Rabu, 23 Aug 2017
radarbali
Features

Sisa Rumput Laut Menumpuk, Petani Berharap Masih Ada Pembeli

2017-02-13 07:30:00

Sisa Rumput Laut Menumpuk, Petani Berharap Masih Ada Pembeli

SISA KEJAYAAN: Nyoman Gasir menunjukkan sisa rumput laut di pondoknya kemarin. (Wayan Widyantara/Radar Bali)

Berdirinya Hotel Mulia di Sawangan, Kuta Selatan, Badung, berdampak pada para petani rumput laut setempat. Sebagai bukti, kini semakin sulit menemukan petani rumput laut di sana. Bagaimana bisa?

 

I WAYAN WIDYANTARA, Kuta Selatan

 

OMBAK tengah di Pantai Geger, Sawangan, Badung memang cukup tinggi, namun di bibir pantai ombaknya cenderung tenang.

Hal itu sangat memungkinkan para petani untuk menanam rumput laut. Kebetulan, aktivitas bertani rumput laut sudah mereka jalani bertahun-tahun.

Namun, karena di sana   dibangun hotel besar bernama Hotel Mulia, budidaya rumput laut yang dijalani petani setempat, lambat laun hilang ditelan peradaban zaman.

Para petani “dipaksa” minggir dan meninggalkan profesinya. Padahal, kualitas rumput laut di Sawangan terbilang sangat bagus dan diminati pembeli.

Rumput laut atau dalam bahasa Bali dikenal dengan bulung tersebut sempat menjadi primadona dan ciri khas masyarakat Sawangan.

Pasalnya, dari rumput laut mereka bisa hidup dan menghidupi keluarganya. Namun kini semua sudah berubah. Tak ada lagi bekas kejayaan masa silam.

Saat Jawa Pos Radar Bali mendatangi lokasi budidaya rumput laut kemarin (12/2), tak ada satu pun petani yang menanam rumput laut.

Puluhan pondok atau gudang-gudang tempat untuk menaruh bibit dan hasil tanaman tak berfungsi lagi.

Berdasar keterangan salah satu petani rumput laut, Nyoman Gasir kepada koran ini mengaku sudah tak beraktivitas lagi sebagai petani rumput laut.

"Ya, sejak Hotel Mulia berdiri, tak ada lagi yang menanam rumput laut," kata warga Banjar Pande, Bualu, ini.

Disinggung alasannya tak lagi menanam rumput laut, Gasir mengatakan tempat menanam rumput laut kini telah dikuasai oleh hotel.

"Pihak hotel memang mengizinkan untuk menanam rumput laut ke kami, tapi mesti di luar dari area hotel yang dipasangi oleh tanda berupa ondel. Timur dan selatan ondel kami diperbolehkan untuk menanam," katanya.

Lambat laun, sudah tak ada petani rumput laut lagi. Dulu petani rumput laut di Sawangan mencapai 130 KK.

Namun, sekarang tak ada satupun yang bertani rumput laut lagi. "Tak ada pembeli lagi. Modal kami juga sudah habis," kata pria yang 15 tahun lebih menjadi petani rumput laut.

Lalu, sekarang ke mana para petani rumput laut beraktivitas? "Ada yang buka warung, ada yang bekerja di hotel jadi satpam atau tukang bersih-bersih. Kebanyakan di hotel, sih. Kalau saya sendiri sekarang pengangguran. Nikmati hari-hari saja," jawab pria paro baya ini.

Menariknya, sisa-sisa rumput laut yang dulu ditanam masih banyak ditaruh di pondok-pondok.

Jawa Pos Radar Bali pun diajak masuk ke dalam pondoknya. Bau rumput laut begitu menusuk hidung saat masuk ke dalam pondok.

Saat itulah terlihat bertumpuk-tumpuk rumput laut. "Ini sisanya dari hasil tanam yang dulu. Masing-masing pondok di sini masih ada rumput lautnya. Nggak ada yang beli," terangnya.

Katanya, rumput laut ini masih bisa digunakan. Dia pun berharap rumput laut yang masih ada di pondok-pondok ini masih ada yang berminat membelinya.

"Rumput lautnya memang basah. Kalau mau membeli, akan dikeringkan dengan di jemur dahulu. Memang begitu prosesnya," tuturnya.

Selain Nyoman Gasir, Jawa Pos Radar Bali menemui salah satu petani lainnya. Ia akrab dipanggil Ibu Tin.

Sekitar dua tahun lalu, Ibu Tin yang merupakan warga Banjar Penyarikan, Bualu, ini sempat ikut membangkitkan kembali petani rumput laut di Pantai Serangan.

"Saya petani terakhir yang bergabung sekitar dua tahun lalu. Jumlahnya sekitar 15 orang, namun akhirnya pada bubar," katanya.

Ibu Tin akhirnya menyerah. Dia memilih membuka warung kecil yang berada di dekat pondok petani rumput laut.

"Banyak yang mati rumput lautnya. Jadi saya nggak sanggup lagi melanjutkan," celetuknya.

Kenapa? "Air pembuangan hotel melalui got ada yang mengalir ke pantai. Bulung saya akhirnya berwarna putih dan gagal panen. Selain itu, rumput laut yang ditanam terlalu kecil, akhirnya jadi konsumsi ikan,” jawabnya.

Beberapa jenis rumput laut yang dia tanam di antaranya bernama bulung rangda, bulung kol, bulung kantoni, dan masih banyak lagi jenisnya.

Untuk harga memang tidak stabil. Rata-rata dijual per kilo dengan harga mencapai harga Rp 12 ribu hingga Rp 16 ribu.

Untuk panen bisa dilakukan 15 hari sekali dengan jumlah yang cukup banyak. "Para pembeli rata-rata beralih membeli rumput laut yang ada di Nusa Penida, Singaraja, hingga Lombok. Tak ada lagi yang mencari di sini (Sawangan)," pungkasnya (*/mus)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia