Senin, 21 Aug 2017
radarbali
Bali Utama

Tunggu Antrean, Calon Pasien Ada yang Tewas

2017-05-13 13:00:00

Tunggu Antrean, Calon Pasien Ada yang Tewas

TKP: Lokasi kematian korban di Poliklinik Bedah RS Sanglah belum dipasang garis polisi. (Juliadi/Radar Bali)

RadarBali.com - Seorang lelaki berumur kurang lebih 39 tahun, calon pasien di Poliklinik Bedah RS Sanglah dilaporkan tewas di ruang tunggu, kemarin (12/5) pukul 08.00.

Belum diketahui pasti penyebab kematian korban. Namun, insiden itu membuat heboh pasien dan pengunjung yang berada di ruang tunggu.

Menurut seorang penunggu pasien, Elyani, saat ditemukan pertama kali posisi korban duduk terbujur kaku.

“Saat itu saya dan pasien lainnya juga menunggu antrean di ruang tunggu Poliklinik Bedah RS Sanglah,” ujar Elyani kemarin.

Melihat kondisi itu, salah seorang co-ass yang saat itu sedang berjalan dan berada di lokasi kejadian langsung datang dan mengecek si calon pasien. Pasien tersebut langsung dibawa ke IGD.

Dan, ternyata hasil dari pemeriksaan medis, tak ada denyut nadi di tubuh korban. Korban dinyatakan meninggal dunia saat menunggu antrean.

Petugas keamanan rumah sakit langsung memeriksa identitas korban. Ternyata ditemukan dompet warna putih yang berisi uang sejumlah Rp 50 ribu, ATM, KTP atas nama I Wayan Denes, kartu pelanggan mobil Toyota, kuitansi prima Laundry, dan beberapa nomor handpone yang tertulis dalam kertas.

Ironisnya, kejadian ini seperti ditutup-tutupi pihak RS Sanglah. Pihak kepolisian baru mengetahui kejadian tersebut sekitar pukul 16.00, atau 8 jam setelah korban meninggal.

Celakanya, ruang tunggu poliklinik bedah semestinya dipasangi police line untuk mengamankan barang bukti. Sekaligus untuk mengetahui apakah korban mati karena sakit atau sebab lain.

“Secara prosedur, ketika pertama kali ditemukan meninggal, tak seorang pun dapat menyentuh jenazah sebelum polisi datang. Pihak rumah sakit harus melapor ke pihak kepolisian. Tapi, sayang kejadian ini baru dilaporkan sore harinya,” terang sumber.

Polisi sendiri langsung mengecek identitas yang ditemukan di dompet korban. Yang mengagetkan, pemilik KTP atas nama Wayan Denes ternyata masih hidup.

Artinya, korban bukan Wayan Denes. Denes diketahui hidup dan menetap di Bangli.

“Untuk sementara status korban masih Mr X,” bebernya. Kasubaghumas RS Sanglah Kadek Nariyantha mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan pengecekan terhadap seorang pria yang meninggal di ruang tunggu poliklinik bedah.

Hasilnya tak ada penunggu yang menemani pasien dan keluarga dari pasien tersebut. Pasien tersebut tidak membawa rekaman medis.

“Kejadian ini sudah kami laporkan kepada pihak kepolisian. Hingga saat ini kami masih melakukan pencarian terhadap keluarga korban,” kata Kadek Nariyantha.

Berdasar hasil pemeriksaan luar, jenazah Mr X berusia antara 30 -50 tahun. “Ciri-cirinya warna kulit sawo matang, berat badan 91,5 kg, tinggi badan 160 cm, zakar tidak disunat, rambut hitam, jenggot dan kumis tercukur,” jelas Kunti, dokter staf forensik.

Diungkap Kunti, pada bagian tubuh korban terdapat tato. Di bagian lengan kanan ada tato bergambar belati, tengkorak dililit tali dan api.

Sedangkan pada dada ada tato bergambar strawberry. Pakaian yang digunakan adalah t-shirt hitam dengan tulisan Pearls warna putih, dan celana pendek selutut warna abu-abu.

“Bagi keluarga atau masyarakat yang mengenal tentang ciri-ciri korban dapat menghubungi pihak RS Sanglah dan pihak kepolisian,” papar Kadek Nariyantha.

Di lain sisi, Kanitreskrim Polsek Denpasar Barat Iptu Aan Saputra mengaku terkejut mendengar kabar ada calon pasien meninggal di ruang tunggu Poliklinik Bedah RS Sanglah.

“Saya langsung koordinasi dengan SPKT polsek dan Polresta untuk memastikan kasus ini dilaporkan atau tidak. Setelah dipastikan tidak ada laporan, kami langsung berkoordinasi dengan pihak RS Sanglah,” ujar Iptu Aan Saputra kemarin.

Berdasar koordinasi, pihak RS Sanglah mengakui ada calon pasien tewas saat menunggu di poliklinik bedah. Polisi pun langsung melakukan olah TKP.

“Saya tak tahu mengapa pihak RS Sanglah tidak melapor ke polisi terkait temuan ini. Anehnya, security dan paramedis langsung mengevakuasi korban ke ruangan IGD untuk diperiksa lebih lanjut. Dalam pemeriksaan di IGD, itu korban sudah tidak bernyawa.  Baru dibawa ke ruang jenazah. Padahal, prosedurnya tak seperti itu,” paparnya.

Anehnya, pimpinan rumah sakit tak mengizinkan kasus ini dilaporkan ke kepolisian.

“Security sebenarnya mau melapor. Tapi, bagian humas tidak mengizinkannya. Sungguh aneh, kok ada orang yang meninggal tidak wajar dengan kondisi yang mencurigakan justru ditutup-tutupi. Bagaimana kami mau melakukan penyelidikan?” tandasnya.

Kepolisian sendiri langsung melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi dan juga rekaman kamera pengawas di TKP.

“Di tubuh korban ditemukan lebam, wajahnya dalam keadaan membiru kehitaman. Tapi, kami belum bisa membeberkan penyebab tewasnya korban, masih dalam penyelidikan lebih lanjut,” kilahnya.

Terkait temuan di TKP yakni dompet berisi ATM BRI, BPD, kartu nama Sari Mode, dan KTP atas nama I Wayan Denes, Iptu Aan Saputra masih melakukan penyelidikan.

“Kami masih cari keluarga korban. Diduga korban datang sendirian. Oh ya, saat ditemukan dari mulut korban keluar buih warna putih,” tandasnya.

Iptu Aan menambahkan, dari koordinasi dengan Polres Bangli ternyata KTP yang ditemukan milik korban penipuan dan penggelapan sepeda motor. Ada indikasi korban adalah pelaku penipuan. 

“Kami belum bisa pastikan apakah korban ini pelakunya atau saudara korban penipuan itu. Petugas dari Bangli sementara dalam perjalanan ke RS Sanglah,” pungkasnya.  (uli/dre/mus)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia