Kamis, 09 September 2010
 
   Radar Kediri
[ Kamis, 09 September 2010 ]
Melihat Aktivitas Kliring jelang Idul Fitri di BI Kediri
Kejar Libur, Transaksi Bisa Lebih Rp 2 Miliar

Menjelang Lebaran aktivitas di Kantor Bank Indonesia (KBI) Kediri meningkat. Salah satunya pada bagian kliring. Bagian inilah yang melayani pengiriman uang antarbank. Bagaimana kesibukannya ?

MOHAMMAD SYIFA, Kediri

---

Senin (6/9) siang aktivitas di ruang kliring KBI Kediri terlihat begitu sibuk. Apalagi kurang dari sepekan, sudah masuk waktu libur hari besar Idul Fitri. Ruangan yang ada di lantai satu gedung BI di Jalan Brawijaya itu dipenuhi sedikitnya 20 orang. Mereka adalah perwakilan dari bank-bank umum yang ada di Kediri.

Para staf perbankan itu menempati mejanya masing-masing. Pasalnya di atas setiap meja telah terdapat sebuah papan kecil bertuliskan nama bank yang bersangkutan. Ada BCA, BNI, BRI, BTN, CIMB Niaga dan nama-nama bank lainnya. Kertas-kertas kecil berupa warkat bank juga terlihat tertata rapi di atas meja.

Tepat di hadapan meja-meja itu terdapat sebuah ruangan berukuran sekitar 3 x 3 meter. Di ruangan itulah terdapat seorang petugas BI yang mengendalikan proses kliring.

Lalu, apa sebenarnya kliring itu? Deputi Pemimpin BI Bidang Sistem Pembayaran dan Manajemen Intern Erwin Ismunandar mengatakan secara sederhana kliring bisa diartikan sebagai proses transaksi antarbank, baik kredit maupun debet. "Lebih gampangnya adalah proses pengiriman uang," kata Erwin kepada Radar Kediri.

Atau dalam istilah perbankan biasanya disebut sebagai Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI). Proses kliring tersebut dilakukan dua kali dalam sehari. Yakni pagi sekitar pukul 08.00 dan siang pukul 13.00.

Untuk proses kliring pagi, biasa disebut sebagai kliring penyerahan. Pada jam ini semua perwakilan bank berkumpul dan menyerahkan warkat atau surat berharga. Biasanya berupa cek atau bukti transfer antarbank.

Sedangkan untuk kliring siang, biasa disebut sebagai pengembalian. Saat itu warkat dikembalikan kepada masing-masing bank karena ada data transaksi yang gagal atau tidak sesuai. "Sekaligus juga penyerahan transaksi yang dilakukan di atas jam delapan," lanjut Erwin.

Meskipun dilakukan di masing-masing kantor BI di daerah, sistem kliring tersebut berlaku secara nasional dan online. Mengingat transaksi atau transfer dana berlangsung dari bank di suatu daerah ke daerah lainnya.

Kemudian bagaimana prosesnya? Erwin mengatakan dalam kliring transaksi yang dilakukan tidaklah dalam bentuk tunai. Namun hanya berupa data keuangan elektronik (DKE). Yakni data transfer dana dalam format elektronik yang digunakan sebagai dasar perhitungan dalam SKNBI.

Biasanya sekitar pukul 08.00 seluruh perwakilan bank datang ke KBI Kediri. Mereka menyerahkan warkat dan data elektronik kepada petugas kliring BI. Selanjutnya data-data tersebut diolah dan dimasukkan ke dalam sistem elektronik. "Prosesnya cukup singkat, hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam saja," imbuhnya.

Selanjutnya data elektronik dari BI diserahkan kembali kepada masing-masing perwakilan bank. Perwakilan bank akan mengolah kembali data-data itu di kantor masing-masing.

Misalkan saja, nasabah bank A melakukan transfer kepada bank B. Dalam proses transfer itu bank A akan memberikan data elektronik terlebih dahulu ke BI saat kliring. Selanjutnya dari BI data tersebut baru diberikan ke bank B. "Jadi tidak langsung antarbank. Ada perantaranya," imbuh Erwin.

Sebenarnya proses kliring bisa selesai dalam waktu satu hari. Hanya saja hal itu tergantung pada padatnya aktivitas di bank masing-masing. Jika bank tersebut banyak melayani transaksi nasabah maka proses sampainya uang kiriman bisa mencapai dua hari.

Dalam sehari, sambung Erwin, rata-rata besar dana yang diproses dalam kliring bisa mencapai Rp 2 miliar. Kendati demikian, pada hari-hari tertentu bisa lebih. Khususnya saat menjelang Lebaran seperti saat ini. "Nilai transaksi bisa lebih dari Rp 2 miliar," ungkapnya.

Mengingat saat Lebaran bank umum dan BI tidak beroperasi. Sehingga proses kliring pun terhenti. "Saat libur tidak ada proses kliring," tandas Erwin.

Lalu, bagaimana jika ingin tetap berkirim uang? Erwin mengatakan masyarakat tidak perlu khawatir. Karena masih ada yang disebut dengan real time gross settlement (RTGS). Dalam sistem ini transaksi berlangsung secara lebih cepat. Karena dilakukan seketika per individu.

Hanya saja dalam sistem RTGS biaya yang dikenakan biasanya lebih mahal. Biaya tersebut sepenuhnya diserahkan kepada pihak bank masing-masing. "Tapi uang sampai lebih cepat," urai Erwin.

Menjelang Lebaran tahun ini, Erwin mengakui transaksi memang sangat padat. Tak hanya pada sistem kliring, namun juga pada transaksi melalui mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Terlebih nanti pada saat Lebaran, satu-satunya transaksi yang diandalkan masyarakat adalah melalui ATM.(ndr)