Sabtu, 19 Aug 2017
radarbali
Bali Utama

Vonis Miring Pembunuh Polisi Lantaran Sudah Minta Maaf Pada Keluarga Korban

2017-03-14 06:30:00

Vonis Miring Pembunuh Polisi Lantaran Sudah Minta Maaf Pada Keluarga Korban

MIRING: Sara Connor didampingi penerjemah mendengarkan putusan majelis hakim. (Miftahuddin Halim/Radar Bali)

RadarBali.com - Nasib baik menaungi sejoli pembunuh anggota Unit Lantas Polsek Kuta Aipda Wayan Sudarsa: David James Taylor, 34, dan Sara Connor, 46, didakwa pasal pembunuhan, keduanya hanya dinilai terbukti melanggar dakwaan alternatif Pasal 170 ayat 2 ke 3 KUHP.

David Taylor diganjar hukuman 6 tahun penjara, sementara Sara Connor 4 tahun penjara potong masa tahanan.

David Taylor divonis dua tahun lebih ringan daripada tuntutan JPU AA Ngurah Jayalantara dkk yang menuntutnya 8 tahun penjara.

Sebelum menjatuhkan amar putusan, majelis hakim pimpinan Yanto mengurai pertimbangan memberatkan dan meringankan. Yang memberatkan, selain terdakwa menghilangkan nyawa orang lain, perbuatan terdakwa dinilai meresahkan masyarakat.

Sedangkan yang meringankan, terdakwa belum pernah dihukum, menyesali perbuatannya, dan berterus terang. Terdakwa juga telah meminta maaf kepada keluarga korban.

"Untuk itu dengan berbagai pertimbangan memberatkan dan meringankan, menjatuhkan pidana bagi terdakwa David Taylor dengan hukuman penjara 6 tahun dikurangi masa tahanan,” ujar Yanto.

Terdakwa didampingi penasihat hukum Haposan Sihombing dkk langsung menyatakan menerima. Menurut Haposan, putusan majelis hakim sudah memenuhi rasa keadilan.

Menurutnya, dalam putusan itu majelis hakim sudah mempertimbangkan banyak hal. “Perkelahian itu dilakukan tak sengaja. Apa yang dilakukan terdakwa semata-mata membela kekasihnya yang saat kejadian kehilangan tas,” kata Haposan.

JPU dari Kejari Denpasar Oka Ariani menyatakan pikir-pikir. Usai sidang David, sidang dilanjutkan dengan agenda yang sama untuk terdakwa Sara Connor.

Nasib "mujur" juga menaungi perempuan asal Australia ini. Terdakwa Sara yang dituntut JPU 8 tahun, lolos dari dakwaan primer Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 KUHP dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Bahkan, dia hanya diganjar 4 tahun penjara. Yang memberatkan, selain perbuatannya menyebabkan meninggalnya korban, terdakwa dinilai berbelit-belit.

Sedang yang meringankan, terdakwa belum pernah dihukum, menyesal, dan telah meminta maaf kepada keluarga korban. "Menjatuhkan pidana penjara kepada terdakwa Sara Connor 4 tahun potong masa tahanan,” ujar ketua majelis hakim Made Pasek.

Terdakwa yang dikenal emosional masih menyatakan pikir-pikir atas putusan tersebut. JPU Oka Ariani juga menyatakan hal sama. Usai konsultasi dengan penasihat hukumnya Erwin Siregar dan Robert Khuana, terdakwa Sara langsung berlari keluar menuju ruang tahanan. Kepada wartawan, Erwin Siregar menyatakan tidak puas.

Pengacara senior berdarah Batak ini menyarankan terdakwa mengajukan banding.

"Kalau putusan ini ditanyakan kepada saya, tentu kami tergantung jawaban Sara. Sara sudah jelas seperti apa yang teman-teman lihat, dia mengatakan akan memberitahukannya kelak," kata Erwin. "Kalau saya pribadi, saya sarankan Sara untuk mengajukan banding," tandasnya.

Alasannya? Kata Erwin, ada beberapa konsideran dalam putusan majelis hakim yang menurutnya tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya.

"Di antaranya dikatakan posisi Sara ada di atas korban, padahal itu tidak. Tapi, menyamping dan kejadiannya itu sangat cepat sekali," ujarnya.

Erwin berkeyakinan, Pasal 170 ayat 2 ke-3 KUHP yang menjadi dasar putusan majelis hakim kurang tepat.

"Kalau menurut kami, lebih tepat Pasal 121 KUHP yaitu menghilangkan atau merusak barang bukti yang ada dengan ancaman hukuman 7 bulan penjara. Jadi kalau kami ketemu Sara, kami sarankan untuk mengajukan banding," pungkas Erwin. (pra/mus)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia