Rabu, 23 Aug 2017
radarbali
Bali Utama

USBN Masih Ribet, Hari Pertama Kelimpungan Cetak Soal

2017-03-21 06:00:00

USBN Masih Ribet, Hari Pertama Kelimpungan Cetak Soal

SIAPKAN SOAL : Panitia USBN di SMA 3 Denpasar menyiapkan soal untuk USBN, kemarin. (Ni Kadek Novi Febriani/Radar Bali)

RadarBali.com - Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) untuk siswa sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah kejuruan (SMK) mulai dihelat kemarin (20/3). Ujian berlangsung secara serentak sampai Kamis mendatang (23/3).

USBN yang pertama kali diselenggarakan tahun ini merupakan program dari pusat yang juga penentu kelulusan. Berbeda dengan sebelumnya, walau dengan istilah nasional, namun untuk urusan pencetakan soal ternyata dilakukan di masing-masing sekolah.

Seperti di SMA Negeri 3 Denpasar, misalnya. Kemarin USBN dimulai dari pukul 07.00 sampai 12.00. Jumlah siswa yang ikut ujian sebanyak 293 orang dan tanpa ada yang absen. Mata pelajaran pertama Pendidikan Agama dan kedua Budi Pekerti.

Dituturkan wakil panitia USBN SMAN 3 Denpasar I Kadek Januwiradi, soal dikirim ke sekolah  pada  16 Maret lalu dan dicetak oleh pihak sekolah. Pihaknya mencetak 300 soal untuk 293 peserta dan sisanya digunakan untuk cadangan.

“Namanya USBN, tapi cetaknya di sini (sekolah). Tapi, kami tetap jaga integritas. Pegawai yang mencetak kami dari panitia yang mengawasi,” ucapnya.

Dia pun mengeluhkan kekurangan dana untuk mencetak soal ujian. Karena anggaran untuk kertas yang disetujui pihak Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali hanya untuk 120 rim kertas buram.

Sedangkan kebutuhan kertas buram untuk ujian sekolah (US) dan USBN mencapai 170 rim buram. Pihaknya mengaku harus nombok untuk membeli 70 rim kertas buram. Caranya dengan meminjam uang di koperasi.

“Kami banyak pengeluaran. Belum lagi untuk tinta, riso, kertas buram dan kertas putih. Awalnya 250 rim kami ajukan, tapi diminta revisi oleh Disdikpora. Sehingga kami hanya ajukan 120 rim. Dan, untuk pengembalian akan diajukan lagi di anggaran perubahan,” tuturnya dengan nada kesal.

Hal senada juga disampaikan Wakasek Humas SMA 2 Denpasar I Made Semadi Yasa. Dia mengatakan tidak menyangka sekolah yang diminta mencetak soal ujian. Karena pihaknya berpikir bahwa USBN itu menggunakan aplikasi seperti UNBK.

Selain itu, Semadi juga berpikir Disdikpora yang mencetak soal.  Pihaknya harus mencetak soal untuk 402 siswa. Saat ditanya anggaran Semadi tidak mengetahui jumlah anggaran yang dikeluarkan untuk mencetak soal USBN.

“Kami tidak menyangka bahwa kami diminta mencetak soal sekolah. Kami pikir pihak Disdikpora yang mencetak. Sehingga kami harus irit sekali. Yang biasanya pengawas dapat konsumsi sekarang tidak ada,” keluhnya.

Selain itu, teknik menjawab soal menggunakan Lembar Jawaban Komputer (LJK), tapi diperiksa pihak sekolah. Untuk SMA delapan mata pelajaran yang masuk di USBN. Terdiri dari pelajaran Pendidikan Agama, Budi Pekerti, Biologi, PPKN, Sejarah, Kimia, Fisika, Sosiologi, dan Ekonomi.

Saat ditanya soal keamanan soal, Janu mengaku pihaknya menjunjung tinggi integritas. Dalam pencetakan dilakukan oleh pegawai sekolah tapi tetap diawasi panitia.

Sementara dikonfirmasi Ke Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi Bali TIA Kusuma Wardani mengatakan bahwa soal USBN 25 persen dibuat oleh pusat. Sedangkan 75 persen dibuat oleh guru di daerah melalui Musyawarah Guru Mata pelajaran (MGMT). 

Dia mengatakan USBN ini adalah kebijakan pusat yang baru pertama kali dilaksanakan. Tapi hasil ujiannya ditentukan oleh sekolah.

“Pusat bukan lagi menentukan kelulusan, jadi sekolah yang menentukan lulus atau tidak. Karena tiga tahun kan mereka yang mendidik,” tandasnya.

Di sisi lain, minimnya sarana dan prasarana untuk Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) sekolah menengah pertama (SMP) dan sederajat yang mengikuti di Jembrana berkurang.

Awalnya ada 8 sekolah yang menyatakan siap untuk mengikuti UNBK, tetapi sekarang hanya ada 5 sekolah yang menjalankan.

Kepala Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKK) Jembrana I Made Riantori mengatakan bahwa awalnya memang ada 8 sekolah SMP dan MTS yang sudah menyatakan siap untuk UNBK.

Tapi, setelah mendekati akhir pendaftaran sekolah yang akan mengikuti UNBK ada yang mundur. “Sekarang ada 5 sekolah yang sudah pasti UNBK,” tegasnya.

Sekolah yang melaksanakan UNBK di antaranya SMPN 1 Negara, SMPN 2 Negara, SMPN 4 Mendoyo, MTsN Jembrana, dan satu sekolah swasta SMP Firdaus. Sedangkan yang batal mengikuti UNBK ada tiga sekolah MTsN di Gilimanuk, Mendoyo, dan Negara.

Penyebab mundur dari program UNBK, ini alasan semua sekolah sama. Yakni ketersediaan sarana dan prasarana seperti komputer, server, dan kesiapan listrik sekolah masih kurang.

Minimnya sarana dan prasarana ini sebenarnya juga dialami sekolah yang sekarang melaksanakan UNBK. Seperti SMPN 1 Negara yang tidak punya komputer sesuai yang dibutuhkan untuk UNBK, sehingga ujian dilakukan di SMAN 1 Negara yang memiliki komputer lebih banyak.

Ujian juga dilakukan bergelombang. Karena hanya ada 140 komputer, sedangkan siswa yang mengikuti UNBK 377 siswa.

Rencananya, SMPN 1 Negara akan melakukan UNBK di sekolah sendiri 2018 mendatang, setelah mendapat komputer yang dijanjikan pemkab terealisasi.(feb/bas/pit)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia