Rabu, 23 Aug 2017
radarbali
Bali Utama

Bos Sembilan Pilar Disidang Bersama Adik, Dilaporkan Keponakan

2017-02-17 07:00:00

Bos Sembilan Pilar Disidang Bersama Adik, Dilaporkan Keponakan

KETIBAN SIAL: Bos Sembilan Pilar Made Wirata (kiri) dan adik kandungnya Nyoman Wardana saat sidang di PN Denpasar kemarin. (Maulana Sandijaya/Radar Bali)

RadarBali.com - Mantan raja minyak di Pelabuhan Benoa I Made Wirata kembali duduk sebagai pesakitan di PN Denpasar, kemarin (16/2).

Direktur PT Sembilan Pilar itu tersandung sengketa tanah waris dengan keluarganya sendiri.

Wirata dilaporkan keponakannya sendiri bernama Kadek Swanjaya, karena dituding telah melakukan penyerobotan lahan.

Menariknya, Wirata tidak duduk sendiri di kursi pesakitan. Dia ditemani adiknya Nyoman Wardana, 52, yang juga menjadi terdakwa dalam kasus ini.

Ada yang berbeda dengan penampilan Wirata. Wirata yang dijebloskan ke dalam penjara 18 Januari lalu itu terlihat tua. Rambutnya beruban dan tampak kurang terawat.

Namun demikian, saat datang mengantre sidang Wirata masih tampil trendi mengenakan topi ala pendaki.

Awak media sempat tidak mengenali Wirata karena dia menutup separo wajahnya dengan masker. Dua saudara ini mengajukan eksepsi atau keberatan atas dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Denpasar.

Melalui kuasa hukumnya Dody Rusdiyanto dkk, Wirata meminta majelis hakim menerima eksepsi dan membatalkan surat dakwaan JPU.

“Menyatakan agar menunda pemeriksaan perkara ini sampai dengan adanya putusan perkara gugatan perdata, yang sedang disidangkan sampai mempunyai kekuatan hukum tetap,” ujar Dody membacakan eksepsi.

Sementara Wirata dan Wardana tampak pasrah dengan berusaha memejamkan mata.

Menurut Dody, dakwaan jaksa yang menjeratnya dalam Pasal 385 ayat 4 KUHP tentang penyerobotan tanah tidak tepat.

Menurutnya, perkara ini bukan perkara pidana. Dijelaskan dalam eksepsi, dalam kasus ini tanah beserta gudang di Jalan Suwung Batan Kendal, Denpasar Selatan merupakan tanah milik Wirata dan Wardana yang merupakan hasil waris ayahnya.

Sementara korban Kadek Swanjaya mendapatkan tanah tersebut dari I Ketut Suteja yang sebenarnya tidak berhak atas tanah tersebut.

Dijelaskan Dody, seharusnya tanah beserta gudang yang diklaim milik pelapor Swanjaya merupakan hak kedua terdakwa.

Tanah tersebut merupakan tanah waris dari orang tua para terdakwa, bukan milik Ketut Suteja.

Selama ini Suteja sudah diberikan hak berupa tanah seluas 35 are di kawasan Suwung.

Namun, Suteja mengakui tanah milik kedua terdakwa dan menyertifikatkan tanah itu. Selanjutnya Suteja menjual tanah pada Swanjaya.

Tanah tersebut kemudian disewakan pada saksi Effendi Pranoto tanpa sepengetahuan terdakwa.

“Jadi ini merupakan sengketa tanah yang masuk lingkup keperdataan dan harus diselesaikan melalui sidang perdata,” tukas Dody.

Sidang dilanjutkan pekan depan dengan agenda tanggapan dari jaksa. Untuk diketahui, Wirata saat ini sedang menjalani hukuman selama 2 tahun penjara di dalam Lapas Kerobokan atas kasus pengangkutan BBM ilegal. (san/mus)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia