Senin, 21 Aug 2017
radarbali
Bali Utama

Penambangan Ilegal di DAS Tukad Ayung Akhirnya Dihentikan

2017-05-04 15:00:00

Penambangan Ilegal di DAS Tukad Ayung Akhirnya Dihentikan

ILEGAL: Tambang pasir di daerah aliran sungai (DAS) Ayung, di Desa Kedewatan, Kecamatan Ubud dihentikan polisi karena tidak memiliki izin operasional. (Istimewa )

RadarBali.com – Aksi penambangan pasir di jalur rafting yang berlangsung sejak lama di daerah aliran sungai (DAS) Tukad Ayung di Desa Kedewatan, Kecamatan Ubud, dihentikan Unit IV Tipiter Satreskrim Polres Gianyar.

Polisi menggerebek tambang pasir ilegal Selasa (2/5) petang pukul 16.30. Perlengkapan konvensional menambang pasir dan bos tambang I Wayan Malen, 50, Banjar Karang Dalem II, Desa Bongkasa Pertiwi, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, langsung diamankan.

Kasatreskrim Polres Gianyar AKP Marzel Doni menyatakan penggerebekan dilakukan setelah warga yang prihatin dengan aktivitas penambangan melapor ke petugas.

Penambangan dengan menyedot pasir di aliran sungai Ayung menggunakan selang dan alat pompa. Tim turun di bawah komando Kanit IV Satreskrim Polres Gianyar Iptu AA Alit Sudarma.

“Kami gerebek saat ada aktivitas penambangan. Langsung kami tanya izinnya. Karena tak bisa menunjukkan, langsung kami stop,” kata AKP Marzel.

Cara kerja penambangan pasir dengan menarik pasir yang ada di sungai menggunakan mesin. Pasir  yang ditarik ini kemudian dibawa ke bak penampungan yang memiliki luas sekitar setengah are lebih.

“Setelah penuh, pasir kemudian dimasukkan ke dalam bak yang terbuat dari drum, lalu ditarik menggunakan mesin katrol ke atas tebing. Jadi, bisa langsung dinaikkan truk untuk dijual,” ujarnya.

Dari penyergapan  itu, selain menghentikan aktivitas tambang, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti.

Barang yang disita di antaranya satu unit mesin pompa penyedot pasir beserta kunci kontak, dua buah sekop, satu buah aki, satu unit mesin katrol untuk menarik bak pasir, dua buah bak tempat pasir, satu rol kawat sling, dan satu rol selang penyedot pasir.

Tidak itu saja, untuk menguatkan penyelidikan, polisi menyita pasir sebanyak 12 meter kubik. Dua orang buruh tambang ikut diamankan untuk dimintai keterangan.

Yakni Solihin, 42, warga Dusun Patoman, Desa Watukebo, RT001/RW VI, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, Jawa Timur, dan Indri Purna Irawan, 25, warga Dusun Kemis Kulon, RT 001/ RW 010 Desa Wonosobo, Kecamatan Srono, Banyuwangi, Jawa Timur, dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.

Berdasar hasil interogasi, bos penambang pasir liar Wayan Malen mengaku, setiap hari mampu menambang 15 sampai 20 meter kubik pasir.

Kemudian pasir itu dijual seharga Rp 60 ribu per meter kubik. “Dari pengakuan tersangka dan para buruh, kegiatan penambangan tanpa izin ini sudah dilakukan selama satu tahun,” jelasnya.

Menurut AKP Marzel, bos tambang dijerat melanggar Pasal 158 UU RI No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

“Dari pasal ini tersangka diancam hukuman 10 tahun penjara dan denda Rp 10 miliar,” tandasnya.

Menurutnya, perbuatan tersangka melanggar hukum dan merusak lingkungan. “Di sana kan bukan kawasan penambangan pasir, jadi ini memang baru sekali, dan bila masih ada penambang illegal lain yang seperti ini juga akan segera kami tangkap,” pungkasnya. (dra/mus)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia