Senin, 21 Aug 2017
radarbali
Features
Dari Metatah dan Otonan Masal di Banjar Geriana Kangin

Peserta Metatah pun Menangis saat Sungkem Orang Tua

2017-04-03 10:30:00

Peserta Metatah pun Menangis saat Sungkem Orang Tua

BERBARIS : Para peserta metatah masal kemarin berbaris saat ritual berlangsung setelah diberi wejangan orang tua. (Wayan Putra/Radar Bali)

Krama Banjar Desa Adat Geriana Kangin, Duda, Selat, Karangasem, kemarin tumpah ruah di bale banjar. Mereka mengikuti prosesi metatah dan otonan masal.  Tak kurang 156 peserta ikut dalam upakara tersebut.

 

WAYAN PUTRA, Selat

 

RITUAL  kali ini memang membuat suasana semarak. Maklum,  untuk otonan  ada sebanyak 100 orang peserta dan 57 orang metatah masal. Kegiatan ini didukung enam banjar patus yang ada di Banjar adat Geriana Kangin.

Seperti Banjar Patus Darma Sila, Darma Artha, Darma Yadnya, Darma Santi dan juga Darma Yasa Geriana Kangin.  Untuk diketahui, Banjar Desa, Adat Geriana Kangin mencapai 488 KK. Ritual metatah sendiri sudah dilakukan mulai pukul 03.00  dini hari. 

Diawali dengan sungkem atau ngaturang bekti kepada kedua orang tua untuk peserta metatah masal. Sang anak yang akan melakukan metatah minta maaf sekaligus restu kepada kedua orang tuanya.

Sementara, sang orang tua memberi wejangan , nasihat, juga restunya kepada sang anak yang akan melakoni ritual penting tersebut.  Selain itu menurut salah satu sangging, yakni IB Suyasa, ritual metatah  merupakan tanggung jawab terakhir orang tua terutama kepada anak perempuan. Karena itu saat metatah juga didampingi kedua orang tua mereka.

Bahkan sang ibu ikut memegang pada bagian kaki sang anak saat gigi putra putri  mereka dipotong oleh sangging. Bahkan banyak anak- anak terutama anak perempuan yang menangis terharu ketika dilakukan sungkem.

Menurut IB Suyasa, metatah artinya mulai menata hidup mandiri terlepas dari orang tua sebagai anak mulai menginjak masa dewasa. Selain itu juga bisa diartikan untuk memangkas nafsu atau sad ripu yang ada dalam diri si anak.

Sementara, untuk biaya per orang dikenakan Rp 150 ribu untuk meotonan dan Rp 200 ribu untuk metatah. Menurut ketua panpel yang juga penglingsing Banjar Desa/Adat Geriana Kangin, I Nyoman Merta, metatah dan meotonan dilakukan secara masal.

Tujuanya adalah untuk membantu krama banjar yang tidak mampu.

Karena biaya untuk menggelar upacara seperti metatah dan otonan cukup besar di Bali. Bahkan untuk metatah saja kalau dilakukan di rumah bisa menelan biaya Rp 30 juta.

Dengan dilakukan secara masal maka akan menghabiskan biaya yang cukup besar.

Tak hanya itu,  juga untuk memupuk kebersamaan antar krama sehingga melestarikan tradisi gotong royong. Sementara pembuatan sarana upacara dilakukan secara gotong royong.

Metatah masal kali ini melibatkan empat orang sangging atau tukang tatah. Mereka adalah IB Suyasa dari Geria Pekarangan, Duda, IB Gede Yadnya atau Gus Basur dari Geria Duda, IB Darma Putra atau Gus Mama dari Geria Taman, Dusun Pegubungan, Selat dan Jro Mangku Mudayasa dari Banjar Geriana Kangin, Duda, Selat, Karangasem.

Sebelumnya juga dilakukan resepsi dan hadir Bupati Karangasem, IGA Mas Sumatri, bersama tim SKPD.

Mas Sumatri sendiri mendukung dengan semangat karena Geriana Kangin untuk melakukan upacara adat secara masal. Bupati berpesan agar momen seperti ini dijadikan sarana memupuk kebersamaan. Termasuk saat menggelar upacara seperti ini.

Sementara menurut Nyoman Merta, selain metatah dan meotonan masal yang baru pertam kali dilakukan. Juga sudah sempat digelar ritual ngaben, ngeroras dan ngenteg linggih masal tahun 2013 lalu.

Untuk ngaben masal sendiri direncanakan akan dilakukan setiap lima tahun sekali.

Dan, tahun 2018 mendatang, kegiatan ini akan kembali dilakukan. Ini juga untuk membantu krama dalam menyelenggarakan yadnya. Selain secara finansial juga secara pekerjaan karena digarap bersama- sama.

Sementara metatah dan otonan masal rencananya akan dilakukan secara rutin sesuai keinginan krama setempat.

Upacara tersebut kemarin dipuput sulinggih Ide Padanda Istri Oka Keniten dari Geria Sanur Layah Omba, Dusun Pegubungan, Duda, Selat, Karangasem. Seusai metatah pagi harinya langsung dilakukan mandi ke pancuran desa.

Setelah itu peserta berganti busana. Sedangkan  peserta otonan baru dimulai pukul 09.00. Diawali dengan natab peras, kemudian megogo gogoan dan juga potong rambut.

Sedangkan salah satu peserta metatah masal I Made Renga 43 asal Dusun Tukad Sabuh mengaku senang dengan program ini. dirinya mengaku terbantu dengan adanya banjar adat mau menyelenggarakan upacara masal seperti ini.

“Lumayan, anak saya ada dua orang ikut. Kalau biaya sendiri bisa menekan cukup banyak makan biaya. Sehingga bisa ada untuk menyekolahkan anak- anak atau kebutuhan lain,” ujar pria yang juga bendahara pecalang Desa Adat Geriana Kangin tersebut, di sela acara, dengan rona gembira. (/pit)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia