Rabu, 23 Aug 2017
radarbali
Investasi

Waspada Investasi Bodong

Omset Trilunan, Rambah Wilayah Bali

2017-03-24 15:00:00

Waspada Investasi Bodong

AWAS: Ketua Satgas Waspada Investasi, Tongam L. Tobing dalam konferensi pers dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bali dan pihak Kejari, di kantor OJK Bali, kemarin. (Adrian Suwanto/Radar Bali)

RadarBali.com – Investasi bodong ternyata hingga saat ini masih menjamur. Dengan berbagai iming-iming yang diberikan kepada masyarakat hal ini cukup sukses menggaet korban hingga menghasilkan income yang luar biasa.

Dua diantaranya yang kini tengah menjadi sorotan, yakni jasa keuangan UN Swissindo dan Koperasi Indonseia yang dulunya bernama Pandawa Malang yang kini sudah merambah beberapa wilayah di Indonesia.

Hal itu diungkapkan langsung Tongam L. Tobing selaku Ketua Satgas Waspada Investasi dalam acara konferensi pers dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bali dan pihak Kejari pada Kamis (23/3) kemarin di kantor OJK Bali.

Dalam acara tersebut Tongam ditemani Kepala OJK Regional 8 Bali dan Nusa Tenggara Zulmi mengungkapkan dua perusahaan yang bergerak di jasa keuangan ini biasanya menyasar kepada beberapa debitur yang tengah mengalami permasalhan, seperti kredit macet dan lainnya dengan iming-iming bisa melunasi hutang.

“Kami sampaikan iming-iming tersebut tidak pernah ada. Praktik yang mereka jalankan tidak berizin hingga saat ini. dari hasil penyelidkan kami, UN Swissindo melakukan pemalsuan dokumen dan ini menyesatkan masyarakat berbuntut kerugian,” tegasnya.

Modus yang dilakukan dari dua jasa keuangan ini, ketika nasabah tersebut ingin bergabung maka akan dikenakan biaya administrasi dengan harga variatif mulai dari Rp 300 ribu hingga Rp 600 ribu.

Sebenarnya, surat pelunasan yang dijanjikan itu tidak bisa dipertanggungjawabkan di perbankan atau jasa keuangan resmi.

“Keuntungan mereka cukup banyak, karena sudah melebarkan sayap di beberapa daerah di Indonesia. Masyarakat Bali wajib menolak jika ada tawaran dua jasa keuangan ini,” jelasnya.

Dari penyelidikan yang dilakukan satgas waspada investasi dengan melakukan pemanggilan kepala perusahaan, mereka mengklaim memiliki dana senilai Rp 1,6 triliun dolar dalam bebtuk sertifikat bank Indonesia (SBI).

Sementara, untuk SBI sendiri, tidak pernah menggunakan dolar, tapi rupiah dan BI sudah menyatakan tidak benar. “Dan anehnya, saat saya tanyakan data nasabah tidak ada. Ini kan aneh,” tukasnya.

Mengapa tidak dicegah sejak dini? Pria asli Batak ini mengungkapkan sedikit sulit untuk melakukan itu.

Pasalnya praktik yang diojalankan sedikit tersembunyi dari dor to dor. Seandainya mencuat di Publik, maka bisa langung dilakukan penanganan.

“Saat ini masih kami lakukan tahap penyelidikan kepada dua jasa keunagan ini,” terangnya.

Untuk Bali sendiri saat ini sudah terdapat 11 Nasabah yang terjaring dari praktik yang dijalankan UN Swissindo.

Yang paling banyak terjadi di wilayah Cirebon, Jawa Timur serta Sulawesi.

“Kami menghimbau untuk masyarakat agar waspada , dan menrapkan 2L jika ada investasi dengan iming-iming tanpa resiko. 2L itu yakni Logis dan Legal. Karena tidak ada, investasi tanpa resiko,” pungkasnya. (zul/rid)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia