Senin, 21 Aug 2017
radarbali
Bali Dwipa

Prostitusi Terang- Benderang, Diduga Ada Permainan Aparat

2017-05-01 09:00:00

Prostitusi Terang- Benderang, Diduga Ada Permainan Aparat

ilustrasi (dok JPNN)

RadarBali.com – Lokalisasi di Kota Denpasar yang tersebar di Jalan Danau Tempe, Jalan Danau Poso, Jalan Sekar Waru, dan Bet Ngandang, adalah fakta tak terbantahkan.

Namun yang menarik, meski terang-terangan beroperasi sepanjang malam (kecuali Nyepi), lokasi yang ramah terhadap warga lokal dan turis mancanegara itu tak tersentuh aparat. Padahal, tiap hari aparat Satpol PP, polisi, dan pecalang setempat, hilir mudik di area prostitusi.

Mirisnya, para pengunjung dan beberapa oknum yang biasa menawarkan pekerja seks komersial (PSK) kepada para lelaki hidung belang, tampak, sudah terbiasa dengan kehadiran aparat penegak hukum.

Meski begitu, sikap waspada tetap ditunjukkan para pengelola tempat mesum tersebut. Tak tanggung-tanggung, pengelola prostitusi di Jalan Sekar Waru No. 3 B, Semawang, Sanur, memasang Closed Circuit Television (CCTV).

Menariknya CCTV yang dipasang di pintu masuk menuju lokasi prostitusi tersebut terhubung dengan handphone yang dipegang sang mucikari. Belakangan diketahui mucikari tersebut merupakan wanita lokal Bali asal Singaraja, Buleleng.

Tak jarang sambil menerima setoran (umumnya Rp 150 ribu- Rp 200 ribu sekali transaksi) dari para PSK, sang mucikari membuat sarana upacara berbahan janur. Setiap kali ada razia, lokasi prostitusi ini selalu tak tersentuh.

Petugas yang datang umumnya tak menemukan apa-apa lantaran informasi penggerebekan serahasia apapun sifatnya selalu bocor. Kasatpol Pamong Praja Denpasar Alit Wiradarma mengatakan, beberapa tempat yang terindikasi menjadi lokasi praktik prostitusi sudah dibongkar oleh pihaknya.

“Satpol PP Denpasar bersama Tim Yustisi serta aparat desa setempat telah melakukan pembongkaran. Seperti di Jalan Bung Tomo Desa Pemecutan Kaja dan juga rumah kumuh di bawah jembatan di Jalan By Pass Ngurah Rai Padang Galak Desa Kesiman, Kertalangu,” ucapnya.

Alit Widarma juga menegaskan tempat lain yang terindikasi menjadi praktik prostitusi juga telah ditertibkan. Bahkan, penghuninya dituntut pidana ringan di Pengadilan Negeri Denpasar.

Untuk penanganan lebih lanjut, khususnya terkait para PSK, Satpol PP berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kota Denpasar dan Dinas Sosial Bali.

“Umumnya para PSK tersebut dipulangkan ke daerah asal mereka. Kemudian diserahkan ke dinas sosial di mana yang bersangkutan berasal. Proses ini sesuai dengan SOP (standar operasional prosedur),” tandasnya.

Sayangnya, bagaimana aparat bahu-membahu menghentikan dan membongkar bisnis prostitusi di Jalan Danau Tempe, Jalan Danau Poso, Jalan Sekar Waru, dan Bet Ngandang, nyaris tak pernah dilakukan.

Bisnis esek-esek di tempat itupun seperti mendapat pembenaran. Apalagi, ada indikasi kongkalikong aparat penegak hukum dan aparatur desa untuk membiarkan lokalisasi di tempat tersebut tetap beroperasi secara terang-terangan.

Apakah benar ada uang tip kepada oknum aparat nakal? Belasan sumber koran ini di lokasi tersebut kompak menyatakan benar.

Mereka menyebut setoran tersebut biasa ditagih setiap awal bulan ke lokasi tersebut. Beberapa di antaranya lewat transfer. “Uang yang kami dapat dari pelanggan biasanya langsung dipotong untuk mami (mucikari) sekian dan untuk yang lain,” ucap salah seorang PSK.

Terkait hal tersebut, Kasatpol PP Kota Denpasar Alit Widarma menyebut pihaknya tak akan tinggal diam. “Penertiban tempat-tempat yang disinyalir jadi tempat prostitusi tetap berlanjut karena melanggar Perda No. 1 tahun 2015 tentang ketertiban umum. Mohon dukungan semua pihak,” tegasnya. (ken/mus)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia