Minggu, 20 Aug 2017
radarbali
Niskala

Karauhan, Fenomena yang Kerap Menyertai Pentas Calonarang

2016-10-15 11:00:00

Karauhan, Fenomena yang Kerap Menyertai Pentas Calonarang

KERAUHAN: Penonton calonarang mengalami kerauhan kemarin (Surpa Adisastra/Radar Bali)

RadarBali.com - Karauhan atau trance adalah salah satu hal yang ditunggu penikmat calonarang. Pada calonarang di Desa Adat Getakan,

Banjarangkan, Klungkung, beberapa orang juga mengalami karauhan. Mulai dari pamangku, pangayah, hingga warga yang menonton.

sekitar pukul 23.00, usai pementasan kisah  calonarang,  tiba-tiba terjadi karauhan beberapa orang. Setelah diberikan tirta,  akhirnya orang yang karauhan tenang.

Prosesi kemudian berlanjut pada prosesi pemandian watangan alias bangke matah. Seperti yang telah  diketahui, yang menjadi bangke matah adalah Dewa Aji Tapakan.

Setelah dimandikan layaknya jenazah sungguhan, Dewa Aji  Tapakan kemudian diberikan prosesi ritual diiringi angklung yang mendayu-dayu.

Warga yang penasaran dan tidak bisa menonton berusaha menyelinap. Bahkan, tidak sedikit yang loncat pagar demi mencari celah menonton.

Tidak  sedikit pula yang mengeluh sesak karena berdesakan. Sehingga banyak yang kemudian memilih duduk-duduk sambil mengobrol karena tidak kebagian tempat menonton.

Ketika prosesi sedang berlangsung tiba-tiba warga dikejutkan dengan kerauhan salah satu pangayah di palinggih melanting di sebelah timur balai banjar.

Sambil memegang potongan dahan pohon kecil, warga yang kerauhan tersebut berteriak-teriak. "Da negak ditu! (jangan duduk di sana)," demikian teriaknya kepada beberapa warga yang duduk-duduk di pagar dekat palinggih.

Sontak saja beberapa warga yang menonton kalang kabut. Kerauhan tersebut berlangsung sekitar 10 menit.

Sambil memukulkan dahan pohon ke tembok panyengker palinggih, pangayah tersebut mengucapkan berbagai kalimat dalam bahasa Bali yang intinya meminta agar warga yang menonton tidak duduk secara sembarangan.

Usai prosesi terhadap bangke matah dilaksanakan secara lengkap, suara baleganjur langsung menyambut di bawah pohon beringin.

Saat yang sama, kembali terjadi karauhan susulan. Bahkan jumlahnya lumayan banyak. Panitia pun cekatan merangkul dan menuntun.

Bahkan, karauhan kembali terjadi sesaat sebelum prosesi ngurip atau menghidupkan kembali bangke matah.

Ada yang menari, ada yang terlihat kaku, ada pula yang mengucapkan berbagai kalimat. Penonton pun terbengong dan tidak sedikit yang berusaha mengabadikan momen tersebut. (adi/mus)

 

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia