Minggu, 20 Aug 2017
radarbali
Features
Mengunjungi Wayan Kamer, Veteran Pejuang Tertua di Jembrana (2)

Cerita Markadi dan Ngurah Rai Bawa Senjata dari Jawa

2017-03-12 10:30:00

Cerita Markadi dan Ngurah Rai Bawa Senjata dari Jawa

TEMPAT CURHAT SESAMA VETERAN:Wayan Kamer (berkacamata), pejuang kemerdekaan saat bercerita perjuangannya pada cucunya, Putu Bahagiarti. (Radar Jembrana)

RadarBali.com - Dari sekian banyak veteran pejuang, Wayan Kamer merupakan salah satu pejuang atau mungkin satu-satunya pejuang yang masih segar. Ingatannya masih kuat. Sehingga banyak veteran yang datang mengunjunginya untuk berbagi kisah perjuangan. Benarkah?

DI tengah cerita saat berperang melawan para penjajah Jepang dan Belanda, Wayan Kamer berdiri dan memekikkan semangat perjuangan seperti yang sering diteriakkan saat berperang melawan penjajah. ”Merdeka!...,” pekik Kamer dengan suara lantang dan berdiri tegak dengan tangan terkepal.

Memorinya tentang perang, luar biasa. Buktinya, desingan peluru, mayat para pejuang, sampai saat ini selalu terngiang dalam ingatannya. Dari sekian banyak perang melawan penjajah yang diikuti, perang melawan Jepang, meski menjajah paling sebentar sebagai perang yang paling membekas diingatannya.

Karena waktu itu, Jepang menerapkan kerja rodi pada pribumi. Selain itu, hasil tani diambil paksa dan dibawa para penjajah Jepang. Perlakuan para penjajah Jepang juga sangat sadis. Bahkan, lebih sadis daripara penjajah lain. ”Kalau paling lama dan sering, perang melawan Belanda,” jelasnya.

Salah satu kisah yang diceritakan saat dijajah Jepang, para petani pribumi dipaksa mengumpulkan hasil bumi untuk dibawa ke Denpasar. Sedangkan petani tidak diberikan hasil pertanian yang mereka peroleh dengan keringat mereka sendiri.

Sehingga, mulailah banyak perlawanan dari pribumi dan pemuda waktu itu. ”Saya juga sempat mengantar barang hasil tani ke Denpasar. Waktu itu, di bawah pengawalan tentara Jepang,” kenangnya.

Untuk perang melawan penjajah kala itu, senjata dibawa dari Jawa oleh Kapten Markadi dan I Gusti Ngurah Rai. Selain itu, senjata juga dirampas dari penjajah yang markas dan konvoinya diserang para pejuang. Senjata rampasan perang itu, lalu diberikan pada para pejuang untuk digunakan mengusir penjajah.

Meski kemerdekaan sudah diproklamirkan Soekarno dan Muhammad Hatta pada 17 Agustus 1945, perang seakan tiada hentinya. Setelah Jepang menyerah, Belanda datang lagi melakukan penjajahan, Kamer dan beberapa pejuang waktu itu harus melawan penjajah Bali di seluruh Bali untuk mempertahankan kemerdekaan.

’’Perang di mana saja, kalau ditugaskan berangkat. Saya pernah ke Singaraja waktu itu namanya Sunda Kecil, ke Tabanan, dan perang lain bersama Ngurai Rai dan Markadi,” rincinya.

Kamer masih ingat betul dengan Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai karena setelah melapor ke markas besar di Jogjakarta perahu yang digunakan dari Banyuwangi ke Bali bersandar di Jembrana. Tepatnya di Desa Air Kuning. Waktu itu, Kamer beberapa kali bertemu dengan I Gusti Ngurah Rai yang melakukan konsolidasi dengan para pejuang di Jembrana.

Selain itu, bapak tujuh anak dengan belasan cucu dan cicit ini masih sering mengingat perlakuan Kapten Markadi, pejuang kemerdekaan yang melakukan perang laut pertama dalam sejarah Indonesia.

Menurutnya, Kapten Markadi merupakan sosok yang baik dan tegas. Kamer yang beberapa kali dilatih Markadi, merasakan ketegasannya memimpin pasukan melawan para penjajah. ”Pak Markadi itu orangnya baik sekali dan tegas,” kisahnya sambil mempraktikkan cara Kapten Markadi melatih pasukan pejuang.

Karena hingga saat ini ingatannya masih kuat, salah satu dari empat veteran pejuang di Desa Penyaringan yang saat ini masih hidup, masih sering datang ke rumahnya. Walau datangnya hanya sekadar bercerita masa lalu sesama pejuang.

Bahkan, Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Markas Jembrana I Gede Ketut, sering mengunjungi Wayan Kamer untuk mendengar kisah perjuangannya.

”Pak Wayan Kamer ini memang salah satu pejuang yang ingatannya masih kuat dan masih segar. Mungkin saat ini satu-satunya,” kata Gede Ketut, veteran pembela dari Divisi Seroja ini. (*/muhammad basir/djo/bersambung)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia