Senin, 06 September 2010
 
   Radar Tulungagung
[ Senin, 06 September 2010 ]
Pulang Umroh Dikado Darah
Bupati Heru Tjahjono oleh Warga Pacitan

TULUNGAGUNG - Bupati Tulungagung Heru Tjahjono baru saja dari Makkah. Dia melaksanakan ibadah umroh. Sepulang dari Tanah Suci, orang nomor satu di Pemkab Tulungagung itu bakal mendapat kado istimewa berupa cap jempol darah. Pengirimnya warga Dusun Pacitan, Lingkungan III Desa/Kecamatan Ngunut.

Cap jempol darah sebagai bentuk penolakan pendirian stasiun pengisian dan pengangkutan bulk elpiji (SPPBE) milik PT Gangsar Sentosa Petroleum. Jika tidak ada aral melintang, kado tersebut dikirim dua hari sebelum Idul Fitri 1431 H.

Pernyataan itu disampaikan salah satu warga Dusun Pacitan lingkungan III Ngunut bernama Dwi Indarto. "Kami sudah menggalang cap jempol darah yang dituangkan di kain putih sepanjang dua meter. Nah, cap jempol darah warga itu yang akan kami kirimkan ke Bupati Heru," kata pria berusia 35 tahun ini.

Pengiriman bertujuan agar Bupati Heru Tjahjono tidak memberikan izin pendirian SPPBE milik Trimo, warga setempat. Pasalnya, SPPBE berdiri di atas tanah seluas 2 hektere yang padat penduduk.

"Penolakan pembangunan SPPBE di lingkungan III Ngunut merupakan harga mati. Penggalangan cap jempol darah ini sebagai bentuk perlawanan kami," paparnya kemarin.

Dwi Indarto menegaskan, terkumpul 500 cap jempol darah warga Ngunut. Jika tuntutan mereka tidak dikabulkan, warga mengancam akan menggalang aksi yang lebih besar. "Jika aksi ini, tidak ditanggapi, warga dengan kompak siap menggerakkan massa yang lebih besar," tegasnya.

Sekadar informasi, sekitar pukul 11.00 kemarin, warga puluhan lingkungan III Ngunut melakukan aksi cap jempol darah yang kali kedua. Sebelumnya, aksi dilakukan di kediaman salah satu warga bernama Slamet pada Rabu, 1 September lalu. Ditengarai yang menuangkan darahnya tak banyak karena hari efektif. Kemarin digelar lagi di kediaman Sumani.

"Aksi ini murni aspirasi warga. Tanpa intervensi kelompok mana pun. Intinya, warga lingkungan III Ngunut menolak pembangunan SPPBE," terang warga lain bernama Sumani.

Sumani melanjutkan, paska cap jempol darah, ditengari muncul beberapa oknum yang mencoba melobi warga lingkungan III NGunut. Intinya, mendesak warga untuk menghentikan aksi penolakan. Tentunya dengan iming-iming imbalan, asuransi dan lain sebagainya. "Kami sepakat menolak pembangunan SPPBE. Jika tetap, warga sepakat lakukan perlawanan," katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, warga Dusun Pacitan, Lingkungan III Desa/Kecamatan Ngunut, resah. Itu karena ada rencana pendirian SPPBE di lingkungan sekitar. Yang mendirikan Trimo, pengusaha setempat yang bergerak di makanan ringan. Namun warga tidak setuju. Sebab SPPBE berdiri di area padat penduduk. (tri/her)