Senin, 21 Aug 2017
radarbali
Features
Melihat Sepak Terjang Komunitas Bali Indra Luwih Populerkan Pupuk Cair Organik

Pupuk Cair Terinspirasi dari Anak Penderita Kanker Stadium Lanjut

2017-04-04 10:30:00

Pupuk Cair Terinspirasi dari Anak Penderita Kanker Stadium Lanjut

BIKIN PUPUK ALAMI: Anak-anak mendapat pelatihan pembuatan pupuk organik cair dari Komunitas Bali Indra Luwih, Mengwi, Badung. (Istimewa)

Pupuk kimia adalah sebuah keniscayaan. Namun, melihat dampaknya yang merugikan kesehatan, Komunitas Bali Indra Luwih, Banjar Gulingan Tengah, Mengwi, Badung, mencoba memasyarakatkan penggunaan pupuk organik. Seperti apa?

 

DWIJA PUTRA, Mangupura

 

SEKITAR 20 anak-anak Sekolah Dasar (SD) Banjar Gulingan Tengah, Mengwi, Badung, kemarin (4/4), tampak begitu serius mengikuti proses pembuatan pupuk cair organik yang dipandu Putu Nugraha.

Para peserta sempat di-briefing sebentar sebelum demo pembuatan pupuk organik itu. Karena merupakan  pengalaman baru, anak-anak SD dan peserta demo begitu seksama mengamati jalannya demo. Mereka tak ingin salah mencampur bahan pupuk alami.

Bahan-bahan yang digunakan pupuk itu tidak sulit didapat. Banyak berserakan di lingkungan sekitar dan mudah dicari. Seperti kotoran sapi, dedak, sampah daun kering, gula, dan tebu.

Pantauan Jawa Pos Radar Bali, saat proses demo, bahan-bahan itu dikumpulkan kemudian dicacah dan dicampur dengan kotoran sapi serta air. Kemudian adonan pupuk alami itu diaduk-aduk. Setelah itu didiamkan selama 10 hari untuk proses fermentasi.

Selama proses fermentasi, setiap hari pupuk itu diaduk hanya sekali saja. Setelah 10 hari, bahan itu sudah bisa jadi pupuk dan siap digunakan untuk memupuk aneka jenis tanaman.

Khusus untuk pupuk dari kotoran sapi, bisa digunakan untuk pupuk tanaman berdaun hijau. Namun, untuk buah-buahan biasanya pupuk organik yang digunakan dari berbahan dasar kotoran kambing.

Sifat khas pupuk organik, selain dapat memperbaiki fisik, kimia, dan biologi tanah, juga dapat membantu meningkatkan produksi tanaman.

Dengan pemakaian pupuk organik secara massif, penggunaan pupuk anorganik dapat dikurangi. Sehingga morfologi tanah dapat dipertahankan.

Selain diikuti pelajar SD, guru dan kepala sekolah, demo pembuatan pupuk organik juga diikuti petani setempat.

“Ada beberapa petani yang ikut pelatihan dan mencoba membikin pupuk organik,” ujar founder Komunitas Bali Indra Luwih Agus Januraka. Apa respons petani? Menurutnya, sangat tertarik.

Hanya dalam masa transisi, kata dia, petani membutuhkan suntikan modal untuk membikin pupuk organik. “Petani juga berharap ada perhatian dari pemerintah agar program ini bisa berjalan massif,” tandasnya.

Agus Januraka sendiri mendorong masyarakat untuk berkebun dan bertani yang lebih sehat. Selain itu juga mendorong anak-anak terlibat dalam pertanian organik dan juga meditasi yoga karena dunia spiritual juga perlu ditanamkan sejak dini.

“Pada intinya kita berjalan di koridor warisan leluhur dulu seperti wariga, meditasi, dan juga pola pertanian organik seperti sedia kala. Kalau ini kita terapkan, hidup sehat bisa kita dapatkan,” paparnya.

Agus Januraka menambahkan, demo pembuatan pupuk organik cair ini baru pertama kali digelar Komunitas Bali Indra Luwih. “Acara ini sekalian jadi ajang deklarasi komunitas kami,” kata Agus Januraka.

Keberadaan Komunitas Bali Indra Luwih sendiri tak bisa dilepaskan dari keberadaan salah satu pelajar SD bernama Indra.

Indra adalah seorang anak yang kesehariannya bergelut dengan bahan-bahan kimia. Bahan-bahan kimia itu biasa dia konsumsi karena Indra mengidap penyakit kanker stadium lanjut.

“Semua yang hadir sepakat untuk hidup sehat dengan pupuk alami,” pungkas Agus Januraka.(*/mus)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia