Rabu, 23 Aug 2017
radarbali
Tenis

Cetak Sejarah, KONI Bali Evaluasi Cabor Gagal

2016-09-30 07:00:00

Cetak Sejarah, KONI Bali Evaluasi Cabor Gagal

MEGAH:Suasana penutupan PON Jabar kemarin malam berlangsung megah dan meriah (Evan Zumarli/Sumatera Express)

RadarBali.com - Usai sudah perhelatan PON XIX/2016. Bali akhirnya mampu mencetak sejarah baru dengan bertengger di peringkat keenam perolehan medali akhir.

Capaian ini lebih bagus daripada capaian di PON Riau 2012. Target 20 medali emas juga sudah tercapai.

Tetapi, KONI Bali tidak akan bisa bersenang-senang terlalu lama karena mempertahankan capaian di 2016 akan terasa lebih berat di PON 2020 yang dihelat di Papua.

Selain itu, faktor tuan rumah PON di luar Jawa, seperti pengalaman sebelumnya akan membuat persaingan dan persebaran medali akan lebih merata.

Tidak seperti tahun ini yang didominasi penuh empat kontingen Pulau Jawa. Yakni Jabar, Jatim, DKI, dan Jateng. 

“Banyak orang yang bilang, merebut emas di PON kali ini lebih susah daripada di SEA Games,” ungkap Waketum III KONI Bali Maryoto Subekti Kamis kemarin (29/9).

Menurutnya, pembinaan justru akan semakin berat ke depannya karena harus bisa mempertahankan apa yang sudah dicapai saat ini.

Apalagi, yang mampu meraih medali saat ini bukanlah cabor yang menjadi prediksi untuk meraih medali emas sebelumnya.

Semisal cabor renang yang berhasil menyumbang medali emas dan kriket yang bahkan mampu meraih dua medali emas dan berhasil mencatatkan sejarah baru dengan menjadi juara umum untuk pertama kalinya.

Bagaimana dengan cabor yang seharusnya diproyeksikan mendapatkan medali tetapi hasilnya nihil? Dirinya mengatakan KONI Bali akan memanggil para cabor satu persatu setelah perhelatan PON ini.

“Kami akan evaluasi mereka. Tapi kami akan memberikan waktu untuk beristirahat dulu sebelum kami panggil. Lebih cepat lebih baik karena Porprov dan PON Remaja sudah ada di depan mata,” tuturnya.

Di PON kali ini memang ada beberapa cabor yang seharusnya bisa mendulang medali justru kandas begitu saja.

Semisal tinju yang seharusnya bisa mendulang tiga medali emas tetapi hanya mampu meraih dua medali perak.

Selain itu dari cabor menembak yang memiliki target dua medali emas. Namun kenyataannya hanya mampu meraih dua perak dan satu perunggu.

“Beberapa catatan kami peroleh dari beberapa cabor yang seharusnya mampu mendulang emas tapi justru hasilnya nihil. Kami tidak bisa langsung menyimpulkan kegagalan.

Meskipun kami berada di lapangan, tetapi kami harus mengetahui secara detail dari pelatih maupun atlet. Apakah itu karena faktor cuaca, faktor teknis, ataupun non teknis,” tuturnya.

Dia menambahkan, mungkin saja beberapa cabor yang gagal tersebut terlihat terlalu percaya diri sehingga menjadi bumerang bagi mereka. “Apakah terlalu over confidence, kami tidak tahu.

Yang jelas, seluruh cabor sudah berjuang dengan maksimal. Ke depannya ini penting untuk menatap PON 2020,” ungkap Maryoto. (lit/han/mus)

 

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia