Rabu, 23 Aug 2017
radarbali
Features

Digali 20 Hari, Temukan Sebuah Situs Pas Rahinan Pagerwesi

2017-02-15 07:00:00

Digali 20 Hari, Temukan Sebuah Situs Pas Rahinan Pagerwesi

PURBAKALA: Patung naga diduga situs purbakala ditemukan di pekarangan rumah Wayan Dapet, warga Banjar Mekar Sari, Desa Carangsari, Petang, Badung. (Made Dwija/Radar Bali)

Bali kaya situs peninggalan purbakala. Kemarin (14/2), misalnya warga Banjar Mekar Sari, Desa Carangsari, Petang, Badung menemukan patung naga berisi pancoran seperti pura beji. Seperti apa?

 

I MADE DWIJA, Mangupura

 

TAK pernah terlintas di benak Wayan Dapet di belakang rumahnya bakal muncul situs purbakala.

Ya, lokasi penemuan pancoran yang berisi patung naga tersebut tepatnya di sebelah timur pekarangan rumah Wayan Dapet, tepatnya di pinggir sungai kecil.

Tempat tersebut bukanlah tempat yang baru, karena di atas tanah seluas dua are tersebut berserakan puing-puing palinggih berbahan batu paras dan bata.

Salah satunya diduga merupakan puing bangunan berupa bale paruman berukuran sekitar 2 x 1 meter.

Bahkan, masih ada satu palinggih yang berdiri kokoh, tempat keluarga Wayan Dapet mengaturkan sesajen.

Di kali kecil tersebut biasanya warga mandi. Karena tempat itu sekaligus menjadi lokasi pemandian umum.

“Tempat ini dari dulu memang ada, bahkan keluarga rutin mebanten, tapi tidak tahu siapa yang membuat awalnya,” ujar Wayan Yuliana, 30, anak dari Wayan Dapet, kemarin.

Pria yang bekerja di sebuah koperasi di Jalan Imam Bonjol Denpasar, itu menceritakan awal mula dirinya menemukan pancoran.

Saat itu ia dan keluarga terus-menerus ditimpa masalah. Yuliana sendiri berkali-kali kecelakaan.

“Sudah berkali-kali kecelakaan. Kecelakaan, kecelakaan, dan kecelakaan lagi. Sudah empat kali kecelakaan kendaraan,” jelas Yuliana yang sempat memposting foto-foto patung dan pancoran yang diduga situs purbakala di akun Facebook miliknya @Nanoe Bme.

Setelah digali dengan dibantu keluarga dan teman-temannya selama 20 hari, akhirnya tepat pada rahina Sabuh Mas, Selasa (24/1) lalu ditemukan pancoran berisi arca patung naga.

“Penemuannya sehari sebelum rahinan Pagerwesi (hari suci Pagerwesi). Ternyata benar. Sesuai feeling, kami menggali di titik yang tepat dan menemukan pancoran ini,” kata Yuliana. Dia percaya dengan keberadaan peninggalan leluhurnya tersebut.

Meski dirinya tidak begitu tahu soal magis atau niskala, namun dia percaya tempat itu memiliki sedikit banyak pengaruh terhadap keharmonisan keluarganya.

Dia pun bertekad akan kembali melestarikan tempat tersebut. Hanya saja, dia masih menggali pelan-pelan untuk mencari dasar kolam dan tempat pasiraman (pemandian suci).

“Saya ingin mengembalikan seperti semula dan merawatnya, tapi memang cukup berat,” ungkapnya.

Belum lagi masalah keterbatasan dana. Intinya, Yuliana bertekad tempat tersebut harus kembali dilestarikan karena peninggalan sejarah dari leluhur.

Meskipun dia dan keluarganya saat ini belum mengetahui siapa yang mendirikan tempat tersebut, karena hanya dari cerita turun-temurun.

Begitu juga Wayan Dapet, ayah dari Yuliana. Dapet mengatakan, patung naga tersebut baru ditemukan setelah 20 hari melakukan kegiatan bersih-bersih di areal tukad (sungai).

Setelah dilakukan penggalian hampir satu meter patung tersebut baru muncul. Tak jauh dari patung tersebut juga ditemukan dua kolam (telaga) kembar. Antara patung dan kolam diduga saling berkaitan.

Pasalnya saat kolam berisi air dari mulut naga juga keluar air, bak sebuah pancoran.  “Sudah puluhan tahun tempat ini tertimbun longsor. Sejak 20 hari lalu kami bersih-bersih dan setelah digali kami temukan sebuah pancoran patung naga,” ujar Dapet.

Karena itu pihaknya terus membersihkan areal yang dipercaya keramat tersebut. “Selain patung, kami juga menemukan dauh lontar. Konon itu adalah milik penglingsir (leluhur) kami,” ungkap pria 50 tahun ini.

Dapet menambahkan, kakeknya dulu sempat bercerita bahwa di tebing belakang rumahnya ada sebuah pura beji (pemandian) yang disebut Pura Taman Bagendra.

Menurut cerita, tempat itu dulu dinamakan Pura Taman Beji Bagendra. Namun, entah kenapa pura ini tertutup longsoran.

“Dulu leluhur kami yang menjadi mangku di beji ini,” terang Dapet sembari menunjuk patung naga yang berada di sebuah goa dalam tanah sedalam 1 meter.

Pihaknya sendiri  mengaku berinisiatif menggali kembali tempat pemandian ini. Pasalnya, keluarganya belakangan kerap dirundung berbagai masalah.

Setelah dinyatakan ke orang pintar pihaknya diminta merawat tempat tersebut. “Anak saya sering dirundung masalah dan saya bermimpi diminta untuk melakukan pembersihan di sini,” ucapnya.

Sebelum dilakukan penggalian, memang Dapet kerap melakukan persembahan di areal penemuan diduga situs tersebut.

Namun, sekarang pihaknya semakin yakin bahwa areal tersebut menjadi sebuah situs yang diwarisi oleh leluhurnya. 

“Secara turun temurun, kami sebenarnya sudah tahu ini beji. Setiap rerainan (hari baik) kami selalu maturan banten, cuma tidak terawat,” ungkapnya.

Disinggung kenapa tempat itu bisa terkubur, dia mengaku tidak tahu mengapa tempat tersebut sampai dibiarkan terkubur oleh pendahulunya.

Berdasar informasi, buyutnya adalah seorang balian dan memanfaatkan tempat tersebut untuk pengobatan.

Hanya saja, setelah sang buyut meninggal, tempat tersebut mulai tak terurus. “Saya tidak begitu mengerti. Saya hanya ingat waktu kecil sering diminta membersihkan tempat ini,” terangnya.

Mengenai piodalan, selama ini biasa digelar setiap Buddha (Rabu) Urip Watugunung, menjelang rahinan Saraswati.

“Selama ini upakara tetap berjalan. Sedangkan tempat tersebut menurut penuturan turun-temurun, konon bernama Taman Beji Bagendra,” jelasnya.

Temuan patung naga dan pancaran kuno  ini spontan menarik perhatian warga. Sejumlah warga yang penasaran dengan temuan tersebut silih berganti datang untuk melihat langsung.

Begitu menuruni tebing berundak sekitar 15 meter sudah langsung terlihat ada gundukan batu padas dengan beberapa arca patung.

Dari tempat itulah terlihat goa bawah tanah berisi temuan patung naga. Diduga patung naga itu tertimbun lantaran ditutup longsoran tebing di atasnya.

Jro  Mangku Pura Dalem Bebalang, Ketut Sepi, yang hadir di tempat penemuan mengaku baru mengetahui kalau ada situs purbakala di tempatnya. “Saya juga baru tahu. Kebetulan tadi lewat disuruh ngantar ke sini,” pungkasnya. (*/mus)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia