Senin, 06 September 2010
 
   Radar Malang
[ Senin, 06 September 2010 ]
Wabah Muntaber, Dinkes Buka Posko
Korban Meninggal Bertambah Dua Orang

KABUPATEN - Korban meninggal dunia akibat muntaber terus berjatuhan. Hingga kemarin tercatat ada empat orang yang nyawanya tak tertolong. Dinkes pun belum bisa menyimpulkan apakah meninggalnya warga tersebut karena keracunan makanan atau bakteri.

Pasalnya, para korban meninggal itu tidak semua mengonsumsi takjil yang dibeli di pinggir jalan. Sedangkan dua korban tambahan yang meninggal dunia adalah yakni Bunaji, 45 dan Romilah, 70, warga Palakan, Ngajun. Keduanya meninggal pada Sabtu (4/9) kemarin. Sebelumnya Nur Romah, 45, warga Talangagung dan M. Achiyak, 60, warga Jatirejoyoso, nyawanya juga tak tertolong. Semua korban itu diidentifikasi mengalami muntaber.

Hingga kemarin pasien muntaber meluas hingga Ngajum. Tercatat di RSUD Kanjuruhan ada 60 pasien yang menjalani rawat inap dan 9 pasien di RS Wava Husada. Awalnya yang terdeteksi adalah warga Jatirejoyoso yang mengalami muntaber setelah mengonsumsi takjil dari kantor DPC Partai Hanura. Para pasien itu rata-rata mengalami sakit perut pada Senin (30/9) lalu.

Dari informasi yang didapat Radar, riwayat sakit yang diderita Bunaji dan Romilah sendiri terbilang mendadak. Sebelum merasakan sakit perut dan muntah, keduanya masih menjalani puasa. Baru setelah buka puasa pada Senin (30/8), keduanya mengeluhkan perutnya sakit dan mual. Karena tidak terlalu dirasakan, sakit Bunaji semakin parah. "Bapak hanya mengeluhkan sakit perut dan terus ke WC," kata Tumadi saudara Bunaji, kemarin.

Rasa sakit perut tersebut semakin terasa setelah tengah malam. Pada Jumat (3/9) Bunaji diperiksa bidan desa. Selanjutnya pulang ke rumah untuk diobati. Namun sayang, pagi harinya Bunaji meninggal dunia.

Begitu juga Romilah yang sempat memeriksakan dirinya ke RSUD Kanjuruhan Kepanjen. Karena menolak rawat inap, Romilah pun memilih berobat jalan. Namun sayang, Romilah pun mengalami nasib yang sama. Meninggal dunia saat kondisinya semakin parah. "Bu Romilah juga meninggal karena sakit yang sama seperti Bunaji," kata Tumadi.

Selain dua orang tersebut, juga ada puluhan orang yang harus mengalami sakit muntaber. Di antaranya memiliki riwayat minum es campur dan ada juga tidak ikut minum es campur. "Untuk sementara kami belum bisa menyimpulkan apakah karena keracunan makanan atau bakteri," ujar Kadinkes Kabupaten Malang Muhammad Fauzi.

Saat ini dinkes masih melakukan penyelidikan. Pasalnya, dari empat orang yang meninggal dunia akibat muntaber, tidak semua mengonsumsi takjil yang dibeli di pinggir jalan. "Kami masih mengumpulkan data dari pasien, penjual takjil, hingga kondisi lingkungan warga," terangnya. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui sumber muntaber tersebut.

Saat ini, tambahnya, dinkes juga telah mengambil sampel air dan berbagai jenis bahan yang digunakan membuat es. Sampel tersebut diambil dari rumah Ari Busono, 30, pembuat takjil yang dipesan Partai Hanura. Langkah lain yang dilakukan dinkes adalah menyiapkan posko kesehatan di Dusun Sukoyuwono, Desa Palakan, Ngajum. Tujuannya agar masyarakat yang teridentifikasi muntaber segera tertolong. "Bersama bidan desa kami terus melakukan sosialisasi agar wabah tersebut tidak menyebar luas," kata Fauzi

Sementara itu, Ari Busono merasa heran, karena selama ini tidak pernah ada masalah atau pembelinya yang mengeluhkan sakit perut. "Tiga tahun ini saya berjualan. Tidak pernah pelanggan yang mengeluhkan sakit perut," kata Ari ketika ditemui di rumahnya kemarin.

Karena itu, sejak beredarnya isu banyak yang sakit perut akibat minum es buatannya, Ari tidak begitu menghiraukan. Baru kemarin dia memilih untuk tidak berjualan, karena merasa resah dengan isu yang menyudutkan dirinya. "Kami seakan-akan bersalah," tegas dia.

Dari keterangan Ari, es yang diproduksi sudah higenis. Air yang digunakan dimasak terlebih dahulu. Bahan baku yang digunakan juga tidak ada yang kedaluwarsa. Bahan baku membuat es berupa, nutrijel, susu, dan gula dibeli di sebuah toko di Talangagung. Sedangkan rumput laut dan cao dibeli di pasar.

"Airnya pun saya masak sampai mendidih. Tidak ada tambahan bahan pengawet atau bahan lainnya," urai Ari. Tetapi pria yang sudah memiliki satu anak ini pun heran. Sebab banyak yang menuding penyebab warga keracunan makanan bersal dari es yang dibuat. Karena itu, Ari memilih pembuktiabn dari polisi dan dinkes.

Terpisah, Direktur RSUD Kanjuruhan Kepanjen dr Lina Julianti mengatakan, hingga kemarin ada 60 penderita muntaber yang menjalani rawat inap dan 12 orang menjalani rawat jalan. Mereka masuk secara bergelombang sejak Rabu (1/9).

Kondisi pasien yang masuk hampir semuanya mengalami kekurangan cairan. Karena itu, para pasien langsung mendapatkan cairan tambahan dari infus. "Sudah kami lakukan pertolongan. Semuanya sudah membaik. Mungkin hari ini sudah ada yang pulang," kata Lina.

Dari data yang ada dri RSUD, semua pasien dari Kecamatan Kepanjen dan Ngajum semuanya mengalami sakit muntaber. Karena sudah ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) oleh Dinkes Pemkab Malang, RSUD siaga penuh. Pasien yang masuk katagori terserang muntaber akan mendapatkan penanganan khusus. Selain jumlah penderitanya cukup banyak, penanganannya pun juga harus diutamakan. Sebab, jika terlambat memberikan pertolongan bisa membahayakan sang pasien.

Seperti diberitakan, kejadian ini diketahui setelah 24 warga Jatirejoyoso dirawat di RS Wava Husada sejak Senin lalu. Pada awalnya, dinkes menduga gejala tersebut karena keracunan takjil yang diberikan dari kantor DPC Partai Hanura kepada warga Jatirejoyoso. Takjil dari Hanura ini dipesan dari Talangagung. Namun, belakangan ada gejala yang sama dialami pasien yang dirujuk ke RSUD Kanjuruhan. Para pasien ini mengalami muntaber. (bb/ziz)