Jum'at, 03 September 2010
 
   Radar Yogya
[ Rabu, 25 Februari 2009 ]
Petani: Stop Impor Cabai
Harja Cabai Lokal Jadi Anljok

KULONPROGO - Petani cabai menyayangkan sikap pemerintah yang membolehkan impor cabai dari Cina. Pasalnya, impor tersebut hanya membuat harga cabai lokal menjadi anjlok.

Kondisi ini membuat petani mengkhawatirkan hasil produksi pada musim tanam cabai pertama yang dilakukan 1 Maret mendatang. Sebab, harga cabai hasil petani pesisir Kulonprogo tidak mampu bersaing dengan harga cabai dari Cina.

Tampilan cabai produksi Cina terlihat lebih bagus dan menggiurkan. Anggota Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Kulonprogo Sudiro mengatakan masuknya produk cabai dari Cina ini dirasakan sejak tiga tahun lalu.

Masuknya cabai dari Cina membuat harga cabai lokal turun drastis. Sudiro menyatakan keberatan dengan penerapan impor cabai Cina.

"Kita sudah sampaikan melalui AACI kalau kita keberatan dengan penerapan impor cabai Cina ini. Namun sampai sekarang tidak ditanggapi," ujar Sudiro yang juga menjabat ketua Asosiasi Pasar Tani (Aspartan) Kulonprogo.

Permasalahan lain yang dihadapi petani adalah jadwal tanam cabai yang bersamaan dengan daerah lain. Pasalnya, penanaman secara serentak di berbagai daerah hanya akan membuat harga turun.

Ketua Kelompok Tani Mino Serang Sari Agus Parmono meminta pemerintah melakukan penjadwalan masa tanam awal cabai. Sehingga ada koordinasi antar daerah penghasil cabai, agar panen tidak dilakukan secara bersamaan dan tidak saling benturan.

"Panen Kulonprogo biasanya bersamaan dengan panen cabai di Brebes. Kadang harganya jadi anjlok," katanya.

Apabila waktunya tidak bertepatan, harganya bisa melambung tinggi. Persaingan antar-petani cabai di seluruh Indonesia juga lebih sehat. (ila)