, dan sebagainya.

Kalau misalnya untuk obat, biasanya diberikan limbah organik seperti ampas tahu. Sedangkan kalau hanya untuk pakan ternak, bisa diberi makan kotoran sapi.

Selain itu perlu disiapkan tempat berupa lantai yang diberikan alas atau bisa lantai semen agar cacing tidak membuat lubang kemana-mana.

Kemudian media tanam dengan ketebalan sekitar lima sentimeter atau lebih yang pada pinggirannya diberikan bedeng agar cacing tak keluar.

Perlu juga diperhatikan kelembapan yang harus dijaga setiap harinya serta pakan yang teratur.  “Pemeliharaannya gampang. Dalam hitungan dua hingga tiga bulan, jumlah cacing bisa menjadi tiga kali lipat, ” terang pria yang memiliki profesi sebagai apoteker ini.

Mengenai harga jual, untuk bibit seharga Rp 60 ribu per kilogram yang terdiri dari 40 persen indukan plus ratusan kokon dan anakan.

Selanjutnya cacing hidup Rp 40 ribu per kilogram, tepung cacing Rp 400 ribu per kilogram, kapsul lumbricus Rp 40 ribu per botol, media cacing Rp 2.500 per kilogram, dan kascing (pupuk cacing) Rp 2.500 per kilogram.

Saat ini, ia mengaku sudah memiliki cacing setidaknya tiga ton. Sementara untuk proses masih belum maksimal, karena konsen ke pengembangbiakan untuk bibit.

Namun, ia sangat semangat membudidayakan cacing. Ia berharap suatu saat Badung utara bisa menjadi salah satu daerah penghasil cacing terbesar.

“Ini sumber daya alam yang berpotensi dan bermanfaat luar biasa tapi tidak diperhatikan. Saya sekarang mau terjun mengajak masyarakat dan ingin membuat sentra cacing di Badung utara,” pungkasnya. 

(rb/dwi/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia