Rabu, 23 Aug 2017
radarbali
Features
Kala Bakteri Meningitis Streptococcus Suis Menyerang Warga

Tiga Warga Gubug Tabanan Jadi Korban, Satu Positif

2017-03-14 09:00:00

Tiga Warga Gubug Tabanan Jadi Korban, Satu Positif

KORBAN BAKTERI: I Made Sukanaya, salah seorang korban yang diduga terkena bakteri MSS tengah menjalani perawatan intensif di RSU Tabanan kemarin. (Zulfika Rahman/Radar Bali)

Serangan bakteri Meningitis Streptococcus Suis (MSS) membuat resah masyarakat Bali. Terutama konsumen daging babi. Apalagi, korban MSS berjatuhan. Seperti yang menimpa warga Desa Gubug, Tabanan.

 

ZULFIKA RAHMAN, Tabanan

 

SENIN (13/3) siang kemarin Ni Made Mastri, 54, terlihat sibuk melayani beberapa tamu yang datang menjenguk. Ia tidak menyangka ruangan Dahlia RSU Tabanan tempat sang suami dirawat akibat diduga terserang bakteri Meningitis Streptococcus Suis (MSS) didatangi beberapa tokoh penting.

Mulai dari pejabat DPRD hingga Wakil Bupati Tabanan Komang Gede Sanjaya ikut menjenguk sang suami, Made Sukanaya, 55, yang kini tengah tergolek lemas.

Mastri tampak sabar melayani sang suami yang saat ini mengalami gangguan pendengaran.

Dengan kondisi tersebut, untuk berkomunikasi Mastri dan Sukanaya menggunakan bahasa isyarat seperti berkomunikasi dengan penderita tuna rungu.

Sementara Sukanaya hanya diam dengan tatapan kosong sembari mengamati para tamu yang datang menjenguk. Mastri menceritakan awal mula gejala dugaan penyakit MSS yang dialami sang suami.

Saat itu sekitar tanggal 24 Februari, warga Banjar Gubug Belodan, Desa Gubug, menghadiri acara pernikahan. Di dalam acara pernikahan, umumnya banyak ditemui makanan.

Terlebih olahan babi yang menjadi makanan wajib dalam setiap hajatan. “Seperti biasa suami saya makan apa yang ada. Termasuk ada lawar dan komoh. Tidak ada kepikiran penyakit, itu karena belum pernah mendengar penyakit MSS itu sebelumnya,” ujarnya.

Tak hanya satu undangan. Suaminya juga menghadiri beberapa undangan. Termasuk dengan korban lainnya yang diduga terkena bakteri MSS yakni Nengah Mungkrig yang kini tengah menjalani perawatan di RS Wisma Prashanti Tabanan.

Salah satu rekannya yang juga warga Desa Grubug I Gusti Putu Sujana yang positif terkena bakteri MSS, kini menjalani perawatan di RS Sanglah.

“Kemungkinan suami saya kondisinya kurang fit. Tiba-tiba dia mengalami panas tinggi, pusing, dan muntah selama dua minggu,” tuturnya.

Ibu empat anak ini mengungkapkan, karena takut terjadi sesuatu yang berakibat fatal, atas kesepakatan keluarga, Sukanaya dilarikan ke RSU Tabanan Rabu (8/3) lalu untuk menjalani perawatan medis.

“Saya khawatir, karena panasnya sampai 39 derajat. Suami saya langsung nggak bisa mendengar sama sekali. Kata dokter gejala MSS, itu salah satunya karena menyerang saraf pendengaran,” kata Mastri.

Pihak keluarga hingga saat ini belum tahu pasti apakah gejala yang dialami Sukanaya ini merupakan MSS seperti rekannya Gusti Putu Sujana.

Pasalnya, hasil laboratorium baru keluar pada tanggal 21 Maret mendatang. “Kalau dari gejala sih seperti MSS. Semoga hasil laboratoriumnya negatif. Ke depan, kami lebih berhati-hati saja untuk mengonsumsi daging babi agar diperhatikan tingkat kematangannya. Karena kalau sudah matang, bakterinya mati,” ucapnya.

Wakil Bupati Komang Gede Sanjaya mengatakan, sangat khawatir warganya terkena dampak MSS lebih banyak.

Terlebih saat ini mendekati hari raya Nyepi dan sudah jelas konsumsi daging babi akan menjadi suatu kewajiban.

“Makanya Dinas Kesehatan dan instansi lainnya langsung saya minta turun untuk melakukan pengecekan ke kandang. Ternyata babi yang terkena bakteri MSS ini terlihat sehat. Jadi, dari surat edaran itu warga diimbau agar memperhatikan cara pengolahan,” pungkasnya. (*/mus)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia