Curahan Hati Komunitas Perusahaan Rokok Kecil di Kudus (1)
Tidak Mau Berujung Gulung Tikar
Bernama Komunitas Perusahaan Rokok Kudus (Koperku), sebuah wadah yang terdiri yang dibentuk produsen rokok berskala kecil. Namun dalam namanya tidak disebutkan perusahaan kecil, karena cita-cita yang dibangunnya setinggi langit.
HALIMATU HILDA, Kudus
---------------------------------------------------
PINTU gerbang berwarna krem tersebut terlihat tertutup rapat. Setelah beberapa saat mengetuk pintu besi itu, keluar seorang anak perempuan. Sambil memanggil orang yang dicari Koran ini, sesaat kemudian langsung muncul seorang laki-laki berusia sekitar 45 tahun.
"Wah ada apa ya Mbak. Maklum ya kalau berantakan," ujarnya sambil mempersilakan masuk ke ruang tamu.
Ruangan itu jauh dari kesan berantakan, malah terkesan rapi. Sofa ukiran ditata memenuhi ruang tamu lengkap meja berbahan marmer. Sehingga sisa ruangan hanya sedikit.
Setelah memperkenalkan diri, pria bernama lengkap Rusdi itu kembali masuk ke ruangan. Sambil membawa ponsel dan kaca mata, ia langsung duduk di sofa empuk itu. Mengenakan pakaian santai, saat itu merupakan waktunya ia bekerja di gudang rokoknya.
Usaha rokok yang ditekuninya sejak 2003 tersebut dirintisnya sedari awal. Berbekal tekad kuat dan semangat penuh tantangan, ia nekad mengundurkan diri dari pekerjaan mapannya sebagai tenaga sekuriti.
"Pekerjaan seperti itu kan bagi saya tidak akan berkembang. Terutama untuk kehidupan tua nantinya," tuturnya.
Sambil melihat beberapa peluang usaha waktu itu, jatuhlah pilihan membuat industri rokok. Proses pembuatannya pun dilakukan sejak awal. Mulai pencampuran jenis tembakau, saus, sampai pemasarannya.
Semuanya dikerjakan dengan secara otodidak. Menimba ilmu ke sana kemari sambil mencoba segala jenis tembakau dengan komposisi tertentu. Setelah ia melakukan proses batangan rokok, dia mengandalkan tetangganya untuk menjajal.
Beberapa masukan para taster-nya itu, akhirnya dibuatlah merek Paku Bumi bersama aneka jenis lainnya. Akhirnya dibuatlah perusahaan rokok (PR) bernama PR Rahman Putra. Begitu pula, kemarin saat ditemui di rumahnya, ia sedang meracik komposisi terbaru untuk merek terbarunya.
"Sebentar ini saya ada samplenya," ucapnya sembari mengambil racikan yang ditaruh di teras.
Racikan yang terbungkus plastik itu telah diberikan nomor pembeda. Satu per satu memang memiliki aroma khas. Namun, ia belum menjajalnya ke orang lain, karena perlu penyempurnaan.
Setelah mahir melakukan pencampuran, tantangan lainnya pun siap diterjangnya. Tak kalah sulitnya yakni teknik pemasaran. Di mana, ia harus terjun sendiri memasarkan produknya.
Perjalanan dengan mengendarai mobil sendiri pun pernah dijalani sampai ke wilayah Jawa Barat. Bahkan pernah untuk menarik perhatian peminat rokok, ia menawarkannya bersama sales promotion girl (SPG).
Ternyata hasilnya pun cukup memuaskan. Produksinya mulai dikenal masyarakat luas, dan ada pembelinya. Per harinya waktu itu Rusdi memproduksi 3 bal. Sayangnya sekarang ia hanya memproduksi jumlah tersebut tiga hari sekali.
"Sangat jauh sekali. Jika dahulu booming sekarang terpuruk. Tapi pabrik senasib seperti saya, tidak pantang menyerah," tambahnya.
Seingatnya, awal Januari 2009 lalu, ia bersama dengan rekan sesama pengusaha rokok kecil mengikuti sosialisasi. Difasilitasi Dinas Perekonomian, Koperasi, dan UKM (dahulunya Disperindagkop Kudus), dari situlah cikal bakal terbentuknya asosiasi bagi mereka.
Ide terbentuknya memang secara bersama-sama. Karena selama ini, permasalahan tentang unek-unek perusahaan kecil itu tidak ada yang didengar jika tidak dibuatkan sebuah komunitas.
"Langsung saat itu juga sepakat kami bentuk organisasi. Namun memilih nama pun kami sempat kebingungan," tambahnya.
Pernah ada usulan tentang forum perusahaan rokok kudus (FPRK), karena beberapa alasan, nama tersebut tidak cocok untuk komunitasnya. Dipikirkan ulanglah nama tentang asosiasi perusahaan rokok (Asper).
"Akhirnya berujung pada nama komunitas perusahaan rokok kudus (Koperku). Walaupun yang tergabung kami adalah rokok sangat kecil, tapi kami tidak menyertakan kecilnya itu," ujar pria yang didaulat menjadi Ketua Koperku.
Dikarenakan ibarat pepatah, gantungkanlah cita-citamu setinggi langit, diadopsikanlah itu kepada para anggotanya. Berusaha semaksimal mungkin hingga menjadi perusahaan besar. Kini mereka berjuang supaya tidak gulung tikar. (bersambung)