Minggu, 20 Aug 2017
radarbali
Niskala

MMDP Minta Sulinggih Selektif Atur Dewasa

2016-10-14 22:00:00

MMDP Minta Sulinggih Selektif  Atur Dewasa

Para sulinggih menggelar paruman di Karangasem kemarin (Wayan Putra/Radar Bali)

RadarBali.com - Sebanyak 41 sulinggih (tokoh agama Hindu) berkumpul di Puri Gede Karangasem kemarin (13/10). Mereka membicarakan beberapa hal terkait keagamaan. 

Paruman sulinggih ini mengundang 50 sulinggih di seluruh Karangasem. Namun, yang hadir hanya 41 orang yang mewakili 234 sulinggih di Karangasem.

Di antaranya hadir lima orang dari Kecamatan Selat. Seperti Ide Padanda Gede Made Telaga dari Geria Duda, Selat bersama dengan istrinya Ida Pedanda Istri Intaran.

Juga hadir Ida Pandita Empu Nabe Istri Dasa Nata dari Geria Water Tengah, Duda Timur, Selat, Ide Pedanda Gede Nyoman Kutuh Putra Manuaba dari Geria Pesangkan, Selat dan Ide Pandita Sri Empu Brahma Giri dari Geria Sukawana, Selat.

Di Selat sendiri menurut Kasi Kesra Kecamatan Selat Wayan Kardi ada 34 sulinggih. “Beliau ini perwakilan dari Kecamatan Selat,” ujarnya.

Paruman ini juga sekaligus untuk membahas sekaligus sosialisasi status Pura Penataran Agung, Puncan Gunung Kembar Kemesuk di Desa Bukit, Karangasem.

Menurut Kabag Kesra Putu Arnawa untuk mengesahkan status pura tersebut menjadi kahyangan jagat yang harus melalui paruman.

Selain itu, yang tidak kalah penting adalah kegiatan ini juga untuk mengetahui data sekaligus profil para sulinggih di Karangasem.

Ini penting dilakukan agar tidak ada lagi sulinggih yang tidak mendapat pelayanan dari pemerintah. “Sementara beliau sibuk memberi pelayanan kepada umat perlu juga mendapat pelayanan dari pemerintah.

Makanya kita minta profil bersama keluarganya,” ujar Arnawa, saat ditemui di sela-selaparuman sulinggih di Puri Gede Karangasem, kemarin.

“Jangan sampai saat sulinggih menderita sakit pemerintah tidak tahu sehingga beliau tidak mendapat pelayanan,” ujarnya.

Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Bupati Karangasem IGA Mas Sumatri, Ketua DPRD Karangasem Nengah Sumardi, Ketua Majelis Madya Desa Pakraman (MMDP) Karangasem I Wayan Artha Dipa,

Ketua PHDI Karangasem Gede Astika, dan juga para pinandita dan perwakilan dari Majelis Alit Kecamatan se-Karangasem.

Dengan kegiatan ini para sulinggih di Karangasem akan terdata dengan baik. Dan, pemerintah punya data akurat terkait sulinggih tersebut.

Sementara itu peserta kali ini terbanyak adalah dari Kecamatan Karangasem dengan 17 sulinggih, sementara dari Bebandem 10, Sidemen, Manggis, dan Selat masing masing 5, Abang dan Rendang 3 sulinggih, dan Kecamatan Kubu 2 sulinggih.

Di kesempatan ini juga diberikan bantuan berupa punia dari Pemkab Karangasem. Masing - masing sulinggih mendapat Rp 1,4 juta.

Hadir juga dalam kesempatan itu Ide Pedanda Buruan Panatih dari Geria Taman, Jungutan, Bebandem yang juga wakil Doma Upepati PHDI Karangasem.

Di momen ini Ketua MMDP Karangasem sempat menyinggung berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat karena dewasa (hari baik).

Akibatnya, muncul berbagai persoalan di bawah. Seperti dicontohkan Artha Dipa di Desa Pakraman Susuan baru - baru ini yang sedikit tegang karena dewasa.

Seperti saat desa pakraman sedang menggelar ritual ngenteg linggih dan nubung daging, namun ada salah satukrama yang melakukan upacara atiwa tiwa atau ngaben. 

“Akibatnya sempat tegang karena tidak diizinkan desa pakraman,” ujarnya. Yang seperti ini MMDP berharap ke depan sulinggih dalam memberikan dewasa sekaligus pemuput agar lebih selektif.

Sehingga tidak terjadi benturan di masyarakat. “Kapan dewasa untuk desa yadnya, kapan untuk pitra yadnya harus jelas mestinya tidak bersamaan,” ujarnya.

Misalnya saat purnama kedasa yang mestinya untuk desa yadnya malah ada upacara atiwa - tiwa atau pitra yadnya.

Sehingga saat Ide Batara Turun Kabeh di Besakih misalnya malah ada warga yang menggelar ngaben. Hal ini menurut Artha Dipa agar tidak terjadi lagi sehingga tidak menimbulkan persoalan di bawah.

Sementara terkait Pura Gunung Kembar menurut Artha Dipa itu adalah kahyangan jagat. Hal ini sesuai Ide Batara di pura tersebut, yakni Ida Batara Puncak Kangin (Bhur Buah Swah) dan Ida Betara Puncak Kauh (Lempuyang).

Disebutkan juga kalau Isaka 1519 ngawiten pelinggih di pura tersebut dan dipimpin Raja Karangasem saat itu. Bahkan, pura ini diberikan laba pura oleh raja berupa 316 hektare kebun.

Pura Panataran Agung Pucak Kembar ini sendiri sudah mulai direhab sejak 20 tahun lalu dan sekarang baru kelar.

 Pada purnama kelima 15 November mendatang akan digelar ritual ngenteg linggih lan nubung daging. (tra/pit)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia