Rabu, 23 Aug 2017
radarbali
Features
Ketika Kuliner Lokal Menjadi Atribut Baru Destinasi Wisata Ubud (2-habis)

Belajar dari Lontar, Cooking Class Ala Puspawati Mendunia

2017-03-18 10:30:00

Belajar dari Lontar, Cooking Class Ala Puspawati Mendunia

UNIK: Wisatawan asing belajar memasak di paon. Karyawan warung babi guling Bu Oka mengguling babi empat jam sebelum disajikan ke wisatawan. (Istimewa)

Selain cita rasa masakan, daya pikat lain kuliner Ubud adalah proses memasak makanan. Wisatawan diajak ke paon (dapur) untuk ikut memasak secara tradisional Bali. Bagi wisatawan, tentu membawa pengalaman tak terlupakan.

 

MAULANA SANDIJAYA, Denpasar

 

DI dalam buku Wisata Kuliner Atribut Baru Destinasi Ubud, pada halaman 58 dijelaskan usaha Ni Wayan Puspawati mengenalkan seluk beluk dapur Bali pada wisatawan.

I Nyoman Darma Putra dan Putu Diah Sastri Pitanatri, penulis buku menyebut Puspawati sebagai salah satu srikandi kuliner Ubud.

Julukan itu disematkan karena pada awal usahanya Puspawati sempat disebut orang miskin yang gila, suka membuang uang.

Puspawati banyak menerima cemooh dan cibiran saat merintis cooking class (kursus masak) tahun 2009. Puspawati mengaku mendapat ide membuka cooking class dari sang suami, Wayan Subawa yang berprofesi sebagai supir travel.

Subawa kerap mendapat keluhan wisatawan jika masakan hotel terlalu standar dan tidak terasa masakan Bali.

Banyak wisatawan mengaku sudah beberapa kali berkunjung ke Bali, tapi tidak pernah makan masakan asli Bali, apalagi memasak.

Dari sanalah akhirnya pasutri itu memutuskan membuat usaha cooking class. Puspawati menjadikan rumahnya yang sederhana sebagai tempat praktik memasak.

Tidak mudah untuk menjalankan niat tersebut. Untuk mencapai mimpinya, Puspawati dan Subawa belajar dharma caruban, sebuah lontar tentang masakan tradisional Bali yang diperoleh secara turun temurun. Agar semakin lengkap, keduanya juga mempelajari filosofi sawah dan persubakan.

Tujuannya mengenalkan tamu tentang masakan Bali sekaligus belajar budaya Bali. Tapi, perjuangan untuk menggaet tamu tidak mudah seperti yang dibayangkan.

“Tamu yang tiyang (saya) kenal tiyang kirimi surat agar datang mencoba melajah (belajar) masak. Jani maan besik, bin aminggu ten karuan man besik (sekarang dapat tamu satu, seminggu kemudian belum tentu dapat satu, Red),” tutur Puspawati.

Meski berat, Puspawati tidak patah arang. Cahaya harapan muncul saat datang tamu dari Australia, wartawan Sunshine Coast Queensland.

Setelah mengikuti kegiatan memasak, tamu tersebut mengaku senang. Namun, di luar dugaan tamu tersebut meneteskan air mata merasa terharu dengan usaha Puspawati.

Tamu tersebut terharu lantaran saat memasak menjumpai anak kecil menangis, anak kecil berkelahi dan merasakan suasana desa Bali.

Semua itu terjadi di Ubud. Pengalaman mengesankan itu kemudian dituangkan dalam tulisan dan beredar luas di Asutralia.

Bahkan di-repost media New York Times. Tidak hanya termahsyur di kalangan turis asing, di dalam negeri beberapa chef juga datang.

Salah satunya chef cantik Farah Queen. Srikandi kuliner Ubud lainnya adalah AA Raka Sinas atau akrab disapa Bu Oka.

Berbeda dengan Bu Mangku dan Puspawati, Bu Oka memilih mengolah daging babi sebagai hidangan wisatawan.

Butuh waktu 20 tahun bagi Bu Oka untuk menjadikan warungnya sebagai ikon pariwisata Ubud. Bu Oka memulai usaha babi guling awal tahun 1980.

Bersama ibu mertuanya, Bu Oka jualan keliling dari tempat tajen dan odalan. Bila tidak ada tajen dan odalan, maka Bu Oka bisa dipastikan tidak jualan.

Bu Oka harus keliling jalan 5 kilometer setiap berjualan. Setelah ibu mertuanya meninggal, Bu Oka melanjutkan usaha babi guling agar bisa menyambung hidup keluarga.

Usaha babi guling Bu Oka membaik akhir tahun 1980, ketika diberi kesempatan meminjam bale banjar di depan Puri Ubud oleh Tjokorda Gde Putra Gede Sukawati.

“Ida Tjokorda yang mendorong saya berjualan di banjar, daripada di tengah pasar sulit dicari,” ungkap Bu Oka.

Awalnya Oka ragu berjualan di bale banjar karena harus mengeluarkan uang sewa Rp 5.000/hari. Tapi, karena dorongan Tjokorda Putra, Bu Oka mantap berjualan di bale banjar.

Petunjuk dari Tjokorda Putra rupanya menjadi awal kejayaan babi guling Bu Oka. Perkembangan pariwisata Ubud dengan menjadikan Puri Ubud sebagai kunjungan wajib saat berwisata, membawa berkah bagi Bu Oka. Wisatawan yang datang mampir dan mencicipi babi guling Bu Oka.

Kini, usaha Bu Oka semakin berkembang dan seperti menjadi tempat wajib yang dikunjugi bagi wisatawan saat ke Ubud.

Pendapatan Bu Oka pun melesat tinggi. Bila awalnya membayar sewa bale banjar Rp 5.000, kini sewa bale banjar Rp 240 juta/tahun. Kunci dari kesukesan Bu Oka tidak hanya kegigihan dalam berusaha. Seperti Bu Mangku, Bu Oka konsisten menjaga menu warisan ibu mertuanya.

Resep yang dijaga seperti mengguling (memanggang) daging selama empat jam. Selama proses pemanggangan daging babi diusap dengan air kelapa secara terus menerus, hingga mendapatkan warna yang menarik dan kulit crispy.

“Bu Oka adalah wanita desa yang tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi. Tapi, secara tidak langsung mampu menciptakan grand strategy yang aplikatif,” jelas Darma pada bukunya halaman 51.

Srikandi kuliner terakhir adalah AA Raka Sueni, pemilik bebek bengil. Pilihan Agung Sueni memasak daging bebek membuatnya berbeda dari yang lain.

Perjalanan Agung Sueni sama dengan Bu Mangku, Puspawati dan Bu Oka, penuh perjuangan keras dan pengalaman getir.

Tapi, semua pengalaman itu dijadikan sebagai proses menjadi lebih baik. Kini, usaha keempat perempuan hebat itu menjadi srikandi kuliner yang mampu melengkapi citra Ubud sebagai destinasi wisata.

A journey of a thousand miles begins with a single step (perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah, Red),” terang Darma Putra. (*/mus)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia