Rabu, 23 Aug 2017
radarbali
Features

Komunitas Keroncong Bali Dibentuk Sejak 2002, Rangkul Anak Muda untuk Regenerasi

2017-02-10 10:00:00

Komunitas Keroncong Bali Dibentuk Sejak 2002, Rangkul Anak Muda untuk Regenerasi

MENGHIBUR: Komunitas Keroncong Bali saat tampil di Bentara Budaya Bali belum lama ini. (Istimewa)

Di tengah perkembangan genre musik yang kian variatif, keberadaan musik keroncong begitu memprihatinkan. Beruntung, musik yang lekat dengan “kaum tua” ini masih bisa Anda temukan di beberapa panggung pertunjukan di Bali.

 

 

MARCELLO PAMPUR, Denpasar

 

SIAPA yang tak mengenal musik keroncong? Musik dengan alunan nada yang merdu dan menenangkan hati dengan ciri khas musik yang mendayu-dayu dan nada yang ekstra lembut.

Berbeda dengan era tahun 60-an hingga 80-an, perkembangan musik keroncong saat ini tak begitu menggembirakan. Berbeda dengan genre musik lain macam; pop, rock, bahkan dangdut yang begitu pesat.

Meski demikian, masih ada sedikit komunitas yang peduli dengan musik yang pertama kali diperkenalkan para budak dari Maluku pada abad ke-16 ini.

Salah satu komunitas yang berusaha mempertahankan jenis musik asli Indonesia ini adalah Komunitas Keroncong Bali.

Dibentuk sejak tahun 2002 silam, Komunitas Keroncong Bali kini telah beranggota lebih dari 300 orang. Usia para anggotanya pun tidak hanya para orang tua, tetapi juga anak muda.

Ketua Komunitas Keroncong Bali Jaka Rustiawan mengatakan, tujuan utama dibentuknya komunitas ini dilakukan atas dasar kepeduliannya untuk tetap melestarikan jenis musik yang termasuk dalam warisan budaya asli Indonesia ini.

Di samping itu, keberadaan Komunitas Keroncong Bali ini juga menjadi wadah bagi para pencinta musik keroncong untuk tetap berkarya dan musik keroncong tetap bisa dinikmati di Pulau Bali.

“Ini berangkat dari kekhawatiran saya dan teman-teman tentang musik keroncong, warisan budaya asli Indonesia ini. Selain itu, sebagai pencinta musik keroncong, hal ini kami lakukan agar musik ini tetap dapat dinikmati di Bali,” tutur Jaka Rustiawan saat ditemui Jawa Pos Radar Bali, Rabu (8/2) di Jalan Merpati, Monang-Maning Denpasar Barat.

Menolak punah dan keroncong kian digemari, Jaka Rustiawan bersama anggota komunitas selalu berusaha menularkan pengetahuan mereka tentang keroncong kepada para kaum muda.

Memberikan ruang selebar mungkin kepada kaum muda untuk belajar adalah salah satu cara yang dilakukan agar keroncong tetap bisa hidup di tengah para generasi muda.

“Memang tidak mudah bagi saya dan teman-teman untuk melakukan itu. Tapi, kami selalu berusaha menularkan musik ini  kepada kaum muda. Misalnya, dengan cara memberikan latihan gratis tentang musik keroncong ini kepada anak-anak muda yang mau belajar,” terangnya lagi.

Asli putra Bali, Jaka Rustiawan sendiri lahir dari keluarga yang menyukai musik keroncong.

Mulai dari kedua orang tua yang adalah pencinta musik keroncong, istri dan anak hingga mertuanya adalah para pencinta musik jenis ini.

Kini, Komunitas Keroncong Bali kerap tampil di berbagai panggung hiburan dan budaya, baik di Bali maupun di luar Bali. Bahkan, beberapa anggota komunitas sudah banyak melahirkan karya musik keroncong.

Seperti lagu-lagu keroncong yang berjudul Pantai Kuta, Jati Luwih, dan Bedugul. Kehadiran mereka di setiap panggung yang diisi biasanya selalu mendapatkan respons yang positif dari para audiens.

Jaka Rustiawan menilai jika dirinya bersama anggota Komunitas Keroncong Bali masih belum mendapat ruang yang lebih leluasa untuk mengekspresikan musik keroncong ini.

Dirinya pun berharap agar para pencinta maupun para pelaku musik keroncong diberi ruang yang cukup untuk membuktikan jika musik keroncong masih bisa tetap hidup di tengah gempuran genre musik modern.

“Ya, kami berharap agar kami bersama para pencinta musik keroncong di Bali diberi ruang yang lebih banyak lagi untuk membuktikan bahwa keroncong masih tetap bisa menjadi salah satu jenis musik yang tetap bisa dinikmati,” tukasnya. (*/mus)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia