Rabu, 23 Aug 2017
radarbali
Hiburan Budaya

Perjalananan Putu Dian Ujiana, Seniman Kartun Asal Buleleng

Tersentak Nasihat Bule, T-Shirt Jadi Ruang Kreatif

2017-04-15 14:40:00

Perjalananan Putu Dian Ujiana, Seniman Kartun Asal Buleleng

BERKELAS: Kartunis Putu Dian Ujiana dengan karya goresan diatas kertas. (I Wayan Widyantara/Radar Bali)

RadarBali.com- Siang itu, koran ini dengan Putu Dian Ujiana duduk ngobrol di sepasang kursi kayu. Di depannya, ada sebuah meja yang tertempel colokan daya listrik, asbak rokok dan tisu.

Tentu ditemani kopi dan teh yang disajikan oleh tuan rumah.

Yakni, sebuah yayasan yang bergerak di bidang sosial dan lingkungan, Manik Bumi Foundation.

Bersama dengan tuan rumah,  koran ini ngobrol santai soal pelestarian tukik di Buleleng.

Bandul jam di dinding sekretariat Manik Bumi yang berada di Jalan Seroja, Buleleng tersebut mengarah pada pukul 12.00.

Datanglah sesosok laki-laki dengan wajah berjengot dan berkacamata.

Ia adalah Putu Dian Ujiana. Salah satu kartunis di Buleleng.

Kami memang janjian bakal ketemu. Beberapa karyanya menarik perhatian banyak orang, termasuk Jawa Pos Radar Bali.

Putu Dian, panggilan akrabnya langsung menaruh tas rangselnya yang terlihat berat tersebut.

Kemudian saling bertegur sapa dengan kami. Penampilan yang cenderung rapi, sebenarnya tak memperlihatkannya sebagai seorang seniman.

Namun siapa sangka, salah satu temannya mencarikannya sebuah kertas kosong dan spidol berwarna kemudian diberikan kepada Putu Dian.

Ia kemudian tersenyum melihat kertas kosong diatas meja, tepat di depan dirinya tersebut. Awalnya Ia terlihat bingung.

Sebab, mencari ide tak segampang mencari ikan di pasar. Tak lama waktu berselang, Putu Dian pun akhirnya menggoreskan tangannya dengan spidol tersebut.

Ia begitu cekatan dalam menggambar. Dalam waktu 5 menit, Ia berhasil menggambar Beluluk (karakter ciptaan Putu Dian) yang membuang sampah pada tempatnya.

Kecepatannya dalam menggambar, menandakannya sebagai seniman gambar lama. Dan itu terbukti, dari cerita demi cerita yang disampaikannya kepada koran ini.

Putu Dian, merupakan pria kelahiran Singaraja 29 tahun silam. "Selain menggambar, saya juga punya shop kecil bernama This Is Bali. Hasil karya-karya saya, saya aplikasikan dalam media T-Shirt," tuturnya.

Menariknya, Putu Dian bukanlah tamatan dari perguruan seni, melainkan D-1 dibidang perhotelan.

Dan ternyata, sebelum serius di bidang seni, Putu Dian bekerja di perhotelan dan bahkan sempat kerja di kapal pesiar.

Namun karena merasa tidak nyaman dan merasa fashionnya bukan di bidang perhotelan, akhirnya Putu Dian memutuskan untuk bekerja di rumah saja dan menekuni dibidang kartun.

Katanya, sebelum diperhotelan, Putu Dian sudah menyukai kartun. Tepatnya sejak SMA.

Awalnya, Putu Dian saat itu suka nonton kartun. Selain itu, Ia juga menyukai kartun-kartun yang ada di koran.

"Saya memang dari kecil suka menggambar. Namun belum terarah. Nah, setelah SMA baru mengkrucut ke kartun," terang pria yang awalnya suka menggambar gravity ditembok jalanan ini. 

Setelah memfokuskan diri dibidang kartun, Putu Dian pun mencoba mengirim karyanya tersebuy ke koran.

Ketika naik cetak, rasa bangga pun Ia rasakan saat itu. Baginya, kartun tersebut bersifat universal dan bisa di konsumsi oleh beragam usia.

"Selain itu, dalam kartun juga bisa memberikn pesan yang saya ingin luapkan, seperti saat ini, terkait isu lingkungan, sosial. Jadi, di sosial media, tidak hanya ketikan, tetapi bisa lewat gambar," terangnya.

Sebelum mencurahkan waktunya di jagat kartun, Putu Dian sempat diajak teman-temannya untuk masuk ke dunia perhotelan. Kata temannya, kalau mau cepat dapat duit, masuk di dunia perhotelan saja.

Setelah berhasil masuk ke dunia kapal pesiar selama dua tahun, rasa kurang nyaman pun muncul. 

"Untuk itu, saya di kapal, tetap menggambar kartun untuk membuat kartu ucapan bagi tamu yang sedang ulang tahun dan lainnya," kenangnya. Bahkan, tiap karyanya tersebut dibayar USD 50 per gambar. "Itu jadi hasil tambahan saya selama di kapal selain jadi housekeeping," imbuhnya.

Salah satu temannya yang ia gambarkan sebuah kartu ucapan di kapal pesiar dulu pernah mengatakan hal yang merubah hidupnya.

"Kamu tuh punya skill yang seperti ini, mengapa tak dikembangkan? Mengapa kerja disini? Kamu bisa menghasilkan uang kok dari bakatmu ini. Tuhan itu memberikan kemampuan bagi masing-masing orang untuk menggali potensi diri sendiri. Kamu masih bekerja disini, berati kamu stupid" demikian dia mengutip si Bule.

Ketika dibilang bodoh, Putu Dian kemudian langsung berputar otak.

Setelah itu, Putu Dian balik ke Bali dan memutuskan untuk berhenti kemudian fokus dibidang kartun.

Tepatnya, pada tahun 2010. Karena merasa bukan tamatan kampus seni, Putu Dian kemudian berteman dengan para seniman, seperti Seniman Bondres Rare Kual, Seniman musik Relung Kaca, beberapa kawannya di Denpasar dan aktif mengikuti workshop untuk menambah ilmunya. 

Putu Dian kemudian mencoba membuat karakter Bali yang ia sangat gemari.

Seperti menggunakan kamen, bunga dan udeng. Dan bahasa kartun yang digunakan, lebih sering menggunakan bahasa keseharian di Buleleng.

Karena Buleleng memiliki ke khasan bahasa yang unik dan penuh keakraban.

"Saya juga ingin, teman-teman luar Bali, bisa belajar bahasa Bali lewat kartun saya," terangnya.

Saat ini, Putu Dian sedang mengambil karakter kartun yang diberi nama Beluluk yang diambil dari kata Celuluk.

"Artinya pun banyak. Ada yang bilang, Buleleng Muluk Muluk dan lainnya, Terserah orang mengartinya," ungkapnya lantas tertawa. 

Namun sebelum ke Beluluk, Putu Dian juga kerap membuat gambar dengan menggunakan karakter patung di Buleleng seperti Tugu Singa, Tugu Pelabuhan dan Patung Dolphin.

Putu Dian gunakan ikon tersebut untuk melakukan kritik yang tentunya untuk membangun. Meskipun dari hal yang sederhana, seperti ada trafict ligth yang rusak, dan hal yang berdampak besar, seperti eksploitasi lingkungan. 

Putu Dian memang saat ini menggunakan T-Shirt dan media sosial sebagai ruang kreatifnya.

Baginya, dua media tersebut sangat murah dibanding yang lainnya.

Kemudian, This Is Bali sebagai brandnya yang dibuat pada tahun 2015 dan tokonya baru setahun yang lalu.

Dan baju-bajunya pun pernah digunakan oleh Balawan, Jun Bintang dan sederet tokoh seni dan musisi hingga aktivis di Bali. 

Guna mencari ide dalam karya seni gambarnya tersebut, biasanya dengan melakukan sosialisasi, membaca buku, koran dan melihat trend di masyarakat.

Nah, untuk pars kartunis di Bali saat ini, begitu sangat meningkat dan lebih kreatif.

"Idenya semakin bervariatif dan semakin konyol. Dan saya senang, semakin banyak yang suka sama kartun, terutama kartun Bali," terangnya. (I wayan widyantara/rid)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia