Minggu, 20 Aug 2017
radarbali
Bali Dwipa

Hmm... Bengkala Kembangkan Minuman Sehat Sari Kunyit

2017-04-25 10:30:00

Hmm... Bengkala Kembangkan Minuman Sehat Sari Kunyit

SEHAT: Minuman sari kunyit yang diproduksi warga Bengkala memiliki rasa yang khas. (Eka Prasetya/Radar Bali)

RadarBali.comWarga di Desa Bengkala kini mulai melirik produksi minuman sari kunyit. Minuman yang diyakini memiliki khasiat kesehatan ini sengaja dikembangkan, untuk memberikan nilai tambah bagi tanaman kunyit. Apalagi Desa Bengkala memang dikenal sebagai pusat pertanian kunyit di Kabupaten Buleleng.

Masyarakat di Desa Bengkala sudah menanam kunyit di areal perkebunan mereka secara turun temurun. Hampir setiap pemilik lahan di desa tersebut, selalu menanam kunyit. Entah itu untuk konsumsi sendiri, maupun dijual ke pasaran.

Namun karena harga kunyit sangat murah, warga dibantu sejumlah akademisi berupaya memberikan nilai tambah kepada tanaman kunyit.

Caranya, membuat minuman sari kunyit. Minuman ini mulai dikembangkan di Kelompok Ekonomi Masyarakat (KEM) Bengkala. Hanya saja produksinya masih belum optimal, karena peminatnya juga belum banyak.

Salah seorang warga yang masih rutin memproduksi minuman sari kunyit adalah Kadek Sami, 51. Kadek Sami memproduksi minuman sari kunyit dengan cara yang sangat sederhana dan masih berbentuk industry rumah tangga. Bahan bakunya pun diambil dari perkebunan sendiri.

Biasanya Sami memproduksi minuman sari kunyit tiap tiga hari sekali. Sekali produksi, ia hanya membuat 50 botol minuman sari kunyit.

Dalam sekali produksi ia menggunakan bahan baku tiga kilogram kunyit untuk 50 botol. Setelah dibersihkan, kunyit ditumbuk dan di-blender hingga halus.

Kunyit kemudian dicampur dengan gula aren, air, serta asam jawa atau tamarind, lalu direbus hingga mendidih. Setelah mendidih minuman itu di dinginkan dan dikemas dalam wadah botol plastik dengan label nama “Sakuntala”.

“Saya buatnya jarang-jarang. Seminggu sekali, kadang seminggu dua kali, tergantung pesanan. Karena sekarang kan belum lancar. Tapi ada saja yang beli,” kata Sami.

Koordinator Pemberdayaan Pengolahan Hasil Pertanian KEM Bengkala, Ni Gusti Agung Eka Martaningsih mengungkapkan, pihaknya sengaja memilih kunyit sebagai fokus produksi olahan di Desa Bengkala.

Alasannya produksi pertanian terbesar di Bengkala merupakan produksi terbesar. Ironinya, harga kunyit di pasaran tak seberapa. Kebetulan rasa kunyit di Bengkala juga memiliki keunikan tersendiri.

“Kualitasnya beda. Umbinya besar, kemudian rasanya tidak terlalu kuat. Kami anggap ini cocok sebagai minuman sehat. Ini bukan jamu, tapi minuman sehat,” katanya. (eps/gup)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia