MALANG - Ratusan rumah di Desa Mendalanwangi dan Desa Sitirejo, Wagir, kemarin sore diterjang angin puting beliung. Dari data sementara
, 10 rumah rusak total serta ratusan lainnya rusak ringan. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian yang berlangsung pukul 15.00 itu. Kerugian akibat bencana ini sendiri diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Dari pantauan di lokasi kejadian, ratusan rumah serta puluhan fasilitas umum, seperti, musala, masjid, sekolah, jaringan telepon, dan listrik rusak berat. Hingga tadi malam lokasi bencana masih gelap gulita karena jaringan listrik belum diperbaiki.
Menurut warga, angin puting beliung berlangsung selama kurang lebih 4 menit. Peristiwa itu terjadi saat warga sedang istirahat di rumah. "Awalnya langit mendung dan gerimis, lalu hujan es,'' kata Ramu, 45, warga RT 01/RW 01 yang rumahnya rusak akibat terpaan angin.
Sesaat kemudian, muncul beberapa titik pusaran angin. Semakin lama titik pusaran angin itu semakin membesar. Beberapa warga yang mengetahui adanya bahaya angin puting beliung langsung keluar rumah berteriak-teriak kepada warga lain untuk segera meninggalkan rumah.
Tak pelak, kepanikan tejadi menjelang detik-detik amukan puting beliung. Ratusan warga, terutama ibu-ibu dan anak-anak berlari sambil menangis untuk menyelamatkan diri di bawah guyuran hujan. Laju angin makin kencang dan tak terkendali hingga akhirnya menyapu semua benda yang dilalui. "Pohon, tiang listrik, tiang telepon, serta bangunan rumah disapu habis,'' ujar Ramu.
Kerusakan dua desa itu sama parahnya. Di Dusun Santren, Mendalanwangi, angin menumbangkan pohon serta menimpa rumah yang ada didekatnya hingga ambruk. Untungnya penghuni rumah, Miswari, 38, sempat menyelematkan diri sebelum rumahnya tertimpa puluhan bambu yang tumbuh di depan rumahnya.
Demikian juga kondisi di Perumahan Madu Sari Permai di Desa Sitirejo. Sebuah bangunan bengkel mobil semipermanen ambruk dan menimpa dua mobil Isuzu Panther dan Daihatsu Hijet 1000 yang direparasi. Sugeng, 45, pemilik bengkel mobil mengatakan, sebelum bengkelnya ambruk, dia sempat menyelamatkan diri. Sayangnya, Wahyu pemilik salah satu mobil sempat terjebak di dalam bengkel sebelum akhirnya bisa menyelamatkan diri.
Kerusakan sama juga dialami Masjid Jamik Ulul Azmi Desa Mendalanwangi. Kubah masjid berdiameter sekitar 4 meter itu terlepas dari bangunan induk. Tentu saja kejadian itu mengagetkan sejumlah warga yang sedang Salat Ashar berjamaah. Kondisi sama juga dialami oleh Musala Al Ikhlas di Dusun Santren, Mendalanwangi. Genteng musala berterbangan saat angin menerjang.
Beberapa menit setelah kejadian, kondisi di dua desa terkena dampak bencana sangat menyedihkan. Puluhan pohon, tiang listrik dan telrpon, serta papan reklame tampak berserakan di tengah jalan dan menimpa rumah. Suara tangisan ibu dan anak-anak yang rumahnya rusak terdengar di setiap sudut jalan desa. "Kami tidak tahu dengan biaya apa kami harus membenahi rumah. Karena sekarang kami tidak punya uang sama sekali, suami saya sedang sakit parah,'' ungkap Watini, 43, sambil sesenggukan menyaksikan rumahnya ambruk tertimpa pohon.
Camat Wagir Mardianto mengatakan, hingga petang kemarin pendataan masih dilakukan. "Kami mendata rumah warga yang rusak dan korban luka-luka. Hasil akhir pendataan masih belum bisa kami berikan,'' katanya. Hingga pukul 20.30, pendataan masih berlangsung. Begitu pula kerugian yang derita warga.
Sedangkan kejadian kemarin itu sendiri merupakan kali kedua di wilayah kabupaten setelah pada Kamis (9/10) lalu angin puting beliung juga mengamuk di Dusun Putuk, Desa Ngadireso, Poncokusumo. Dari kejadian tersebut beberapa rumah mengalami rusak. Sehari setelahnya angin puting beliung juga menerpa wilayah Sumberbrantas, Batu. Tak ada kerusakan yang berarti, hanya beberapa kios semipermanen di kawasan wisata Cangar rusak diterpa angin.
Satlak Dirikan Dapur Umum
Satuan Pelaksana (Satlak) Penanggulangan Bencana Kabupaten Malang akan mendirikan dapur umum serta tempat pengungsian bagi korban. Mengingat ratusan warga yang terkena bencana belum bisa menempati rumahnya karena mengalami kerusakan.
Ketua Harian Satlak Penanggulangan Bencana Kabupaten Malang Rendra Kresna menjelaskan, pihaknya telah menerjunkan tim untuk membantu warga yang terkena bencana. "Satpol PP serta anggota sandi dan telekomunikasi (sanditel) langsung membantu mengondisikan situasi di lapangan," jelas dia.
Menurut dia, pemkab akan membantu korban bencana sesuai besar kecilnya kerugian yang diderita. "Satlak nanti akan langsung mendata. Untuk anggaran sudah siap di APBD. Tahun ini anggaran bencana dialokasikan Rp 3,5 miliar," terang Rendra yang juga Wakil Bupati Malang ini.
Menurut Rendra, seperti pengalaman dalam penangana bencana sebelumnya, satlak telah mampu menjalankan tugas dengan cepat. Alasan dia, bencana di kabupaten hampir selalu ada setiap pergantian musim. "Jadi kami selalu waspada. Kami harap masyarakat juga demikian," ujarnya.
Untuk bantuan kepada korban, dia meminta pihak-pihak yang terkait langsung dengan teknis pencairan anggaran bisa bekerja cepat. Dia tidak ingin pencairan anggaran bencana berbelit-belit, mengingat kejadiannya sudah jelas dan dananya juga sudah ada.
Sedangkan Kepala Sanditel Kabupaten Malang Subagyo menambahkan bahwa anggotanya sudah ada di lapangan untuk membantu korban bencana. Disinggung lebih jauh langkah yang dilakukan di lokasi bencana, dia mengaku belum berkoordinasi dengan bagian kesra dan kesbang linmas.
Alasannya, saat dihubungi kemarin sore dia sedang mengikuti persiapan penyambutan Presiden ke Batalyon Kesehatan (Yonkes) Divisi 2 Kostrad di Karangploso yang berlangsung hari ini. Menurut dia, usai persiapan penyambutan Presiden pihaknya langsung berkonsentrasi pada penanganan bencana. Hanya saja, pihaknya telah mendirikan tenda untuk menampung pengungsi, dapur umum, tempat logistik, serta pelayanan kesehatan. "Terkait jumlah tenaga serta teknis lainnya belum kami bahas," jelas dia.
Sementara Plt Kepala Satpol PP Kabupaten Malang Neis Sulistyowati mengatakan bahwa untuk mengantisipasi hal serupa di wilayah kabupaten, pihaknya akan mendirikan posko monogram di 33 kecamatan. Begitu ada bencana, petugas yang ada di posko kecamatan langsung melaporkan ke posko pusat di pendapa. "Kami ingin kecepatan informasi bencana itu untuk menyiapkan persiapan penanganan," terang dia.
Sedangkan anggota Komisi B DPRD Kabupaten Malang Hikmah bafaqih mendesak tim satlak bekerja cepat. Karena, berdasarkan pengalaman, kerap kali tim ini justru lambat untuk menangani bencana di lapangan. Utamanya saat mencairkan anggaran.
Padahal, ketika bencana terjadi, bantuan dana itu sangat dibutuhkan masyarakat yang terkena bencana. "Mereka itu bingung dan tidak bisa bekerja," kata politisi PKB ini. Hikmah juga meminta para anggota dewan dari dapil daerah bencana untuk ikut memantau penanganan korban. (mas/lid/ziz)