Rabu, 23 Aug 2017
radarbali
Bali Utama

Zona Merah dan Rawan Jebol di Songan, Tetap Wajib Waspada Cuaca

2017-02-15 06:00:00

Zona Merah dan Rawan Jebol di Songan,  Tetap Wajib Waspada Cuaca

KERJA KERAS : Warga gotong royong membuat jembatan penghubung di Dusun Dajan Pangkung Desa Galungan, kemarin. (Eka Prasetya/Radar Bali)

RadarBali.com - Meski penanganan untuk pengungsi sudah dilakukan termasuk pemberian bantuan, namun ancaman bencana belum selesai. Di beberapa tempat potensi bencana longsor masih tetap rentan setiap saat.

Di Tabanan misalnya, nasib nahas dialami salah seorang buruh galian C yakni Herman, 45. Warga asal Dusun Watukepeng Desa Watukepeng , Banyuwangi ini tewas akibat terkena reruntuhan material batuan cadas yang longsor.

Dia mendapat musibah saat tengah bekerja untuk mengumpulkan batu cadas salah satu galian C milik I Gede Sudika yang berlokasi di Banjar Dauh Jalan Desa Kelating, Kerambitan, kemarin (14/2). Bahkan, hingga kini jenazah Herman belum ditemukan.

Dari penuturan rekan kerja korban Andika mengungkapkan korban mulai bekerja sekitar pukul 10.30 bersama dua orang rekannya yakni Misnayu, 47, dan Sucipto, 35, untuk mengumpulkan batu cadas di Galian C yang dalamnya mencapai 15 meter.

“Nah, batu-batu ini dikerek naik ke atas. Saat itu saya sedang istirahat untuk makan,” ujarnya.

Entah apa penyebabnya, tiba-tiba bagian atas tebing mengalami longsor pada bagian utara yang menyebabkan air dalam volume besar ikut mengucur deras ke bawah tempat korban bekerja.

Kondisi ini membuat korban tertimbun oleh material bebatuan dan juga kondisi air yang meninggi, sedangkan dua orang rekannya yakni Misnayu dan Sucipto ikut terjatuh ke bawah.

“Sucipto dan Misnayu ini bisa selamat dan naik ke atas. Sedangkan saya mau menyelamatkan justru saya malah mau jatuh karena tanah yang saya injak longsor juga. Untung saya pegangan dengan tali,” tuturnya.

Beberapa saat setelah kejadian, korban yang sudah bekerja selama tujuh tahun ini sudah tidak terlihat.

Dia tertimpa air bercampur tanah. Atas kondisi ini, ia dan beberapa temannya langung melapor ke warga setempat yang kemudian dilaporkan ke pihak kepolisian.

“Kemungkinan Herman ini tidak bisa berenang sehingga tidak bisa menyelamatkan diri. Sedangkan Sucipto selamat karena bisa berenang,” kata Andika.

Sementara itu, pemilik galian C  I Gede Sudika mengaku saat kejadian sedang tidak berada di lokasi.

Selama ini dia mengajak lima orang untuk dipekerjakan sebagai pengumpul batu cadas di atas lahan seluas 1,25 are yang berstatus hak guna pakai. “Buruh saya masih belum ditemukan dan masih berada di bawah,” tuturnya.

Pihak Kapolres Tabanan AKBP Marsdianto mengungkapkan sudah melakukan upaya pencarian di lokasi reruntuhan tempat korban bekerja.

Pencarian yang dilakukan hingga malam hari ini tak kunjung membuahkan hasil, terlebih dengan medan yang cukup curam pencarian sulit dilakukan. “Kemungkinan korban tertimbun material longsor,” jelasnya.

Masih terkait bencana, Gubernur Bali Made Mangku Pastika meminta relokasi terhadap 23 kepala keluarga (KK) yang jadi korban longsor di Desa Songan dipercepat.

Tak hanya itu, terhadap akses jalan yang putus dan menyebabkan 12 KK di Songan  juga segera dilakukan perbaikan dengan meminta Dinas PU berkoordinasi dengan pihak Kementerian Kehutanan RI di Jakarta. Ini disampaikan saat meninjau lokasi longsor, kemarin.
Dari hasil peninjauan langsung, Pastika menyebutkan selain zona merah di Songan, ada 20 titik infrastruktur jalan yang berpotensi akan jebol.

Untuk itu, pihaknya lebih menekankan pada bagaimana cara agar 12 dusun di seberang Desa Songan itu tidak terisolasi.

Bagaimana area ini bisa dibersihkan mengingat masih memungkinkan akan terjadinya longsor susulan, dan bisa memberikan pertolongan kepada korban dengan cepat. 
”Harus dilakukan rapat intern antara instansi terkait, mulai dari Dinas PU Prov.Bali, Balai Jalan, Dinas Kehutanan mencakup Kementerian Kehutanan yang membidangi. Dan, setelah itu laporkan ke saya terkait keputusan akan dilakukan tindakan seperti apa bagi masyarakat di sini,” ungkap Pastika.
Dalam peninjauannya ini, Gubernur Pastika yang didampingi oleh Kepala BKD Bali Ketut Rochineng, Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali Dewa Gede Mahendra Putra juga menyerahkan santunan sebesar Rp 10 juta rupiah kepada 13 korban meninggal dunia yang diterima oleh masing - masing keluarga korban, dan sejumlah biskuit dari Nyonya Ayu Pastika kepada pengungsi korban longsor.
Perkembangan lain, setelah sempat terisolasi selama beberapa hari, akses jalan di beberapa desa yang sempat terdampak bencana kini mulai dibuka kembali.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng bersama sejumlah lembaga pemerintahan dibantu warga bahu membahu membuka akses jalan di wilayah-wilayah yang sempat terisolasi.

Dari catatan Jawa Pos Radar Bali, setidaknya ada tiga wilayah yang sempat terisolasi. Yakni wilayah Banjar Dinas Dajan Pangkung Desa Galungan, Banjar Dinas Kubu Kelod Desa Bungkulan, serta Banjar Dinas Dajan Margi Desa Silangjana.

Kemarin, akses jalan dari permukiman warga ke pusat desa sudah mulai dibuka. Di Desa Bungkulan misalnya.

Warga bahu membahu memadatkan jalan di pematang sawah, agar tak sampai membuat pengendara sepeda motor terjatuh.

Setelah dipadatkan, rencananya pematang sawah itu akan dibeton, sehingga pengendara motor tak sampai celaka ketika hujan datang.

Di Banjar Dinas Dajan Margi, Desa Silangjana, sebanyak 40 kepala keluarga yang tinggal di RT IX, Banjar Dinas Dajan Margi, sudah bisa menuju pusat desa.

Sejak Jumat (10/2) pekan lalu, mereka tak bisa ke pusat desa lantaran akses jalan menuju pusat desa tak bisa dilalui.

Kemarin BPBD Buleleng telah mengerahkan alat berat untuk membuka jalan. Sehingga sore kemarin warga sudah bisa menuju pusat desa.

“Sudah ada bantuan alat berat dari kabupaten. Dari tadi pagi alat berat sudah kerja, warga kami juga sudah gotong - royong. Sore ini jalannya sudah bisa dilalui lagi,” kata Perbekel Silangjana Komang Suparma.

Sementara itu, di Desa Galungan warga desa bersama TNI Angkatan Darat dan BPBD Buleleng bergotong royong membangun jembatan darurat. Pihak desa memutuskan membuat jembatan darurat dari baja ringan agar bisa dilalui sepeda motor.

Jembatan itu memiliki lebar 1,5 meter dan panjang 18 meter, dengan menghabiskan biaya sekitar Rp 52 juta.

Perbekel Galungan Gede Haryono mengatakan, pihak desa berupaya semaksimal mungkin menyelesaikan jembatan dalam kurun waktu 24 jam.

Agar 200 kepala keluarga yang tinggal di wilayah Banjar Dinas Dajan Pangkung yang sempat terisolasi selama beberapa hari bisa kembali mengakses pusat desa.

Kepala Pelaksana BPBD Buleleng Made Subur mengatakan, pihaknya berupaya semaksimal mungkin membuka akses jalan yang membuat sejumlah wilayah terisolasi.

Sehingga warga bisa ke pusat desa menuju ke tempat pemungutan suara (TPS) guna menyalurkan hak pilihnya hari ini.

Menurut Subur seluruh wilayah sudah bisa diakses jalannya, meski belum semuanya bisa menggunakan kendaraan roda empat.

Karena saat ini dalam masa tanggap bencana, maka penanganan yang dilakukan pun serba darurat.

Di sisi lain, Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan Bali, kemarin juga meninjau lokasi bencana yang ada di Desa Galungan.

Kepala ORI Perwakilan Bali Umar Ibnu Alkhatab mengapresiasi kerja keras Pemkab Buleleng dalam menangani bencana. Pemerintah sudah bekerja keras membuka akses jalan bagi warga.

“Kami apresiasi karena aparat pemerintah sudah kerja keras menyiapkan akses jalan darurat bagi publik. BPBD juga sudah kerja keras mengatasi bencana dan pemerintah sudah benar-benar hadir di lokasi bencana. Ke depannya kami harap pemerintah memprioritaskan alokasi anggaran bagi daerah-daerah yang terdampak bencana ini,” demikian tutur Umar.

Terkait bencana, Pemkot Denpasar juga melakukan penggalangan dana dan memberi bantuan logistik dari paket lauk pauk, sandang, peralatan dan perlengkapan makan, selimut, matras, family kit, foodware, serta uang tunai sejumlah Rp  51.360.000,  yang dikumpulkan dari pegawai lingkungan Pemkot Denpasar. 

Sementara dampak cuaca buruk menimbulkan bencana di Kabupaten Badung. Sabtu (11/2) lalu, sebuah jembatan putus.

Jembatan ini adalah penghubung antara Banjar Tiyingan, Desa Pelaga, Petang, Badung dengan Banjar Mayungan, Tabanan.

Atas kondisi ini, para petani pun mengeluh karena jembatan tersebut sebagai akses mereka untuk menjual hasil pertaniannya. (zul/pra/eps/feb/dwi/pit)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia