Rabu, 23 Aug 2017
radarbali
Features

Cerita Lain dari Musibah Longsor di Desa Songan B, Kintamani

2017-02-11 07:00:00

Cerita Lain dari Musibah Longsor di Desa Songan B, Kintamani

AIR BAH: Nosi memperagakan kembali saat berpegangan di pohon agar terhindar dari terjangan banjir bandang. (Wayan Putra/Radar Bali)

Musibah longsor di Desa Songan B, Kintamani meninggalkan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Beberapa anggota keluarga meninggal dan rumahnya hancur berantakan.

 

M. BASIR – W.PUTRA, Bangli

 

SUASANA Desa Songan B, Kintamani, Jumat (10/2) siang kemarin, masih diselimuti kabut dan mendung tebal hitam.

Hujan deras sesekali datang. Pesona indahnya Danau Batur, Kintamani, nyaris tidak terlihat karena tertutup kabut tebal.

Lokasi bencana longsor berada di ujung timur danau, di dekat perbukitan di bawah Gunung Batur.

Suasana duka semakin terasa setelah mendekati setra Desa Songan yang berada dekat dengan Danau Batur.

Puluhan orang terlihat di bawah tenda yang didirikan BPBD Bali. Tangis histeris sesekali terdengar dari balik tenda. Di bawah tenda ada tujuh jenazah yang terbungkus kantong mayat dan dilapisi kain kafan.

Dua jenazah balita digendong seorang perempuan dan satunya laki-laki, yakni I Wayan Wirtana, 39, menggendong anaknya yang sudah meninggal sambil menangis dan memanggil anaknya.

Wirtana selamat meski sempat terendam material longsor yang menghancurkan rumahnya. Namun, dia kehilangan Ni Nengah Resmi Restiti, Ni Kadek Sriasih, dan Komang Agus Putra Panti, istri dan kedua anaknya.

Tangis dan ratapan dari keluarga yang ditinggalkan membuat suasana duka semakin terasa. ”Semua yang meninggal masih satu keluarga,” kata Wayan Yon Hariadi, 48, kerabat korban.

Korban meninggal karena tertimbun material longsor dan reruntuhan bangunan. Saat dievakuasi, sejumlah luka di sekujur tubuh dan sebagian besar tulang sudah remuk.

Bahkan, salah satu korban baru ditemukan di tumpukan tanah longsor dengan kondisi mengenaskan. Total ada enam rumah yang rusak berat, dua di antaranya hilang tak berbekas karena posisinya tepat berada di bawah tebing setinggi kurang lebih 50 meter yang longsor.

Lokasi longsor juga terlihat berantakan, mobil, sepeda motor dan barang-barang dalam rumah terlempar ke segala arah.

Longsor yang terjadi tiba-tiba itu, terjadi saat hujan lebat sekitar setengah satu dini hari. Awalnya hanya sedikit material yang berjatuhan, namun tiba-tiba longsor yang lebih besar datang dan menghancurkan rumah.

Korban tewas saat itu mungkin sudah tertidur pulas sehingga tidak mendengar adanya longsor. “Saya dengar gruduk-gruduk, mungkin korban itu sudah tidur,” kata Putu Mariadi, tetangga korban.

Mariadi waktu itu merasa was-was dengan posisi rumahnya yang berada di bawah. “Saya tidak tidur. Takut longsor karena hujan deras, tapi tetap dalam rumah,” imbuhnya.

Kepala Dusun Pantas Songan B Putu Gede Suastika mengatakan, ada beberapa anggota keluarga yang selamat dari peristiwa tersebut karena malam itu tidak tidur di rumahnya.

Ada yang tidur di rumah temannya dan ada juga yang memang Kamis sore bepergian ke Denpasar. “Saya rumahnya dekat sini, tapi waktu kejadian ada di bawah,” ungkapnya.

Banjar bandang di Tukad Ling, Tianyar Tengah, Kubu, menyisakan mimpi buruk bagi warga setempat. Mereka berjibaku menyelamatkan diri agar selamat dari insiden mematikan itu.

“Saya pasrah,.tidak bisa berbuat apa - apa. Kami bertujuh dengan anak, istri dan menantu harus bertahan di tengah kepungan dan terjangan banjir bandang yang sangat besar,” ujar Nosi, korban banjir bandang.

Nosi adalah besan dari Sudarmana, karena anak Nosi menikah dengan anak Sudarmana dan tinggal di belakang rumah Sudarmana. Rumah tersebut adalah yang paling parah di terjang banjir. 

“Air saat itu setinggi dada karena lokasinya cukup tinggi. Kalau di lokasi lebih rendah bisa sampai empat meter,” ujarnya.

“Saya bersama keluarga mau lari, namun air keburu membesar,” paparnya. ini terjadi sekitar pukul 24.30 Wita.

Akhirnya karena terseret harus yang cukup kuat di depan halaman rumahnya tersebut dia terpaksa berpegangan di sebuah pohon yang cukup besar. Anak dan istrinya serta menantunya juga berpegangan di pohon yang sama.

Yang cukup dramatis Nosi saat ini juga harus menyelamatkan anak kembarnya yang masih kecil yakni Titik Rosari dan Titik Rohati yang masih dua tahun. “Saya bertahan selama satu jam lebih, begitu air agak surut sekitar pukul 01.30 Wita saya berhasil ke arah utara dan menyeberang jalan,” ujarnya. (*/mus)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia