Minggu, 20 Aug 2017
radarbali
Hiburan Budaya

Belajar Wayang Secara Otodidak, Cara Gede Yudi Melawan Disabilitas

2017-03-18 14:00:00

Belajar Wayang Secara Otodidak, Cara Gede Yudi Melawan Disabilitas

BELAJAR OTODIDAK: Gede Yudi Gorda Mahendra menunjukkan aksinya sebagai dalang. (Eka Prasetya/Radar Bali)

 

RadarBali.com- tak banyak generasi muda di Bali yang mau mempelajari seni pedalangan. Namun, tak demikian dengan Gede Yudi Gorda Mahendra, 15. Meski menyandang status disabilitas, pemuda asal Banjar Dinas Bangkang, Desa Baktiseraga, Buleleng serius mempelajari wayang secara otodidak.

Modalnya hanya menonton via tayangan VCD.

Gede Yudi memang mengalami kelumpuhan sejak lahir. Kedua kakinya tidak bisa bergerak normal.

Praktis segala aktivitasnya dilakukan dengan cara merangkak. Diduga kelumpuhan Gede Yudi disebabkan karena ia terlahir premature.  

Namun, aktivitas pedalangan membuat hidup Gede Yudi lebih berwarna. Aktivitasnya tak lagi sekadar dilakukan di dalam rumah.

Kini ia banyak melakukan aktivitas pedalangan. Bahkan koleksi wayangnya sudah lengkap, dan telah disimpan dalam peti khusus.

Awalnya, dia menggemari tayangan Wayan Cenkblonk. Saking menyukai wayang cenkblonk, Gede Yudi memiliki koleksi VCD wayang cenkblonk yang cukup banyak.

Seiring berjalannya waktu, ia pun mulai tertarik dengan wayang.

Ia lantas membeli karakter wayang delem di sebuah pesta rakyat.

Kegemarannya itu pun berlanjut. Bahkan Gede Yudi sempat melakukan “perburuan” karakter wayang di tiap pesta rakyat.

Bahkan ia harus mencarinya hingga ke Gianyar dan Denpasar, untuk melengkapi koleksinya.

Lama kelamaan, kegemaran Yudi terhadap wayang semakin serius. Ia mulai belajar metembang.

Meski belum paham betul tentang babak dan lakon, namun ia tetap memainkan wayangnya untuk senang-senang.

Kakeknya bahkan menyiapkan kelir, gedogan, dan pelinggih taksu.

Bahkan dia sudah punya sekaa sendiri untuk mengiringi saat menjadi dalang. Sejumlah warga sempat mengundang Gede Yudi untuk memainkan wayang untuk sekadar hiburan.

Selama ini Gede Yudi memang memainkan tokoh wayang sekadar untuk banyolan saja, bukan untuk bermain secara serius.

“Ada cita-cita biar bisa pentas di ajang PKB. Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa,” katanya. Kakeknya, Nyoman Gede Mendra, mengaku ingin mengarahkan bakat cucunya sebagai dalang.

Tak heran jika kemudian Mendra rela membuatkan berbagai perangkat dalang, termasuk mengajari cucunya matembang.

Mendra juga punya keinginan membelikan seperangkat wayang kulit bagi cucunya.

“Sekarang wayangnya semua masih kertas karton saja. Saya sempat tanya ke orang yang bisa buat wayang, katanya satu set itu Rp 12 juta. Sementara ya kanggoang wayang seperti ini saja. Harapan saya memang biar cucu saya ini bisa serius menjadi dalang, karena nanti dia bisa dapat penghidupan dari sana,” kata Mendra. (eps/mus)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia