Senin, 21 Aug 2017
radarbali
Bali Utama

Pasien Salah Obat di Buleleng Pilih Berobat ke RS Sanglah

2017-05-09 11:20:00

Pasien Salah Obat di Buleleng Pilih Berobat ke RS Sanglah

KONTROL: Pasien Ketut Yasa kemarin memeriksakan matanya di poliklinik mata RS Buleleng. Yasa berencana berobat ke RSUP Sanglah untuk memastikan kesehatan matanya. (Eka Prasetya / Radar Bali)

RadarBali.com – Ketut Yasa, 58, warga Jalan Pulau Irian yang menjadi korban salah obat di Puskesmas Buleleng III, berencana berobat ke RS Sanglah Denpasar.

Rencananya Yasa berobat ke RS Sanglah Rabu (10/5) besok untuk memeriksakan kondisi nanah pada matanya. Pasien Ketut Yasa, Senin (8/5) kemarin kembali mendatangi poliklinik mata di RSUD Buleleng untuk memeriksakan kondisi matanya.

Sama seperti hari-hari sebelumnya, matanya belum juga menunjukkan perkembangan berarti. Mata kirinya terus mengeluarkan air, juga mengeluarkan nanah pada ujung kiri.

Selain itu ia juga mengaku nyeri pada separo wajahnya, tepatnya di bagian kiri. Mulai dari bagian mata, kantung mata, pipi, hingga hidung.

Selain itu hidungnya juga terasa nyeri dan terdapat benjolan serupa bisul pada hidungnya. Dari hasil konsultasi dengan dokter spesialis di RSUD Buleleng, Yasa disarankan untuk mencari ahli lain untuk memastikan kondisi nanah yang keluar dari matanya.

Rencananya ia akan mendatangi dokter ahli infeksi imunologi di RS Sanglah Denpasar, pada Rabu besok. “Dokter tidak berani memberikan penjelasan soal nanah yang keluar ini. Saya disarankan mendatangi ahli infeksi imunologi. Biar ahli itu dulu menangani,” kata Yasa.

Apabila dokter menyatakan perawatan lanjutan hanya perlu dilakukan di RSUD Buleleng, ia akan melanjutkan kontrol di Buleleng.

Namun jika perlu dirawat intensif, ia akan menjalani perawatan di RS Sanglah Denpasar, sampai kondisi mata kirinya membaik. Yasa juga menegaskan dirinya tak akan mengambil jalur hukum, tatkala matanya bisa normal kembali.

Namun, jika matanya tak mengalami kesembuhan, ia tak ragu-ragu melayangkan tuntutan pidana dan menggugat secara perdata. Ia juga menyatakan menolak diberikan biaya ganti pengobatan dari pemerintah.

“Saya sudah pakai BPJS, saya bayar Rp 80 ribu tiap bulan. Makanya kalau saya diberi uang untuk pengobatan, nggak usah. Orang saya pakai BPJS kok, sudah ditanggung BPJS Kesehatan. Saat ini saya hanya butuh sembuh, itu aja,” tegasnya.

Kepala Puskesmas Buleleng III dr. Dewa Putu Merta Suteja secara terpisah juga membenarkan jika pasien Ketut Yasa disarankan berkonsultasi kepada dokter ahli imunologi di RS Sanglah Denpasar.

Rencananya pihak puskesmas bersama Dinas Kesehatan Buleleng akan mendampingi dan memantau kondisi Yasa saat melakukan pengecekan.

“Yang jelas kami tetap melakukan pendampingan dan pemantauan. Tentunya kami selalu mendoakan yang terbaik dan berharap yang terbaik,” kata Suteja.

Khusus untuk uang Rp 1 juta yang diberikan pihak puskesmas kepada pasien Ketut Yasa, Suteja menegaskan uang itu diberikan tanpa maksud memberikan suap.

“Itu hanya untuk mengganti biaya pembelian obat, bukan untuk apa-apa. Kami mohon jangan diartikan lain. Itu juga hasil urunan teman-teman kami di puskesmas, sebagai tali asih. Tidak ada tendensi apa-apa kok,” imbuhnya.

Sementara itu, asosiasi profesi dokter di Buleleng, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Buleleng, menegaskan dokter yang bertugas di Puskesmas Buleleng III, secara prosedur tak memenuhi unsur malapraktik.

Dari hasil investigasi IDI Cabang Buleleng, dokter yang bertugas di puskesmas setempat, telah memberikan resep yang benar.

Hanya saja obat yang diserahkan oleh petugas farmasi kepada pasien, berbeda dengan obat yang diresepkan. Sehingga patut diduga terjadi kesalahan prosedur saat petugas farmasi mengambil obat.

Di luar masalah itu, IDI Cabang Buleleng juga menemukan adanya unsur kurang profesional dari dokter yang bertugas saat itu.

“Sebenarnya dokter tidak salah menulis resep. Tapi, letak masalahnya hanya pada komunikasi dokter ke pasien saja. Kalau saja komunikasinya bagus, itu bisa meringankan masalah. Apalagi sempat mengatakan bahwa obat yang diberikan adalah obat pelicin, kemudian sambil main HP, itu tidak profesional. Itu saja kekeliruannya. Kalau resep tidak ada kesalahan,” kata Ketua IDI Cabang Buleleng dr. Putu Sudarsana Sp.OG. saat ditemui siang kemarin.

Seperti diberitakan sebelumnya, Ketut Yasa, 58, warga Jalan Pulau Irian mendatangi Puskesmas Buleleng III untuk mendapatkan pelayanan kesehatan pada Rabu (3/5) lalu.

Saat itu Yasa datang dengan keluhan radang pada mata. Setelah dilayani, Yasa diberikan resep dan menebusnya ke apotek di puskesmas setempat.

Saat itu obat yang diberikan adalah Phenol Glycerol. Pada sampul obat tertulis bahwa obat itu tetes telinga.

Namun karena merasa yakin, tetes telinga itu tetap digunakan pada mata. Bukannya membaik, kondisi mata kian parah.

Yasa pun komplain ke pihak puskesmas. Saat itu obat langsung diganti dengan obat lain yang bernama Cloramphenicol. Obat ini juga obat tetes telinga.

Masih merasa yakin dengan obat yang diberikan, Yasa meneteskan obat itu ke matanya dan juga tak membuahkan hasil.

Yasa akhirnya berobat ke dokter spesialis mata dan secara resmi melayangkan komplain ke Puskesmas Buleleng III pada Kamis (4/5).

Untuk sementara Yasa mengaku memaafkan keteledoran yang terjadi di lembaga pelayanan kesehatan itu. Namun jika kondisi matanya memburuk, ia akan melapor secara pidana dan melayangkan gugatan secara perdata. (eps/mus)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia