Minggu, 20 Aug 2017
radarbali
Produk

Mobil Bekas Turun Drastis Sejak Awal 2017

2017-04-19 13:30:00

Mobil Bekas Turun Drastis Sejak Awal 2017

TUNGGU PEMBELI: Deretan mobil di salah satu showroom di kawasan jalan HOS Cokroaminoto, Denpasar, kemarin. (Adrian Suwanto/Radar Bali)

RadarBali.com – Penjualan mobil bekas di beberapa showroom mobil di kawasan Kota Denpasar, memiliki nasib kurang bagus di tahun 2017 ini. Pasalnya, kondisi lesunya perekonomian masyarakat membuat penjualan mobil bekas di kawasan Denpasar mengalami penurunan yang drastis, hal lantaran minat beli masyarakat turun.

Selain itu kemudahan pembelian mobil baru harga murah dengan down payment (DP) alias muka uang ringan, juga mempengaruhi pasar mobil bekas.

Kondisi ini hampir dialami beberapa pelaku usaha jual beli mobil bekas di kawasan Denpasar.

Seperti yang dialami Gerge Mario, 46, Telemarketing showroom mobil bekas Mekar Sari Mobilindo yang berdiri di kawasan Jalan Gatot Soebroto Timur, Denpasar.

Dia mengaku, penurunan penjualan mobil bekas showroom nya tersebut hingga 50 persen, meski di kalangan Finance rata-rata tingkat penjualan showroom ini masih tertinggi di antara lainnya.

“Kalau dari segi penjualan sejak awal tahun 2017 ini memang menurun drastis. Satu tahun lalu kami bisa menjual sampai 46 unit dalam satu bulan, sekarang 20 unit saja susah, itu kami berlakukan DP minim kalau nggak gitu susah laku,” ucapnya ditemui Selasa (18/4).

Ada beberapa hal yang menurutnya menjadi faktor pendukung penurunan penjualan mobil bekas selain daya beli masyarakat yang minim.

Situs jual beli online yang kini memberlakukan tarif bayaran juga sangat mempengaruhi, karena sebelum diberlakukan tarif penjualan produk hampir 80 persen situs jual beli online sangat efektif dalam mendorong peningkatan penjualan.

“Sekarang kami sudah tidak bisa lagi lewat online, karena kalau mobil biayanya mahal. Selain pemberlakuan tarif pemasangan di situs online, pengaruhnya juga pada keberadaan mobil baru yang murah, sehingga banyak masyarakat yang beralih,” tutur George.

Hingga memasuki bulan ke empat tahun 2017 ini ia dan beberapa pelaku usaha jual beli mobil bekas belum menemukan gejolak peningkatan penjualan atau peningkatan daya beli masyarakat.

Dari beberapa koleksi mobil miliknya itu, bahkan ada yang sampai satu tahun belum laku juga. Kondisi ini tentunya semakin membuat terpuruk, karena ada penambahan biaya untuk biaya perawatan, operasional dan juga gaji karyawan.

 “Kami berharap ke depan ada gejolak peningkatan. Tapi untuk di showroom kami sendiri kami hanya memberlakukan sistem kredit saja dan tidak melayani cash,” pungkasnya. (zul/han)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia